Robot humanoid turun ke lapangan sepak bola pada pertandingan RoboCup 2026 di Incheon, Korsel, Minggu (5/7). Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSIni merupakan kompetisi robotika dan kecerdasan buatan terbesar di dunia. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSTim Hephaestus dari Universitas Tsinghua berhasil mengalahkan Tim dari Universitas Pertanian Gunung dan Laut China pada babak final. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSLayaknya seperti pertandingan sepak bola manusia, robot-robot itu tersandung, bertabrakan di lapangan sebelum bangkit kembali untuk terus bermain. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSDikutip dari Reuters, penyelenggara mengatakan lebih daro 3.000 peserta dari 45 negara ikut serta dalam kompetisi tersebut. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSKepala tim global, Chaoyi Li, mengatakan lebih dari 70 persen tim menggunakan platform yang dikembangkan oleh Booster Robotics, sebuah perusahaan robot humanoid yang berbasis di China. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS"Tim Jerman, tim Korea, tim AS, semua orang di seluruh dunia menggunakan Booster," kata Li. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS"Ini bukan hanya tentang tim China," tegasnya. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSDi luar lapangan sepak bola, robot-robot tersebut juga berkompetisi dalam tantangan pencarian dan penyelamatan yang mensimulasikan zona bencana. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSFoto: Kim Soo-Hyeon/REUTERSRobot humanoid turun ke lapangan sepak bola pada pertandingan RoboCup 2026 di Incheon, Korea Selatan, Minggu (5/7). Ini merupakan kompetisi robotika dan kecerdasan buatan terbesar di dunia.Tim Hephaestus dari Universitas Tsinghua berhasil mengalahkan Tim dari Universitas Pertanian Gunung dan Laut China pada babak final.Layaknya pertandingan sepak bola manusia, robot-robot itu tersandung, bertabrakan di lapangan sebelum bangkit kembali untuk terus bermain."Tujuan utama tim kami adalah menjadi juara FIFA pada tahun 2050," kata Changsheng Luo, pemimpin Tim Hephaestus, mengutip Reuters.Penyelenggara mengatakan lebih dari 3.000 peserta dari 45 negara ikut serta dalam kompetisi tersebut.Kepala tim global, Chaoyi Li, mengatakan lebih dari 70 persen tim menggunakan platform yang dikembangkan oleh Booster Robotics, sebuah perusahaan robot humanoid yang berbasis di China."Tim Jerman, tim Korea, tim AS, semua orang di seluruh dunia menggunakan Booster," kata Li."Ini bukan hanya tentang tim China," tegasnya.Di luar lapangan sepak bola, robot-robot tersebut juga berkompetisi dalam tantangan pencarian dan penyelamatan yang mensimulasikan zona bencana.Robot humanoid berebut bola saat pertandingan final RoboCup 2026 di Incheon, Korea Selatan, Minggu (5/7/2026). Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS