Gunung Merapi Keluarkan 1 Awan Panas Guguran dan 21 Guguran Lava dalam Sehari

Wait 5 sec.

Kondisi Gunung Merapi, Senin (5/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanBalai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan Minggu (5/7).Dalam 24 jam aktivitas Merapi, BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran dan 21 guguran lava.Awan panas guguran terjadi pada sore hari."Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi Minggu, 05/07/2026, pukul 17:17 WIB. Estimasi jarak luncur (awan panas guguran) tidak dapat ditentukan dengan amplitudo maks 46,09 mm durasi 121,86 detik mengarah ke barat daya (hulu Kali Sat/Putih)," jelas keterangan resmi BPPTKG.Sementara itu, 21 guguran lava yang terjadi dalam periode ini memiliki jarak luncur terjauh mencapai 2 kilometer."Teramati 21 kali guguran lava ke arah barat daya Kali Sat/Putih Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," katanya.Gunung tersebut sampai saat ini masih berstatus level III atau siaga.Potensi bahaya dari status ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya yaitu Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.Lalu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.Apabila terjadi letusan eksplosif maka lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.Berbahaya untuk PendakianRelawan berkomunikasi dengan saluran radio dengan berlatar belakang Gunung Merapi mengeluarkan asap putih di Kendalsari, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026). Foto: Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTOSebelumnya, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) juga mengeluarkan imbauan bahwa pendakian di gunung tersebut masih ditutup.Ini merespons maraknya konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian Gunung Merapi dan mengajak masyarakat membuka pendakian.Kepala Balai TNGM T Heri Wibowo mengatakan kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 berdasarkan adanya peningkatan aktivitas dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).Pada 5 November 2020 status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) hingga kini."Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," kata Heri pada 1 Juli lalu.Selanjutnya, radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat yang tinggal di KRB III juga diminta agar meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi."Masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG," katanya."Jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo sampai ke puncak Gunung Merapi meliputi: (a) pintu gerbang (2,3 km dari puncak); (b) Pos I (1,64 km); (c) Pos II (1,25 km); (d) Pasar Bubrah (0,7 km), sehingga sangat membahayakan keselamatan," ujarnya.Kepada pendaki, Heri menjelaskan terdapat beberapa jalur wisata (soft trekking) di Taman Nasional Gunung Merapi seperti di OWA Kalitalang berada pada radius 3,3 km dari Pos IV (pos terakhir)."Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," pungkasnya.