BorneoFlash.com, PALANGKARAYA – Operasi pemberantasan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, berubah menjadi tragedi berdarah. Penggerebekan terhadap terduga bandar sabu yang semula berjalan sesuai rencana berakhir dengan gugurnya dua anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Katingan, sementara seorang personel lainnya hingga Sabtu (4/7) masih dalam pencarian.Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden paling kelam dalam upaya pemberantasan narkotika di Kalimantan Tengah tahun ini. Selain menimbulkan korban jiwa di pihak kepolisian, operasi itu juga memicu perhatian serius Mabes Polri yang memastikan seluruh pelaku akan diburu hingga tertangkap.Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono menjelaskan, operasi penindakan dilakukan pada Kamis (2/7) dini hari setelah polisi memperoleh informasi mengenai aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika. Sebanyak 12 personel Satresnarkoba diterjunkan dalam operasi tersebut.Setibanya di lokasi, personel dibagi menjadi dua tim. Tim pertama melakukan penangkapan terhadap target, sedangkan tim kedua bersiaga sebagai unsur pendukung.Target operasi berhasil diamankan. Namun situasi mendadak berubah ketika sejumlah anggota keluarga pelaku diduga melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang.Dalam kondisi terdesak, petugas melakukan tindakan tegas dan terukur yang mengakibatkan satu orang dari pihak keluarga terduga pelaku meninggal dunia.Peristiwa itu kemudian memicu datangnya warga sekitar yang diduga ikut melakukan penyerangan terhadap aparat. Berdasarkan laporan kepolisian, massa tidak hanya menggunakan senjata tajam, tetapi juga senjata api rakitan sehingga situasi di lokasi semakin tidak terkendali.Personel kepolisian terpaksa menyelamatkan diri dengan menyeberangi Sungai Katingan dan berlindung di kawasan hutan sambil menunggu bantuan datang.Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie Perdana Putra gugur saat menjalankan tugas akibat serangan yang diterimanya. Sementara dua anggota lainnya, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dilaporkan hanyut di Sungai Katingan saat berupaya menyelamatkan diri.Sejak kejadian itu, tim gabungan dari Ditpolairud Polda Kalimantan Tengah, Satbrimob, Basarnas Palangka Raya, serta personel Polres Katingan terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Katingan.Kapolres Katingan mengatakan pencarian menghadapi tantangan berat karena derasnya arus sungai serta kondisi medan yang cukup sulit."Fokus utama kami saat ini adalah menyisir aliran Sungai Katingan untuk menemukan keberadaan kedua anggota kami. Seluruh sumber daya yang tersedia telah kami kerahkan guna mempercepat proses pencarian," ujar Dodik.Meski menghadapi berbagai kendala, operasi pencarian terus diperluas hingga ke sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi terakhir kedua personel terlihat.Di tengah proses pencarian tersebut, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat luar biasa anumerta kepada Aipda Yudhie Perdana Putra sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan pengorbanannya kepada institusi Polri dan negara.Keputusan itu disampaikan Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan saat menyerahkan piagam penghargaan kepada keluarga almarhum di rumah duka di Kota Kasongan.Kapolda menyebut almarhum merupakan sosok polisi yang memiliki dedikasi tinggi, disiplin, loyalitas, dan keberanian dalam menjalankan tugas.Selain kenaikan pangkat anumerta, Polri juga memberikan kesempatan prioritas kepada salah satu anggota keluarga almarhum untuk mengikuti seleksi penerimaan Bintara Polri sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan yang telah diberikan.Duka kembali bertambah setelah Bripda Nopandri Ramadhana akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Atas peristiwa tersebut, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus menegaskan komitmennya mengusut tuntas kasus tersebut.Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengatakan tim gabungan masih melakukan pengejaran terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap personel kepolisian."Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.Bareskrim Polri juga mengajak masyarakat yang memiliki informasi mengenai keberadaan para pelaku agar segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum.Sementara itu, hingga Sabtu (4/7), proses pencarian terhadap Aiptu Sumariyanto masih terus dilakukan oleh tim gabungan dengan menyisir aliran Sungai Katingan dan kawasan sekitar lokasi kejadian.Polri memastikan seluruh kemampuan personel dan peralatan terus dikerahkan agar anggota yang masih hilang dapat segera ditemukan, sekaligus menuntaskan proses hukum terhadap seluruh pelaku penyerangan dalam operasi pemberantasan narkotika tersebut.Identitas Saldy, Petani yang Ditangkap Terkait Tewasnya Aipda YudhiPerburuan terhadap para terduga pelaku penyerangan anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang menewaskan Aipda Yudhie Perdana Putra mulai membuahkan hasil. Seorang pria bernama Saldy (SA) berhasil diamankan tim gabungan Polda Kalimantan Tengah pada Jumat (3/7) siang.Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono membenarkan penangkapan tersebut. Namun, ia belum membeberkan secara rinci peran maupun kronologi penangkapan Saldy karena proses penyidikan masih terus berlangsung."Benar, yang diamankan berinisial SA," kata AKBP Dodik Hartono saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).Berdasarkan informasi yang dihimpun, SA (Saldy) diamankan di sebuah lanting sedot emas di kawasan sungai di Desa Tumbang Pariyei, Kecamatan Katingan Tengah pada Jumat (3/7) siang. SA sempat menjadi buruan polisi pascainsiden berdarah operasi pemberantasan narkotika di Desa Tumbang Kalemei.Dari data identitas yang beredar, SA diketahui merupakan pria kelahiran Desa Tumbang Kalemei pada 30 Mei 1988 berusia 38 tahun. Ia berprofesi sebagai petani atau pekebun dan berdomisili di Kecamatan Katingan Tengah.Meski demikian, polisi belum menyampaikan secara resmi peran dan keterlibatan SA dalam perkara tersebut. Penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif untuk mendalami perannya dalam penyerangan yang mengakibatkan gugurnya Aipda Yudhie Perdana Putra.Sementara itu, aparat gabungan masih terus memburu sejumlah terduga pelaku lainnya yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap personel Satresnarkoba Polres Katingan saat penggerebekan bandar sabu tersebut. Polisi memastikan proses pengejaran dan penyidikan akan terus dilakukan hingga seluruh pihak yang bertanggung jawab berhasil diamankan. (*)