AAP: Anak Perlu Dilatih Meditasi Meski Belum Bisa Duduk Tenang

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak balita bermain balok sambil duduk di dalam rumah. Foto: Shutter StockAnak juga bisa merasa lelah dan stres setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari. Sekolah, tugas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga interaksi sosial bisa membuat anak membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri.Salah satu cara yang bisa diperkenalkan orang tua adalah meditasi atau latihan mindfulness. Praktik sederhana seperti duduk tenang, mengatur napas, dan memusatkan perhatian pada apa yang sedang dirasakan dapat membantu anak belajar mengenali dan mengelola dirinya.American Academy of Pediatrics (AAP) juga mendorong orang tua untuk memperkenalkan praktik meditasi kepada anak. Di lingkungan sekolah, latihan mindfulness juga dapat menjadi bagian dari kegiatan yang membantu anak mengembangkan perhatian dan kemampuan mengelola stres.Apa Manfaat Meditasi untuk Anak?Meditasi tidak harus dilakukan dalam waktu lama atau dengan cara yang rumit. Bahkan, latihan sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk berhenti sejenak dari berbagai stimulasi di sekitarnya.Sejumlah penelitian mengenai mindfulness pada anak dan remaja menunjukkan potensi manfaat terhadap beberapa aspek kesehatan dan kesejahteraan, di antaranya:1. Membantu anak lebih fokusLatihan mindfulness mengajak anak untuk memusatkan perhatian pada satu hal, misalnya napas. Ketika perhatian mereka teralihkan, anak dilatih untuk menyadarinya dan perlahan kembali fokus.Kemampuan tersebut juga dapat membantu anak dalam aktivitas sehari-hari yang membutuhkan konsentrasi.2. Membantu mengelola stres dan emosiSaat menghadapi situasi yang membuat kesal, takut, atau cemas, anak dapat belajar menggunakan napas sebagai cara untuk menenangkan diri.Kebiasaan berhenti sejenak dan menarik napas dalam sebelum merespons sesuatu juga dapat membantu anak belajar mengenali emosinya.3. Mendukung kesehatan mentalBeberapa penelitian menemukan bahwa latihan mindfulness berpotensi membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta meningkatkan fungsi psikologis pada anak dan remaja.Namun, meditasi bukan pengganti penanganan profesional bila anak mengalami masalah kesehatan mental. Jika orang tua melihat perubahan perilaku atau kondisi emosional yang mengkhawatirkan, konsultasi dengan dokter atau tenaga profesional tetap diperlukan.4. Membantu anak lebih rileksLatihan pernapasan dapat membantu tubuh berada dalam kondisi yang lebih tenang. Karena itu, orang tua juga bisa mengenalkan latihan pernapasan sederhana menjelang waktu tidur sebagai bagian dari rutinitas malam.Tidak Harus Duduk Diam LamaIlustrasi anak duduk. Foto: Shutter StockMembayangkan meditasi mungkin identik dengan duduk bersila, memejamkan mata, dan tidak bergerak dalam waktu lama. Padahal, praktik mindfulness untuk anak tidak harus seperti itu.Bagi anak yang sulit duduk diam, aktivitas berbasis gerakan seperti yoga dapat menjadi pilihan. Yang terpenting adalah membantu anak mengarahkan perhatian pada tubuh, napas, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Orang tua juga bisa memulainya dengan latihan yang sangat sederhana.Misalnya, ajak anak duduk dengan nyaman dan mengambil beberapa napas perlahan. Minta ia memperhatikan bagaimana udara masuk dan keluar dari tubuh. Jika pikirannya terdistraksi, tidak perlu dimarahi atau dipaksa untuk kembali fokus. Cukup ajak perlahan memperhatikan napas lagi.Berapa Lama Anak Perlu Bermeditasi?Tidak ada durasi yang wajib diterapkan untuk semua anak. Kemampuan berkonsentrasi setiap anak pun berbeda.Mengutip panduan AAP melalui Healthy Children, dokter anak umumnya merekomendasikan:- Anak prasekolah: beberapa menit per hari.- Anak usia sekolah dasar: sekitar 3–10 menit, hingga dua kali sehari.- Remaja dan orang dewasa: sekitar 5–45 menit per hari atau sesuai kebutuhan dan preferensi.Namun, orang tua tidak perlu menjadikan durasi sebagai target yang harus dicapai. Untuk anak yang baru mengenal meditasi, beberapa menit saja sudah bisa menjadi awal yang baik.Tips Mengenalkan Meditasi kepada AnakAgar meditasi tidak terasa seperti kewajiban tambahan, orang tua bisa memasukkannya ke dalam rutinitas sehari-hari.Mulai dari hal sederhana. Ajak anak mengambil beberapa napas dalam sebelum tidur, sebelum menghadapi ujian, atau ketika sedang merasa kesal.Jangan memaksa anak untuk diam. Jika anak sulit duduk tenang, coba latihan mindfulness sambil melakukan aktivitas sederhana, seperti berjalan perlahan atau melakukan peregangan.Jadikan contoh. Anak dapat lebih mudah mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang tuanya. Sesekali, cobalah melakukan latihan pernapasan bersama.Tidak perlu menuntut kesempurnaan. Pikiran anak yang mudah teralihkan adalah hal yang wajar. Tujuan latihan bukan membuat anak tidak berpikir, melainkan mengajarinya menyadari ketika perhatian teralihkan dan mengarahkannya kembali.Pilih waktu yang nyaman. Meditasi bisa dilakukan menjelang tidur atau pada waktu lain ketika suasana rumah lebih tenang.Pada akhirnya, meditasi bukan tentang membuat anak selalu tenang atau tidak pernah mengalami emosi negatif. Justru, latihan ini dapat menjadi salah satu cara untuk membantu anak mengenali apa yang sedang ia rasakan dan belajar meresponsnya dengan lebih tenang.Jadi, jika hari anak terasa begitu penuh, tidak ada salahnya mengajaknya berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang bagi tubuh serta pikirannya untuk beristirahat.