China Bikin Hujan Buatan dari Atap Gedung, Suhu Turun 8°C dalam Hitungan Menit

Wait 5 sec.

Komplek apartemen di Kota Yuncheng, Provinsi Shanxi, China, memasang sistem 'hujan buatan' untuk menurunkan suhu di tengah gelombang panas. Foto: VioryGelombang panas yang juga melanda China mendorong berbagai kota mencari cara baru untuk menjaga kenyamanan warganya. Salah satu solusi yang kini menarik perhatian dunia datang dari Kota Yuncheng, Provinsi Shanxi, di China utara, yang menggunakan 'hujan buatan'.Kompleks apartemen bertingkat di kota tersebut memasang sistem penyemprot air di atap gedung. Ketika diaktifkan, nozel bertekanan tinggi menyemburkan hujan air berukuran sangat halus yang membentuk awan kabut dan menyelimuti area sekitar bangunan.Video yang memperlihatkan kabut tebal turun dari atap gedung hingga mendinginkan jalan dan area pejalan kaki menjadi viral di media sosial. Pemandangan itu memicu perhatian internasional di tengah meningkatnya kebutuhan kota-kota dunia untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.Menurut laporan India Today, teknologi ini memanfaatkan prinsip ilmiah yang dikenal sebagai evaporative cooling, atau pendinginan melalui penguapan.Air disemprotkan dalam bentuk butiran yang sangat kecil sehingga cepat menguap ketika bertemu udara panas. Proses penguapan tersebut menyerap panas dari udara di sekitarnya, sehingga suhu lingkungan ikut menurun. Mekanismenya serupa dengan cara keringat mendinginkan tubuh manusia.Media China melaporkan sistem tersebut mampu menurunkan suhu udara dan permukaan hingga sekitar 5 hingga 8 derajat Celsius dalam hitungan menit ketika suhu luar ruangan mendekati 38 derajat Celsius.Karena ukuran butiran air sangat kecil, kabut menguap sebelum sempat membasahi jalan maupun pejalan kaki. Dengan demikian, efek pendinginan dapat diperoleh tanpa membuat lingkungan sekitar menjadi basah.Dari sisi konsumsi energi, sistem ini juga dinilai lebih hemat dibanding pendingin udara konvensional. Operasionalnya hanya membutuhkan air, pompa, dan nozzle bertekanan tinggi, sehingga penggunaan listrik jauh lebih rendah daripada sistem AC.Teknologi serupa sebenarnya telah diterapkan di sejumlah kota di China. Sistem kabut pendingin digunakan di taman kota, alun-alun, kawasan pejalan kaki, hingga halte bus selama musim panas.Inovasi ini muncul ketika China menghadapi gelombang panas yang semakin sering dan berlangsung lebih lama. Para ilmuwan mengaitkan kondisi tersebut dengan perubahan iklim yang meningkatkan intensitas cuaca ekstrem.Selain itu, kota-kota besar juga menghadapi fenomena urban heat island, atau pulau panas perkotaan. Bangunan, jalan, dan permukaan beton menyerap panas pada siang hari lalu melepaskannya secara perlahan, sehingga suhu kawasan perkotaan menjadi lebih tinggi dibanding wilayah pedesaan di sekitarnya.Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal di kawasan permukiman padat semakin rentan terhadap suhu ekstrem, terutama jika tidak memiliki akses terhadap sistem pendingin ruangan yang memadai.Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyebut proyek di Shanxi sebagai salah satu contoh upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui inovasi perkotaan.Meski demikian, sebagian ahli mengingatkan perlunya memperhatikan penggunaan air, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber daya air. Pendukung teknologi ini menilai konsumsi air relatif rendah karena sebagian besar kabut langsung menguap sesaat setelah disemprotkan.Proyek di Shanxi menjadi bagian dari tren global dalam mengembangkan solusi pendinginan kota yang hemat energi. Seiring gelombang panas yang diperkirakan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, sistem penyemprot kabut di atap gedung berpotensi menjadi salah satu teknologi yang semakin banyak diterapkan di kawasan perkotaan.