Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama dr. Gia Pratama saat meninjau pelaksanaan skrining Tuberkulosis (TB) dengan rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanPemerintah akan memperluas skrining Tuberkulosis (TB) ke pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mempercepat penemuan dan penuntasan kasus TB.Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menargetkan skrining tersebut dapat menjangkau 42 ribu pesantren.Hal itu disampaikan Budi saat meninjau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB menggunakan rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8).Budi menjelaskan, proses skrining TB selama ini membutuhkan waktu lama karena pemeriksaannya cukup sulit. Menurutnya, pemeriksaan terkadang juga membutuhkan tes seperti Polymerase Chain Reaction (PCR).“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang screening-nya sering sangat lama. Karena susah, pakai X-ray. Kadang-kadang mesti pakai tes seperti PCR dulu,” kata Budi.Suasana santri mengikuti pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining Tuberkulosis (TB) di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanUntuk mempercepat proses skrining, Kemenkes akan membeli ribuan alat X-ray yang dapat dibawa ke berbagai lokasi.“Nah, sekarang dengan teknologi baru, X-ray itu bisa dibawa ke mana-mana. Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, agar bisa melakukan screening atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, ke lapas-lapas terutama yang memang tidurnya rapat-rapat, banyak, seperti berasrama seperti ini,” papar Budi.Dalam kesempatan itu, Budi juga berharap skrining TB di Pondok Pesantren Tebuireng dapat diperluas ke pesantren-pesantren lainnya di Indonesia.“Jadi saya terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42 ribu pesantren lainnya,” tandas Budi.