Mengapa Kita Semakin Takut Menyapa Orang Asing?

Wait 5 sec.

Sumber : Gemini AIBeberapa waktu lalu saya sedang menunggu kereta di sebuah stasiun. Peronnya cukup ramai. Ada mahasiswa yang sibuk menatap layar ponselnya, seorang ibu yang menemani anaknya bermain, dan beberapa pekerja yang baru pulang dari kantor.Di dekat saya, seorang pria paruh baya tampak kebingungan mencari jalur kereta yang akan dinaikinya. Ia beberapa kali melihat papan informasi, lalu menoleh ke arah orang-orang di sekitarnya seolah ingin bertanya. Anehnya, hampir semua orang menghindari kontak mata. Ada yang pura-pura sibuk mengetik, ada yang memasang earphone, dan ada pula yang langsung berjalan menjauh.Beberapa menit kemudian, pria itu memberanikan diri bertanya kepada saya.Percakapannya tidak sampai dua menit.Namun setelah kereta datang, saya justru memikirkan hal yang berbeda.Mengapa sesuatu yang sesederhana menyapa atau bertanya kepada orang asing kini terasa begitu canggung?Padahal, dulu kita diajarkan bahwa menyapa adalah bentuk keramahan. Orang tua sering mengingatkan anak-anak untuk mengucapkan salam ketika bertemu tetangga, mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu, atau sekadar tersenyum ketika berpapasan.Hari ini, kebiasaan itu terasa semakin jarang. Bukan karena kita menjadi orang yang tidak sopan. Melainkan karena kita mulai terbiasa menjaga jarak dengan orang yang tidak kita kenal.Ketika orang asing lebih sering dianggap ancamanSaya kemudian menyadari bahwa perubahan ini tidak muncul begitu saja.Setiap hari kita mendengar berita tentang penipuan, pencopetan, pelecehan, hingga berbagai tindak kejahatan yang melibatkan orang asing. Media sosial pun dipenuhi video yang mengingatkan kita agar tidak mudah percaya kepada siapa pun.Lama-kelamaan, kewaspadaan berubah menjadi kebiasaan.Kita menjadi lebih berhati-hati ketika ada orang yang tiba-tiba menyapa. Kita curiga ketika seseorang menawarkan bantuan. Bahkan, sapaan sederhana terkadang dianggap memiliki maksud tertentu.Tentu, berhati-hati bukanlah sesuatu yang salah.Namun ada perbedaan antara bersikap waspada dan kehilangan kepercayaan kepada sesama. Ketika rasa curiga menjadi titik awal setiap pertemuan, hubungan sosial perlahan kehilangan ruang untuk tumbuh.Kota modern ternyata tidak selalu membuat kita lebih dekatDi sisi lain, perubahan cara hidup juga ikut memengaruhi kebiasaan kita.Di kota-kota besar, kehidupan bergerak begitu cepat. Orang berangkat bekerja sejak pagi, pulang ketika hari mulai gelap, lalu menghabiskan sisa waktunya di dalam rumah. Pertemuan dengan orang lain sering kali hanya berlangsung beberapa detik, sekadar berpapasan di lift, halte, atau minimarket.Ironisnya, kita berada di tengah keramaian hampir setiap hari. Namun semakin banyak orang di sekitar kita, semakin sedikit yang benar-benar kita kenal.Tidak sedikit penghuni apartemen yang tidak mengetahui nama tetangga di sebelah unitnya. Di kompleks perumahan, warga saling bertemu setiap pagi, tetapi hanya bertukar pandang tanpa sapaan. Di transportasi umum, puluhan orang duduk berdampingan sambil menatap layar masing-masing.Ruang publik memang semakin ramai. Tetapi ruang untuk membangun kedekatan sosial justru semakin sempit.Ketika hubungan digital menggantikan pertemuan nyataPerubahan ini juga terlihat dari cara kita berkomunikasi.Hari ini kita bisa mengirim pesan kepada teman yang tinggal di kota lain hanya dalam hitungan detik. Kita mengetahui kabar seseorang melalui unggahan media sosial bahkan sebelum bertemu langsung dengannya.Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih hangat. Kadang-kadang kita lebih nyaman memberikan tanda suka pada unggahan seseorang daripada menyapanya ketika bertemu di jalan.Kita mengenal foto profil banyak orang, tetapi tidak mengenali wajah tetangga sendiri. Teknologi tentu bukan penyebab utamanya. Masalahnya muncul ketika interaksi digital perlahan menggantikan kebiasaan berinteraksi secara langsung. Akibatnya, menyapa orang asing terasa semakin tidak biasa.Perubahan kecil yang sebenarnya sedang dipelajari dalam Pendidikan IPSFenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kajian Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).Dalam IPS, masyarakat dipahami sebagai sesuatu yang terus berubah. Perubahan itu tidak selalu terlihat melalui pembangunan gedung-gedung tinggi atau perkembangan teknologi. Ia juga hadir melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang perlahan menghilang.Dulu, anak-anak belajar berkenalan dengan teman baru saat bermain di lapangan. Mereka belajar meminta maaf setelah bertengkar, belajar bekerja sama ketika bermain, dan belajar menghargai orang yang lebih tua melalui interaksi sehari-hari.Kini, kesempatan itu semakin berkurang.Interaksi sosial tidak lagi terjadi secara alami seperti dulu.Padahal, kemampuan menyapa, mendengarkan, menghargai orang lain, dan membangun kepercayaan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.Di sinilah IPS tidak hanya berbicara tentang teori.IPS membantu kita memahami mengapa cara manusia berhubungan satu sama lain dapat berubah seiring perubahan lingkungan, budaya, dan pola hidup.Sapaan sederhana yang ternyata memiliki makna besarSering kali kita menganggap sapaan hanyalah basa-basi. Padahal, dari sapaan sederhana itulah kepercayaan sosial mulai tumbuh.Lingkungan yang warganya saling mengenal biasanya lebih cepat menyadari jika ada orang yang membutuhkan bantuan. Tetangga lebih mudah bekerja sama ketika menghadapi masalah bersama. Anak-anak pun tumbuh di tengah lingkungan yang membuat mereka merasa dikenal dan diperhatikan.Sebaliknya, ketika semua orang memilih menjaga jarak, rasa memiliki terhadap lingkungan juga perlahan memudar. Tidak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab karena semua sibuk dengan urusannya masing-masing.Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian meskipun hidup di tengah kota yang begitu padat. Bukan karena tidak ada orang di sekitar mereka. Melainkan karena tidak ada hubungan yang benar-benar terjalin.Barangkali kita tidak kehilangan keberanian, tetapi kehilangan kebiasaanSemakin saya memikirkan hal ini, semakin saya merasa bahwa persoalannya bukan terletak pada keberanian untuk menyapa.Kita hanya semakin jarang melakukannya.Kebiasaan yang dulu tumbuh secara alami perlahan menghilang karena ruang untuk berinteraksi juga semakin sedikit. Akibatnya, menyapa orang asing kini terasa canggung, bahkan dianggap tidak lazim.Padahal, setiap hubungan sosial selalu dimulai dari hal-hal sederhana.Sebuah senyuman.Ucapan selamat pagi.Pertanyaan ringan kepada seseorang yang tampak kebingungan.Atau sekadar menganggukkan kepala ketika berpapasan.Mungkin semua itu tidak akan langsung mengubah dunia. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kepercayaan sosial tumbuh sedikit demi sedikit.Dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individual, pelajaran paling penting yang perlu terus dihidupkan melalui Pendidikan IPS bukan hanya tentang bagaimana masyarakat berubah, tetapi juga tentang bagaimana manusia tetap belajar menjadi sesama manusia.