Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Pavel Mikheyev/REUTERSHarga minyak dunia ambruk setelah sempat melonjak selama perang di Iran. Kini, pelaku pasar justru menghadapi kekhawatiran baru soal potensi kelebihan pasokan minyak global.Mengutip Bloomberg pada Minggu (5/7), harga minyak mentah Brent telah anjlok sekitar 43 persen dari puncaknya yang tercapai pada akhir April lalu. Sejumlah analis dari Morgan Stanley hingga Goldman Sachs melihat dengan kondisi pasar minyak tersebut, terdapat risiko surplus pada tahun depan.“Saat ini sentimen pasar sangat bearish,” kata Kitt Haines, Kepala Divisi Minyak di Energy Aspects.Lonjakan pasokan minyak itu juga membuat kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah hampir sepenuhnya hilang.Namun demikian, bagi negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC,, situasi tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru. Jika sebelumnya OPEC berfokus pada seberapa cepat produksi dapat dipulihkan, kini pertanyaannya bergeser menjadi apakah mereka harus kembali memangkas produksi demi menopang harga minyak, atau justru bersiap menghadapi persaingan merebut pangsa pasar.Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy yang sebelumnya bekerja di Sekretariat OPEC, Jorge Leon, mengatakan normalisasi arus minyak melalui Selat Hormuz memang akan menjadi tantangan besar bagi OPEC+.“Tantangan sesungguhnya muncul ketika arus pengiriman telah normal, persediaan kembali meningkat, dan kelompok ini harus beralih dari menambah produksi menjadi mempertahankan pasar. Saat itulah pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak OPEC+ bisa memproduksi, tetapi siapa yang bersedia memangkas produksi,” ujarnya.Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: anatoliy_gleb/ShutterstockDi samping itu, analis senior Kpler, Homayoun Falakshahi menilai penurunan harga yang lebih tajam dalam siklus penjualan minyak Timur Tengah berikutnya bisa menarik kembali pembeli dari China.“Minyak Iran masih sulit terjual meski sudah mendapat pengecualian sanksi. Bahkan di China, minyak dari Uni Emirat Arab dan Irak kini lebih murah daripada minyak Iran. Untuk memulihkan pasar, China harus kembali membeli. Namun saya rasa kita sudah mendekati titik terendah harga,” kata Falakshahi.Saat ini, China masih memangkas impor sekitar 5 juta barel per hari dibandingkan sebelum perang. Kondisi itu membuat berbagai jenis minyak yang biasanya dibeli kilang China diperdagangkan dengan diskon besar.Harga minyak Oman misalnya yang didiskon sekitar USD 4 per barel terhadap harga minyak dubai atau menjadi diskon terbesar sejak 2020. Sementara minyak Djeno asal Republik Kongo bahkan ditawarkan dengan diskon USD 14 per barel terhadap Brent.“Pembeli dari China masih sangat minim. Tanpa kembalinya permintaan China secara signifikan, tambahan pasokan hanya akan memperbesar surplus yang mulai terbentuk,” tulis analis Citigroup yang dipimpin Francesco Martoccia.Salah satu pemicu utama meningkatnya pasokan minyak dunia secara keseluruhan adalah kembali terbukanya Selat Hormuz. Setelah jalur pelayaran tersebut kembali beroperasi, lebih dari 60 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan akibat perang mulai masuk ke pasar global.