Dari Studio Milik Kampus di Jogja, Generasi Awal Kru TV Indonesia Lahir

Wait 5 sec.

filmStudio Audio Visual (SAV) Universitas Sanata Dharma (USD) telah menjadi bagian dari dunia penyiaran Indonesia sejak 1970. Foto: Dok.IstimewaUniversitas Sanata Dharma (USD) memiliki sebuah studio yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan televisi swasta di Indonesia. Kini bernama Studio Audio Visual (SAV) USD, studio tersebut sebelumnya dikenal sebagai Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat), yang berdiri sejak 1970 sebelum resmi bergabung dengan Universitas Sanata Dharma pada 2021.Selama perjalanannya, SAV Puskat memproduksi berbagai karya audio visual sekaligus menjadi tempat pelatihan bagi kru dan presenter pada masa pertumbuhan televisi swasta di Indonesia.Saat ditemui pada Jumat (26/6), Kepala SAV USD, Romo Murti Hadi Wijayanto, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal televisi swasta di Indonesia."Televisi swasta pertama RCTI lahir di sini. Jadi mereka training, dididik di sini, para kru dan juga presenter-presenter. Tahun 1991 RCTI lahir itu sebelumnya digodok di sini," kata Romo Murti.Dari kiri, Wakil Kepala SAV Universitas Sanata Dharma (USD), Romo Yoseph Ispuroyanto, dan Kepala SAV USD, Romo Murti Hadi Wijayanto. Foto: Pandangan Jogja/ Bening Selain RCTI, lulusan pelatihan di SAV Puskat juga mengisi sejumlah stasiun televisi swasta nasional, seperti TPI (kini MNCTV), ANTV, TV7 (kini Trans7), hingga Indosiar.Menurut Wakil Kepala SAV USD, Romo Yoseph Ispuroyanto, pelatihan di SAV Puskat biasanya diikuti sekitar 20 peserta pada setiap angkatan.Selain menjadi tempat pelatihan, SAV Puskat juga memproduksi berbagai program televisi dan film dokumenter. Salah satunya adalah program religi lintas iman Lembar Agama Katolik yang pernah tayang di Indosiar dan TPI.Beragam kamera produksi yang dahulu digunakan masih tersimpan sebagai bagian dari sejarah perkembangan studio. Foto: Pandangan Jogja/GracetikaStudio ini juga menghasilkan ratusan film dokumenter yang mengangkat tema manusia, budaya, lingkungan, dan realitas sosial di Indonesia. Sejumlah karyanya juga diputar dalam Berlin Film Festival."Kami sering dipanggil ‘mbahnya film dokumenter’. Karena banyak para dokumentaris, film-film dokumenter di sini," ujar Romo Murti.Pada 2012, SAV Puskat memperluas kiprahnya ke layar lebar melalui film Soegija yang disutradarai Garin Nugroho. Film tersebut diproduksi dengan melibatkan 335 kru dan ribuan pemain, serta didanai melalui partisipasi umat Katolik."Film yang dibangun, dibuat, disutradarai oleh Garin, dibiayai oleh seluruh umat Katolik. Terhimpun ya (dana) Rp12-an miliar, sekitar itu. (Melibatkan) 335 kru, lalu tiga ribuan pemain," kata Romo Yoseph.Film Soegija meraih rekor MURI sebagai film dengan enam bahasa serta jumlah pemain dan kru terbanyak pada masanya. Selama ditayangkan di bioskop, film itu mencatatkan lebih dari 450.000 penonton.Romo Yoseph juga bercerita bahwa umat Katolik dari berbagai keuskupan saat itu menyewa bus untuk menonton Soegija bersama-sama di bioskop.Setelah lebih dari lima dekade beroperasi sebagai SAV Puskat, lembaga ini resmi bergabung dengan Universitas Sanata Dharma pada 2021 dan berganti nama menjadi Studio Audio Visual (SAV) USD. Kini, studio tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa lintas program studi sekaligus tetap menjalankan aktivitas produksi.Dokumentasi di balik layar proses produksi salah satu film yang digarap SAV USD. Foto: Dok.IstimewaPerubahan tersebut juga mengubah aktivitas Romo Murti dan Romo Yoseph yang kini lebih banyak terlibat dalam kegiatan di universitas."Dulu lebih heboh, tapi sekarang saatnya menep (tenang) gitu ya. Saatnya lebih mengatur diri untuk bisa menikmati dengan leluasa, karena lebih banyak terlibat di universitas kami sekarang," kata Romo Yoseph.Meski kini lebih banyak mendampingi aktivitas akademik di SAV USD, Romo Murti mengatakan semangat untuk terus berkarya melalui film belum padam. Saat ditanya hingga kapan akan terus membuat film, ia dengan tegas menjawab:"Sampai saya tidak bisa apa-apa lagi."