Hal yang Tampak Aneh pada Anak 3 Tahun padahal Sebenarnya Normal

Wait 5 sec.

Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: BaLL LunLa/ShutterstockMemasuki usia 3 tahun, anak mungkin mulai menunjukkan berbagai perilaku yang membuat orang tua bertanya-tanya. Mulai dari suka mengupil, meminta dibacakan buku yang sama berulang kali, sampai tiba-tiba berteriak padahal beberapa detik sebelumnya sedang tertawa.Bagi orang dewasa, perilaku tersebut mungkin terlihat aneh atau bahkan menggemaskan sekaligus bikin bingung. Namun, beberapa di antaranya ternyata dapat berkaitan dengan proses perkembangan anak.Pada usia ini, anak sedang belajar memahami lingkungan, mengembangkan kemampuan bahasa, menunjukkan kemandirian, sekaligus belajar mengenali dan mengatur emosinya. Jadi, tidak semua perilaku yang terlihat "aneh" merupakan tanda adanya masalah.Berikut beberapa perilaku anak usia 3 tahun yang mungkin sering membuat orang tua bingung dan penjelasan di baliknya.1. Suka MengupilIlustrasi anak mengupil. Foto: Shutter StockMelihat anak mengupil mungkin membuat orang tua spontan berkata, "Jangan ngupil!"Namun, kebiasaan ini sebenarnya cukup umum pada anak. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut mengupil sebagai salah satu kebiasaan yang banyak muncul pada masa kanak-kanak, terutama sekitar usia 3–6 tahun.Mengupil bisa menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar. Pada sebagian anak, perilaku berulang seperti ini juga dapat memberikan rasa nyaman atau membantu mengurangi ketegangan.Karena itu, memarahi atau mempermalukan anak bukan cara terbaik untuk menghentikannya. Orang tua dapat mengajarkan kebiasaan yang lebih bersih secara perlahan, misalnya menggunakan tisu ketika hidung terasa tidak nyaman dan mencuci tangan setelahnya.2. Minta Dibacakan Buku yang Sama Berkali-kali"Yang itu lagi? Kan sudah dibaca kemarin!"Kalimat ini mungkin familiar bagi orang tua yang memiliki anak usia 3 tahun. Anak bahkan bisa meminta cerita yang sama setiap hari sampai orang tua hafal seluruh jalan ceritanya.Meski membosankan bagi orang dewasa, pengulangan justru dapat membantu proses belajar anak.Sebuah penelitian terhadap anak usia 3 tahun menemukan bahwa anak yang mendengarkan cerita yang sama berulang kali menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengingat dan mempertahankan kata-kata baru dibandingkan anak yang mendengarkan cerita berbeda dengan jumlah paparan kata yang sama.Penelitian lain terhadap anak prasekolah juga menemukan bahwa membaca buku cerita secara berulang dapat membantu pemerolehan kosakata, baik dalam memahami maupun menggunakan kata-kata baru.Jadi, ketika si kecil kembali membawa buku favoritnya, sebenarnya ia mungkin sedang berkata, "Aku mau belajar lagi."3. Baru Tertawa, Tiba-tiba BerteriakIlustrasi Balita Menangis Foto: Mygate/ShutterstockAnak sedang tertawa, lalu tiba-tiba berteriak. Beberapa saat kemudian bisa kembali bermain seperti biasa.Perubahan emosi yang cepat seperti ini memang dapat membuat orang tua bingung. Namun, salah satu hal yang perlu diingat adalah kemampuan anak dalam mengatur emosi masih berkembang.Pada usia 3 tahun, anak sudah mulai mampu mengikuti aturan sederhana, menunjukkan perhatian terhadap teman, dan melakukan percakapan singkat. Namun, kemampuan untuk mengelola emosi yang kuat masih membutuhkan banyak bantuan dari orang dewasa.Karena itu, ekspresi emosi anak bisa terasa lebih besar dan berubah lebih cepat dibandingkan orang dewasa.Alih-alih langsung melabeli anak sebagai "dramatis" atau "suka bikin masalah," orang tua bisa membantu dengan memberi nama pada emosinya.Misalnya, "Kamu kelihatannya senang banget sampai teriak, ya?" atau "Tadi kamu tertawa, sekarang kamu kesal. Mama lihat."Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali apa yang sedang ia rasakan.4. Bilang "Mau!" Lalu Beberapa Menit Kemudian "Nggak Mau!"Ilustrasi gerakan tutup mulut (GTM) yang terjadi pada anak. Foto: ShutterstockAnak minta pisang. Setelah dikupas, malah bilang tidak mau.Minta memakai baju tertentu, tetapi setelah dipakaikan justru ingin menggantinya.Perubahan keputusan seperti ini juga bisa menjadi bagian dari proses anak belajar menjadi lebih mandiri.Di usia 3 tahun, anak semakin sadar bahwa dirinya memiliki keinginan dan pilihan sendiri. Namun, kemampuan berpikir, mengendalikan impuls, dan mengatur emosi belum berkembang sepenuhnya.Akibatnya, apa yang diinginkan anak bisa berubah dengan cepat.Bukan berarti setiap permintaan harus dituruti. Orang tua tetap dapat memberikan batasan sambil memberi pilihan sederhana.Misalnya, "Kamu mau pakai baju biru atau kuning?"Memberikan pilihan terbatas dapat membantu anak merasa memiliki kendali tanpa membuat orang tua kehilangan batasan.5. Harus Melakukan Sesuatu dengan Urutan yang SamaSarapan harus menggunakan piring tertentu.Setelah mandi harus memakai handuk yang sama.Sebelum tidur harus membaca buku dulu.Kalau urutannya berubah sedikit saja, anak bisa langsung protes.Bagi orang tua, ini mungkin terlihat seperti anak terlalu kaku. Namun, rutinitas dapat membantu anak memahami apa yang akan terjadi selanjutnya dan membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih mudah diprediksi.Pada usia 3 tahun, anak juga sedang mengembangkan kemampuan memahami aturan dan mengikuti rutinitas. Karena itu, pola yang konsisten dapat membuat mereka merasa lebih aman dan membantu mereka belajar menjalani aktivitas sehari-hari.Jadi, kalau si kecil bersikeras dengan rutinitas tertentu, tidak selalu berarti ia sedang "keras kepala". Bisa jadi ia sedang belajar memahami dunia melalui pola yang berulang.6. Bertanya "Kenapa?" Berkali-kali"Kenapa hujan?""Karena ada awan.""Kenapa ada awan?""Karena...""Kenapa?"Dan pertanyaan berikutnya seolah tidak ada habisnya. 😅Pada usia sekitar 3 tahun, kemampuan bahasa anak berkembang pesat. Mereka mulai mampu melakukan percakapan lebih panjang, mengajukan pertanyaan, dan menggunakan kata-kata untuk memahami dunia di sekitarnya.Jadi, rentetan pertanyaan "kenapa" bukan sekadar usaha menguji kesabaran orang tua.Anak memang sedang mencari hubungan antara satu hal dengan hal lainnya.Tidak perlu selalu memberikan jawaban panjang. Jawaban sederhana yang sesuai usia, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan balik seperti "Menurut kamu kenapa?" dapat menjadi kesempatan untuk mengajak anak berpikir dan berbicara.Jadi, Perlukah Khawatir dengan Perilaku Anak?Perilaku yang terlihat tidak biasa tidak otomatis berarti ada masalah perkembangan.Yang lebih penting adalah melihat seberapa sering perilaku tersebut terjadi, seberapa intens, dan apakah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, interaksi sosial, atau kemampuan anak untuk belajar dan bermain.Orang tua juga tidak perlu membandingkan anak dengan anak lain. Setiap anak dapat mencapai kemampuan perkembangannya dengan kecepatan yang berbeda.Jadi, ketika anak 3 tahun kembali mengupil, meminta buku favoritnya dibacakan untuk kesekian kalinya, atau tiba-tiba berteriak setelah tertawa, mungkin yang sedang terjadi bukanlah sesuatu yang "aneh".Bisa jadi, ia hanya sedang bertumbuh, belajar, dan mencari tahu bagaimana dunia bekerja.Dan ya, prosesnya memang kadang bikin orang tua mengelus dada. 😅