Populer: Purbaya Optimistis Ekonomi Tumbuh 6%; KPR 40 Tahun Dinilai Tak Efektif

Wait 5 sec.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTOSikap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang optimistis ekonomi tumbuh 6 persen menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Sabtu (4/7). Selain itu, juga ada artikel lain yakni rencana pemerintah menerapkan tenor KPR hingga 40 tahun dinilai tak efektif bagi masyarakat untuk mendapatkan rumah. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Purbaya Optimistis Ekonomi Bisa Tumbuh 6 Persen Tahun Ini: Tak Susah-Susah AmatMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa perekonomian Indonesia mampu tumbuh 6 persen pada tahun ini. Optimisme ini muncul di tengah tantangan global seperti konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gejolak pasar uang. Purbaya menegaskan pemerintah terus mengendalikan kebijakan fiskal sebagai penyangga utama perekonomian nasional, yang menurutnya tidak takut dengan situasi global dan akan terus menggerakkan mesin-mesin pertumbuhan.Purbaya juga meluruskan anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen hanya ditopang belanja pemerintah. Ia menekankan bahwa kontribusi sektor swasta memiliki peran besar, tercermin dari peningkatan investasi, ekspansi dunia usaha, serta konsumsi masyarakat yang tetap terjaga. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian.Selain itu, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN di bawah 3 persen sebagai bentuk disiplin fiskal. Target ini dicapai melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati, termasuk mengoptimalkan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai instrumen pembiayaan pembangunan tanpa membebani APBN secara berlebihan, sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.Deretan rumah yang masih dalam tahap pembangunan perumahan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Andry DenisahKPR 40 Tahun Dinilai Tak Efektif Jika Harga Rumah dan Suku Bunga Masih TinggiRencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 40 tahun dinilai tidak akan efektif jika tidak diimbangi dengan upaya menekan harga rumah dan suku bunga kredit. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menekankan bahwa permasalahan utama kepemilikan rumah saat ini adalah harga lahan dan harga bangunan yang tinggi, bukan semata lamanya tenor.Bhima mengusulkan pemerintah perlu mengatasi spekulasi properti, memberikan subsidi pajak yang lebih tepat sasaran, dan memperbanyak pembangunan rumah susun (rusun) di perkotaan agar masyarakat, khususnya generasi muda dan keluarga baru, dapat mengakses hunian terjangkau. Ia khawatir manfaat dari tenor yang lebih panjang akan terbatas jika suku bunga KPR tetap mahal, menyebabkan sebagian besar cicilan awal hanya membayar bunga.Di sisi lain, pengamat kebijakan publik Adib Miftahul melihat perpanjangan tenor KPR sebagai langkah tepat untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto tentang 3 juta rumah. Namun, Adib mengingatkan pentingnya mitigasi risiko untuk mencegah potensi gagal bayar di kemudian hari, termasuk bagi debitur seperti pengemudi ojek online (ojol). Ia juga mendorong dukungan terhadap pengembang skala kecil, pemanfaatan aset negara, dan keterlibatan sektor swasta untuk menekan backlog perumahan.