Sejumlah penumpang menunggu kedatangan kereta cepat di Stasiun kereta Shanghai Hongqiao, China, Jumat (24/1/2025). Foto: Go Nakamura/REUTERSPasar tenaga kerja di China kembali menghadapi tantangan berat. Tingkat pengangguran kelompok usia 16 hingga 24 tahun di Negeri Tirai Bambu itu dilaporkan melonjak menjadi 17,9 persen pada Juli 2026. Kenaikan tajam ini terjadi seiring dengan membanjirnya jutaan lulusan universitas ke pasar kerja yang tengah mengalami kelesuan.Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (19/8), berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS) China, angka tersebut naik signifikan sebesar 3 poin persentase dibandingkan bulan Juni yang berada di level 14,9 persen.Lonjakan ini mengakhiri tren penurunan yang sempat terjadi selama tiga bulan berturut-turut. Peningkatan ini juga bertepatan dengan musim kelulusan yang mencetak rekor baru, di mana sekitar 12,7 juta lulusan baru mulai mencari pekerjaan, atau naik 4 persen dibandingkan tahun lalu.Di sisi lain, kondisi ekonomi China yang melambat membuat banyak perusahaan lebih memilih untuk melakukan penghematan. Akibatnya, banyak korporasi yang memangkas jumlah karyawan hingga menghentikan proses rekrutmen. Fenomena ini pun memaksa pemerintah di Beijing memutar otak dan memperkuat dukungan lapangan kerja bagi generasi muda.Beijing telah merilis berbagai kebijakan strategis untuk mengatasi krisis ini.Salah satunya adalah pemberian subsidi rekrutmen bagi perusahaan yang bersedia menampung lulusan baru. Selain itu, pemerintah juga mendesak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membuka lebih banyak lowongan.Baru-baru ini, kementerian terkait bahkan menginstruksikan pemerintah daerah agar memprioritaskan lulusan universitas untuk mengisi posisi di tingkat komunitas serta memberikan insentif bagi lembaga sosial yang aktif melakukan perekrutan.Di tengah persaingan yang kian sengit, banyak lulusan yang mulai mengubah strategi karier mereka. Sebagian memilih untuk mengamankan posisi di sektor publik yang dikenal sebagai ‘mangkuk nasi besi’ karena stabilitasnya yang terjamin. Sementara itu, sebagian lainnya memilih menunda masuk ke dunia kerja dengan melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana demi memperkuat resume mereka.Ilustrasi jalanan di China. Foto: MikeDotta/ShutterstockClare Wang, seorang lulusan desain produk berusia 22 tahun, mengaku lebih memilih melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Ia merasa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk bersaing di perusahaan besar yang kini secara eksplisit mensyaratkan gelar magister. Wang juga merasa kurang percaya diri untuk mendapatkan pekerjaan tingkat awal dengan gaji 6.000 yuan atau sekitar Rp 13 juta per bulan di tengah ketatnya kualifikasi saat ini.Kesulitan serupa ternyata juga dirasakan oleh lulusan universitas luar negeri. Vikey Zhao, pemegang gelar Master dari University of Warwick, Inggris, menceritakan betapa tingginya standar rekrutmen saat ini. Meski memiliki gelar dari luar negeri, ia harus mengirimkan puluhan lamaran selama enam bulan sebelum akhirnya diterima di sebuah perusahaan BUMN.Menurut Zhao, banyak rekannya yang bernasib lebih malang dengan mengirimkan ratusan lamaran namun hanya mendapatkan satu atau dua panggilan wawancara.“Standar untuk mendapatkan pekerjaan telah meningkat secara signifikan. Bahkan untuk posisi tingkat pemula, hampir semua pesaingnya adalah lulusan master dari universitas-universitas papan atas di dalam negeri,” ujar Vikey Zhao.Krisis ini tidak hanya menyasar kelompok usia muda. Data NBS mencatat tingkat pengangguran untuk kelompok usia 25 hingga 29 tahun juga mengalami kenaikan tipis menjadi 7,2 persen pada Juli.Secara keseluruhan, tingkat pengangguran perkotaan di China naik ke angka 5,2 persen, menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang meluas di berbagai sektor di Negeri Panda tersebut.