Menghadapi super el niño 2026: mengapa kolaborasi dengan warga lebih ampuh ketimbang instruksi terpusat padamkan karhutla?

Wait 5 sec.

● El Niño memperparah karhutla, tetapi bukan penyebab utamanya.● Penyebab utama karhutla adalah pembukaan lahan dengan cara membakar.● Solusi paling efektif adalah kolaborasi di akar rumput.Indonesia diprediksi akan memasuki fase El Niño yang cukup ekstrem, bahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutnya Super El Niño. Efeknya sudah mulai kita alami saat ini.El Niño akan menyebabkan kemarau lebih kering dan panjang, sehingga berisiko meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.Namun, dari berbagai riset terkait karhutla yang kami lakukan, El Niño hanyalah salah satu pemicu. Faktor dominan penyebab karhutla adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Tidak ada asap, tanpa api. Masalah tata kelola lahan, kebiasaan penggunaan api untuk membuka lahan, dan kurangnya kerja sama antar pemangku kepentingan yang laten itulah yang jadi apinya.Riset yang kami lakukan di Kalimantan Barat dan Riau menunjukkan bahwa masalah kebakaran bisa diatasi dengan pendekatan kolaboratif, melalui proses pengambilan keputusan yang melibatkan semua kalangan, pembelajaran sosial, dan berbagi sumber daya. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan top-down atau instruksi terpusat yang umum dilakukan. Baca juga: Skenario terburuk El Niño 2026: Puncak ‘neraka’ panas yang mengancam Tebas bakar penyebab karhutlaRiset kami di Kalimantan Barat menunjukkan seluruh titik panas yang terdeteksi oleh citra satelit berada di dalam ‘enklave’. Enklave adalah area di dalam konsesi perusahaan, akan tetapi secara sosial, ekonomi, dan adat, lahan tersebut dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat sejak lama secara turun-temurun. Di area tersebut, masyarakat yang secara hukum memiliki hak untuk tidak menjual lahannya kepada perusahaan masih melakukan pembukaan lahan dengan cara tebas dan bakar (slash-and-burn). Metode paling murah, paling cepat, dianggap bisa menyuburkan tanah, sekaligus bagian tradisi turun temurun bertani masyarakat lokal. Dari 20 lokasi karhutla yang kami kunjungi pada 2024 di enklave, sebanyak 16 di antaranya sudah berubah menjadi kebun campuran padi dan sawit milik masyarakat. Sisanya ditanam padi ladang. Hal ini memperlihatkan pola berulang: tebas, bakar, tanam, lalu diikuti pengelolaan dalam area enklave. Riset kami di Riau (2015-2017) juga menunjukkan bahwa dari 12 lokasi terbakar di area gambut (hutan produksi yang terbengkalai), tujuh di antaranya sudah berubah menjadi kebun sawit milik masyarakat.Akan tetapi, karena tidak memiliki kepastian hak atas tanah, masyarakat menjual lahan yang sudah ditanami sawit ke elite lokal, seperti pengusaha, tengkulak, pejabat, dan politisi daerah. Jadi, manfaat ekonomi terbesar tidak dinikmati oleh masyarakat, melainkan oleh para elite yang membeli lahan tersebut. Masyarakat harus melakukan aktivitas ilegal. Sementara elit lokal tinggal menerima hasil beres tanpa repot-repot mengotori tangan mereka. Oleh karenanya, permasalahan ini tak bisa dikambing hitamkan kepada satu pihak saja. Dengan demikian, penyelesaian masalahnya juga harus dilakukan bersama-sama karena bersifat sistemik. Baca juga: Tak hanya membawa kekeringan, El Niño juga menimbulkan polusi udara yang mengancam kesehatan kita Kolaborasi adalah kunciSetidaknya, riset kami di Kalimantan Barat dan Riau memberikan harapan. Ketika pemerintah maupun pemegang konsesi bekerja sama dengan masyarakat, kebakaran dapat ditekan secara nyata. Faktanya jumlah karhutla menurun tajam dibanding periode sebelum adanya kerja sama dengan masyarakat, bahkan pada periode El Niño 2019 dan 2023. Misalkan, kebakaran lahan gambut di Tanjung Leban Bengkalis, Riau sebelumnya tercatat lebih dari 1.600 hektare pada tahun 2015. Namun setelah kerja sama tersebut dilakukan setahun berselang, luas kebakaran turun drastis menjadi 15 hektare. Selanjutnya, saat El Niño 2019, hanya satu hektare lahan gambut yang terbakar. Beralih ke Ketapang, Kalimantan Barat. Kami menemukan kolaborasi melibatkan perusahaan sawit, pemerintah kecamatan dan desa, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), Masyarakat Peduli Api (MPA), Polsek dan Koramil, hingga Manggala Agni dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kerja sama dilakukan melalui: 1) kampanye penyadaran tidak membuka lahan dengan membakar; 2) melakukan upacara siap siaga api; 3) melakukan patroli api gabungan,; dan 4) melakukan pemadaman bersama. Sebagai contoh, kampanye penyadaran dilakukan dengan membuat papan penanda atau sign boards, untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan membakar. Sign boards dibuat oleh perusahaan, disebarkan dan dipasang oleh Polsek, Koramil, dan Desa di lokasi strategis. Kampanye juga dilakukan di acara-acara desa dan adat yang dilakukan baik oleh pihak perusahaan, MPA, maupun unsur Kecamatan. Desa-desa membentuk MPA untuk melakukan patroli harian menggunakan sepeda motor guna memantau titik api (hotspot) dan ketersediaan air. Perusahaan mengundang BPBD dan Manggala Agni yang mengajarkan MPA tentang cara memadamkan api. Saat kebakaran terjadi, semua pihak bekerja dengan sigap memadamkan api dengan mesin penyedot air, mobil pemadam, dan selang air milik perusahaan. Di Bengkalis, Riau, masyarakat juga membentuk MPA dan Masyarakat Peduli Gambut (MPG) bekerja sama dengan kampus (Universitas Riau dan Kyoto University Jepang), Non-Government Organizations (NGOs), perusahaan kayu, dan donor internasional dari Jepang. Langkah pencegahan dilakukan dengan melakukan pembasahan lahan gambut (rewetting) agar tidak mudah terbakar. Peneliti dari Universitas Riau dan Kyoto University, Jepang, menghitung berapa jumlah volume air yang perlu dialirkan dari kubah gambut di area konsesi perusahaan. Ahli dari perusahaan kemudian membagikan data informasi curah hujan. Sementara kaum muda perwakilan masyarakat desa membantu para peneliti untuk memantau tinggi air di parit dan sungai.Peneliti dari Jepang juga memberikan pelatihan pemetaan GIS (geographic information system/Sistem Informasi Geografis) dan cara mengukur volume air tanah kepada pemuda desa. Sebagai timbal balik, masyarakat membagikan data kondisi lapangan nyata kepada para peneliti.Masyarakat juga ikut melakukan patroli api dan memadamkan api secara bersamaan saat terjadi kebakaran. Perusahaan memfasilitasi alat-alat sementara desa menyediakan tenaga kerja. Semua kerja sama itu dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengambilan keputusan bersama, berbagai pengetahuan dan belajar bersama, dan berbagi sumber daya. Keberhasilan penanggulangan karhutla terbukti berhasil berkat kolaborasi antar-aktor. Pelajaran ini sepatutnya bisa direplikasi di semua daerah yang rawan terbakar saat Indonesia menghadapi El Niño sejak pertengahan tahun ini. Rijal Ramdani menerima dana dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Saastamoinen Finlandia, dan The Sustainable Trade Initiative.