Susana di tempat pengungsian Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparanGempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, NTT, masih menyisakan dampak bagi warga. Di Manggarai, banyak warga mengungsi karena rumah mereka rusak.Salah satu lokasi pengungsian terbesar berada di Mata Air Barang Kolong, Reo, Kabupaten Manggarai, NTT. Lebih dari 1.000 warga berada di lokasi tersebut.Pantauan kumparan pada Minggu (16/8), perjalanan menuju tempat pengungsian di Reo dimulai dari Kota Ruteng, Manggarai. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam.Dari Ruteng, rombongan harus menuruni kawasan perbukitan menuju Reo. Jalan yang dilalui berkelok-kelok dengan sejumlah titik yang berada di kawasan rawan longsor.Susana di tempat pengungsian Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparanSepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa. Sebagian bangunan bahkan tampak roboh. Di sejumlah titik, warga juga terlihat masih membersihkan puing-puing bangunan yang runtuh.Tenda-tenda yang didirikan secara mandiri oleh warga juga terlihat di sepanjang perjalanan. Mereka memilih tetap bertahan di sekitar rumah dan tidak mengungsi ke posko di Reo.Tenda tersebut dibuat sederhana, sebagian hanya menggunakan terpal sebagai atap dengan alas karpet seadanya.Perjalanan menuju Reo juga tak sepenuhnya mulus. Sejumlah ruas jalan terlihat tertutup material tanah dan batu akibat longsor. Petugas kepolisian yang mengawal rombongan menyebut jalur tersebut sempat lumpuh total karena tertutup material longsor.Rombongan kemudian melewati Jembatan Wae Pesi, jembatan terakhir sebelum memasuki wilayah Reo. Saat melintas, rombongan sempat dihentikan warga yang belum mendapatkan bantuan.Rombongan sempat diberhentikan warga yang belum mendapatkan bantuan saat hendak menuju tempat pengungsian di Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparanWarga kemudian berdialog dengan polisi yang mengawal rombongan. Setelah berdiskusi, rombongan diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Namun, warga meminta agar kondisi mereka yang belum mendapatkan bantuan turut disampaikan saat tiba di Reo.Setibanya di Reo, suasana pengungsian terlihat ramai. Ratusan warga berkumpul di tengah lapangan yang berada di samping sebuah sekolah yang juga terdampak gempa.Lapangan tersebut menjadi tempat warga bertahan setelah gempa merusak rumah-rumah mereka. Di tengah kondisi tersebut, aktivitas warga di lokasi pengungsian tetap berjalan, dapur-dapur umum hingga posko kesehatan juga telah beroperasi dari hari pertama.