Seekor kungkang di dalam habitatnya di Kebun Binatang Phoenix, Senin, 27 April 2020, di Phoenix. Foto: AP Photo/Ross D. FranklinMempelajari kehidupan satwa liar di alam bebas bukanlah pekerjaan mudah. Tantangannya menjadi jauh lebih besar ketika hewan yang ingin diamati hidup di atas pohon dan hanya aktif di malam hari.Baru-baru ini, sekelompok ilmuwan membangun platform pengamatan di atas pohon yang dilengkapi kamera termal. Metode ini memungkinkan mereka mengintip kehidupan mamalia nokturnal yang selama ini nyaris tak pernah terlihat, mulai dari kungkang, trenggiling semut sutra (Silky anteater), ocelot, hingga landak pohon.Mamalia yang hidup di kanopi hutan memang menjadi salah satu kelompok hewan paling sulit dipelajari. Mereka beraktivitas di atas pohon di antara rimbunnya dedaunan, sehingga keberadaannya hampir tak terlihat. Tak heran jika kelompok mamalia ini termasuk yang paling sedikit diteliti di kawasan hutan tropis. Padahal, informasi mengenai pola makan, reproduksi, hingga perilaku mereka sangat penting untuk mendukung upaya konservasi.Selama ini, peneliti biasanya mengamati satwa arboreal menggunakan teropong dari bawah. Kemajuan teknologi kamera jebak (camera trap) memang membantu mengumpulkan lebih banyak data langsung dari kanopi hutan, terutama jika dipasang di jembatan tali atau pohon yang menjadi lokasi makan satwa.Namun, sistem tersebut tergolong mahal dan pemasangannya tidak mudah karena membutuhkan pemanjat pohon yang terlatih.Dalam penelitian terbaru yang terbit di Journal of Tropical Ecology, para ilmuwan mencoba pendekatan yang berbeda dengan memanfaatkan kamera pencitraan termal.Perkembangan teknologi kamera termal yang kini banyak digunakan pada sistem keamanan rumah maupun drone membuat harganya semakin terjangkau. Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan platform pengamatan di atas pohon untuk memantau mamalia nokturnal di hutan Panama.Penelitian dilakukan di dua lokasi di Cagar Alam Cocobolo, Panama bagian tengah, yang berjarak sekitar 521 meter satu sama lain. Satu lokasi berada di hutan sekunder dekat aliran sungai, sedangkan lokasi lainnya berada di hutan primer.Di masing-masing lokasi, tim membangun sebuah platform yang siap ditempati seorang peneliti beserta peralatan kameranya. Pengamatan dilakukan selama sembilan malam di setiap lokasi, mulai pukul 18.00 hingga 06.00 waktu setempat."Begitu seekor mamalia terdeteksi melalui mode termal, kamera video langsung diaktifkan dan hewan tersebut terus direkam hingga keluar dari jangkauan pengamatan. Jika diperlukan, kamera dialihkan ke mode penglihatan malam untuk membantu proses identifikasi," tulis para peneliti, mengutip IFLScience.Meski fokus utama penelitian adalah mamalia penghuni pohon, kamera juga merekam sejumlah mamalia yang hidup di permukaan tanah.Rekam 14 Spesies MamaliaPara peneliti mencatat 651 kemunculan hewan selama total 205 jam pengamatan. Sebanyak 61 persen di antaranya merupakan mamalia nokturnal penghuni pohon, sedangkan sekitar 20 persen merupakan mamalia yang hidup di lantai hutan. Secara keseluruhan, tim berhasil mendokumentasikan 14 spesies mamalia.Di antaranya terdapat seekor kinkajou yang terlihat santai berbaring di atas dahan, seekor margay atau kucing pohon yang mengendap-endap di antara serasah daun, sepasang landak Andes yang sedang kawin pada tengah malam, hingga trenggiling semut sutra yang sibuk mencari makan."Rasa penasaran karena tidak pernah tahu persis hewan apa yang akan saya lihat membuat saya tetap terjaga dan bersemangat. Di situlah letak keajaibannya," ujar Lucy Hughes, salah satu penulis studi, mengutip National Geographic.Sebagian besar hewan yang diamati sedang berpindah tempat, mencari makan, atau beristirahat. Namun, para peneliti juga sempat menyaksikan beberapa momen perkawinan.Karena seluruh satwa tetap menunjukkan perilaku alaminya, tim peneliti meyakini sebagian besar hewan tidak menyadari keberadaan manusia maupun kamera di atas pohon, atau setidaknya tidak merasa terganggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan platform pengamatan yang dipadukan dengan kamera termal menjadi cara efektif untuk mempelajari mamalia arboreal di malam hari tanpa banyak mengganggu aktivitas alami mereka.Menurut peneliti, metode ini juga relatif terjangkau dan mudah diterapkan, sehingga berpotensi membuka lebih banyak informasi mengenai kehidupan mamalia penghuni kanopi hutan yang selama ini masih penuh misteri.