Sumber Foto: Pexels / Cottonbro StudioDulu, memilih mungkin sesederhana menentukan jurusan kuliah atau pekerjaan. Hari ini, pilihan datang dari segala arah. Ada puluhan kelas online, berbagai peluang magang, sertifikasi, organisasi, proyek sampingan, hingga konten yang terus menyarankan kita mencoba hal baru. Anehnya, semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin banyak pula orang yang merasa bingung menentukan arah hidupnya.Pasti tidak sedikit dari kita pernah merasa bersalah karena melewatkan sebuah kesempatan. Mungkin pernah muncul pikiran seperti, “kayaknya aku harus ikut seminar ini”, “lowongan ini sayang kalau dilewatkan”, “teman-teman ikut kelas online itu, masa aku enggak?” atau “ada proyek baru, mungkin ini kesempatan yang enggak datang dua kali”. Awalnya mungkin hanya satu pilihan, lalu menjadi dua, kemudian lima, hingga akhirnya pilihan-pilihan itu terus berdatangan tanpa henti.Sampai pada titik tertentu, kita menyadari bahwa hampir setiap hari selalu ada sesuatu yang terasa sayang untuk dilewatkan. Anehnya, semakin banyak kesempatan yang datang, justru semakin sulit bagi kita untuk merasa tenang. Bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena takut memilih yang salah.Perlahan, kita mulai percaya bahwa orang sukses adalah mereka yang mampu mengambil setiap peluang yang datang. Padahal kenyataannya, tidak semua kesempatan memang diciptakan untuk kita.Coba buka media sosial selama lima menit. Dalam waktu yang begitu singkat, kita bisa melihat seseorang diterima bekerja di perusahaan impiannya, ada yang baru membuka bisnis, memenangkan lomba, mendapatkan beasiswa, mengikuti pelatihan internasional, hingga membagikan pencapaian kecil yang terlihat begitu membanggakan.Semua itu sebenarnya bukan hal yang salah. Tetapi, ketika otak menerima begitu banyak informasi tentang pencapaian orang lain dalam waktu singkat, tanpa sadar kita mulai menarik kesimpulan yang belum tentu benar. Muncul pertanyaan seperti, “kenapa semua orang terlihat bergerak lebih cepat daripada aku?”Tanpa disadari, kita mulai mengukur hidup berdasarkan timeline orang lain. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui cerita di balik foto yang mereka unggah. Kita hanya melihat hasil akhirnya, bukan proses panjang, kegagalan, keraguan, ataupun perjuangan yang mereka lalui. Yang tampak di layar hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang.Kondisi ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). FOMO bukan sekadar takut ketinggalan tren, melainkan rasa cemas ketika melihat orang lain memperoleh pengalaman atau kesempatan yang tidak kita miliki. Akibatnya, kita terdorong untuk terus mengatakan “iya”. Iya pada proyek baru, iya pada kegiatan tambahan, iya pada pelatihan, iya pada komunitas, dan iya pada berbagai kesempatan yang terlihat menjanjikan. Bukan karena semuanya benar-benar sesuai dengan tujuan hidup kita, tetapi karena kita takut menyesal jika tidak ikut.Lama-kelamaan, keputusan kita tidak lagi dipimpin oleh prioritas, melainkan oleh rasa takut tertinggal.Ada anggapan bahwa semakin banyak kesempatan yang dimiliki seseorang, semakin besar peluangnya untuk berhasil. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ketika semua hal terasa penting, akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar menjadi prioritas. Energi terbagi, waktu habis, dan pikiran pun ikut lelah.Kita berpindah dari satu target ke target berikutnya tanpa sempat menikmati prosesnya. Hari ini sibuk mengejar sertifikat, besok mengejar pengalaman organisasi, lusa mencoba bisnis, minggu depan mengikuti kelas baru. Sekilas semuanya tampak produktif. Tetapi, di balik kesibukan itu, muncul kelelahan yang sulit dijelaskan. Kita sibuk, tetapi tidak benar-benar merasa bertumbuh.Masalahnya, pertumbuhan tidak selalu datang dari banyaknya aktivitas. Sering kali, pertumbuhan justru lahir dari konsistensi untuk berjalan di satu arah.Ada satu kesalahpahaman yang sering kita percaya, yaitu bahwa orang yang menolak kesempatan berarti tidak memiliki ambisi. Padahal, justru sebaliknya. Orang yang memahami tujuannya akan lebih mudah mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak membawanya semakin dekat dengan tujuan yang diinginkannya.Menolak bukan berarti takut mencoba. Menolak juga bukan berarti menyia-nyiakan kesempatan. Terkadang, menolak adalah cara kita melindungi waktu, energi, dan fokus. Sebab setiap kali kita mengatakan “iya” pada sesuatu, pada saat yang sama kita juga sedang mengatakan “tidak” pada hal yang lain. Sementara itu, waktu adalah sumber daya yang tidak pernah bisa dikembalikan.Inilah makna Lazy Ambitious. Serial ini tidak pernah mengajak kita menjadi pribadi yang malas. Justru sebaliknya, serial ini mengajak kita memaknai ambisi dengan cara yang lebih sehat. Ambisi tidak harus selalu terlihat sibuk. Tidak harus mengikuti setiap perlombaan. Tidak harus hadir di setiap kesempatan yang datang.Ada kalanya, bentuk ambisi yang paling dewasa adalah keberanian untuk fokus. Fokus pada satu keterampilan, fokus pada satu tujuan, dan fokus pada satu proses yang benar-benar ingin kita jalani. Sebab, orang yang terus berpindah arah sering kali membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mereka yang berjalan perlahan, tetapi tetap berada di jalurnya.Mungkin selama ini kita terlalu takut kehilangan kesempatan. Padahal, yang sering benar-benar hilang justru ketenangan. Kita terlalu sibuk membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain. Terlalu sibuk mengejar setiap pintu yang terbuka, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “apakah pintu ini benar-benar mengarah ke tempat yang ingin kutuju?”Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua ajakan harus diterima. Tidak semua jalan harus dicoba. Karena hidup bukan tentang seberapa banyak peluang yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang seberapa sadar kita memilih mana yang benar-benar berarti.Menjadi Lazy Ambitious bukan berarti berhenti bermimpi, melainkan berhenti percaya bahwa semua mimpi harus dikejar secara bersamaan.