‘Laki-laki tidak bercerita’: Riset temukan ada beban maskulinitas dalam mengelola patah hati

Wait 5 sec.

● Laki-laki belajar menyembunyikan kerentanan karena norma maskulinitas yang menuntut ketangguhan.● Mereka tetap bercerita, tetapi melalui humor, musik, nongkrong, dan kebersamaan.● Ketangguhan tidak seharusnya mengharuskan laki-laki menyamarkan kesedihan dan kerentanannya.“Laki-laki tidak bercerita” belakangan menjadi ungkapan populer di media sosial Indonesia. Kalimat ini kerap digunakan untuk menggambarkan kecenderungan laki-laki menyimpan masalahnya sendiri, termasuk ketika menghadapi persoalan dalam hubungan asmara.Namun, apakah laki-laki benar-benar tidak bercerita?Kajian tentang maskulinitas telah lama menunjukkan bahwa laki-laki berhadapan dengan tuntutan sosial untuk terlihat kuat, rasional, mandiri, dan mampu mengendalikan emosi. Di Indonesia, tuntutan tersebut juga berkaitan dengan harga diri, kedewasaan, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga pengakuan sosial sebagai laki-laki.Penelitian kami terhadap pengalaman patah hati tujuh laki-laki muda Indonesia berusia 19–30 tahun menemukan persoalan yang lebih kompleks.Mereka bukan tidak sedih atau tidak ingin bercerita. Mereka justru terus mengatur kapan, kepada siapa, dan dengan cara apa kesedihan boleh terlihat. Diamnya laki-laki bukan semata pilihan personal, melainkan hasil dari norma sosial yang mengajarkan laki-laki bahwa kerentanan perlu disembunyikan. Baca juga: Apa itu ‘toxic masculinity’ dan dari mana asalnya? Patah hati, tapi harus terlihat ‘baik-baik saja’Temuan pertama kami menunjukkan bahwa putus cinta tidak otomatis mengakhiri kesedihan. Rasa patah hati tetap membekas dalam hati laki-laki meski hidup harus terus berjalan.Para informan tetap bekerja, kuliah, menjalani aktivitas sehari-hari, dan bertemu teman. Mereka berusaha terlihat “baik-baik saja”.Sebagian memilih diam, menghindari pembicaraan tentang kehidupan pribadi, atau sengaja menyibukkan diri. Diam, dalam konteks ini, bukan berarti tidak punya emosi, melainkan jadi cara mereka menyembunyikan kesedihan.Temuan ini sejalan dengan gagasan sosiolog Amerika Arlie Hochschild bahwa kehidupan sosial memiliki aturan mengenai bagaimana emosi seharusnya dirasakan dan ditampilkan.Dalam konteks patah hati, laki-laki tidak hanya berhadapan dengan kesedihan, tetapi juga tuntutan untuk tetap terlihat mampu mengendalikan dirinya. Baca juga: Tips hadapi patah hati saat ditolak gebetan—saran dari psikolog Ketika menangis dianggap tidak cukup ‘laki-laki’Hal itu terlihat lebih jelas ketika para informan berbicara tentang menangis.Keinginan untuk menangis sebenarnya ada. Namun, menangis dapat memunculkan kekhawatiran akan dianggap lemah, terlalu sensitif, tidak dewasa, atau tidak mampu mengendalikan diri.Bagi para informan, menangis bukan tentang respons terhadap kesedihan, melainkan sesuatu yang harus dipertimbangkan: bolehkah saya menunjukkan ini? Apa yang akan dipikirkan orang lain?Ekspektasi semacam ini bahkan dapat berubah menjadi pengawasan terhadap diri sendiri.Salah satu partisipan menggambarkan seolah ada “rem” di kepalanya ketika ingin menangis. Ia tidak selalu membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa laki-laki seharusnya kuat. Aturan itu sudah tertanam dan membuatnya otomatis menahan diri.Ini memperlihatkan kentalnya konsep toxic masculinity (maskulinitas toksik), yakni norma maskulinitas yang menjadi merugikan ketika kekuatan, kontrol, dan ketangguhan diterjemahkan sebagai larangan untuk menunjukkan kerentanan.Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pada norma maskulinitas tradisional dapat membatasi ekspresi emosi dan membuat laki-laki lebih sulit mencari bantuan ketika menghadapi masalah emosional.Penelitian yang terbit pada 2026 menemukan bahwa toxic masculinity berkaitan kuat dengan restrictive emotionality (pembatasan ekspresi emosi), yakni kecenderungan membatasi ekspresi emosi, yang pada gilirannya berkaitan dengan kecenderungan menghindari bantuan untuk persoalan emosional.Dengan kata lain, laki-laki mungkin bukannya “tidak mau cerita”. Mereka bisa saja ingin bercerita, tetapi ada harga sosial yang harus dibayar ketika mereka terlalu terbuka. Baca juga: Laki-laki juga rentan jadi korban kekerasan seksual, bukti kentalnya toxic masculinity dan budaya patriarki di Indonesia Jadi, laki-laki sebenarnya berceritaMenariknya, kami juga menemukan bahwa para informan tetap memiliki ruang untuk berbagi kesedihan, terutama bersama teman laki-laki. Hanya, bentuknya jarang berupa percakapan terbuka mengenai perasaan, bukan pula berupa percakapan serius yang diawali dengan, “Gue lagi sedih banget.”Mereka nongkrong hingga larut malam, bercanda, merokok, mendengarkan lagu-lagu sedih, bernyanyi bersama, atau sekadar duduk dan membicarakan hal-hal lain.Humor, misalnya, bukan semata-mata cara menghindari kesedihan. Lelucon memungkinkan pengalaman menyakitkan dibagikan tanpa seseorang harus secara eksplisit mengakui dirinya sedang rapuh.Musik juga menyediakan bahasa yang berbeda. Lagu patah hati memungkinkan seseorang mengekspresikan perasaan tanpa harus menjelaskan semuanya dengan kata-kata sendiri.Ini menunjukkan bahwa laki-laki sebenarnya tetap membutuhkan kedekatan emosional. Mereka hanya menegosiasikannya melalui bentuk-bentuk yang lebih mudah diterima dalam lingkungan maskulin.Temuan ini sejalan dengan kajian tentang caring masculinities (maskulinitas yang berorientasi pada kepedulian), yang menunjukkan bahwa relasi antarlaki-laki juga dapat menjadi ruang bagi kepedulian.Kepedulian tidak selalu hadir lewat percakapan emosional–bisa juga muncul melalui humor, kebersamaan, atau sekadar menemani teman. Baca juga: Bagaimana humor bisa mempengaruhi hubungan asmara Anda? Maskulinitas butuh ‘kerja keras’Patah hati memperlihatkan sebuah paradoks. Laki-laki sering diharapkan terlihat kuat dan stabil. Namun, untuk mempertahankan citra itu, mereka justru harus terus “kerja keras”: menahan tangis, memilih orang yang dipercaya, mengatur kapan kesedihan boleh muncul, dan mencari cara yang terasa aman untuk membagikannya.Anggapan bahwa “laki-laki tidak bercerita” bukan sekadar lelucon media sosial. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana norma maskulinitas bekerja: bukan menghilangkan emosi laki-laki, tetapi menentukan emosi mana yang boleh terlihat dan bagaimana emosi itu boleh disampaikan.Sudah waktunya kita membongkar anggapan bahwa laki-laki harus menyembunyikan kesedihan agar tetap dianggap sebagai laki-laki.Menjadi laki-laki tidak mengharuskan seseorang menyamarkan kesedihannya. Ketangguhan dan kerentanan semestinya bisa terjadi bersamaan. Baca juga: Laki-laki yang menganut paham maskulinitas seksis lebih cenderung melecehkan perempuan Moh. Faiz Maulana tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.