Presiden FIFA Gianni Infantino berada di dalam stadion sebelum pertandingan Polandia melawan Argentina.Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menolak gugatan keterbukaan dokumen dari Uni Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) di Pengadilan Distrik Selatan Florida pekan ini. Penolakan ini memicu perseteruan baru setelah FIFA menuduh rival regionalnya tersebut melakukan kampanye misinformasi yang tidak berdasar. Perselisihan hukum ini berakar dari rencana rahasia proyek Fifa Forward Enterprise (FFE) yang bertujuan menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta.Tuduhan Serius Manajemen KriminalUEFA sebelumnya mengajukan dokumen hukum di Amerika Serikat untuk mendesak pengungkapan bukti terkait proyek FFE yang kini telah ditangguhkan. Langkah hukum tersebut disertai peringatan bahwa UEFA siap melayangkan pengaduan kriminal resmi di Swiss. Asosiasi sepak bola Eropa tersebut menuduh Presiden FIFA, Gianni Infantino, melakukan tindakan salah kelola yang mengarah pada pelanggaran pidana demi keuntungan pribadi.Dalam dokumen gugatannya, UEFA mengklaim bahwa proyek FFE mempromosikan harga di bawah pasar yang curang demi keuntungan pribadi sang presiden. Proyek privatisasi ini awalnya dirancang untuk menjual hak kepemilikan turnamen akbar sekelas Piala Dunia serta beberapa kompetisi besar lainnya kepada investor swasta. Namun, rencana tersebut langsung memicu penolakan keras dari berbagai pihak ketika pertama kali terungkap ke publik.Pihak oposisi menilai bahwa privatisasi hak siar dan aset Piala Dunia akan merusak ekosistem sepak bola global secara permanen. Meskipun Infantino bersikeras bahwa skema ini semata-mata ditujukan untuk menghasilkan pendapatan tambahan bagi perkembangan olahraga tersebut, gelombang kecaman dari asosiasi regional tetap tidak terbendung.Pembelaan Hukum dan Tuduhan PelecehanFIFA segera bereaksi keras dengan menyebut argumen hukum UEFA sebagai tindakan yang berlebihan dan tidak masuk akal. Dalam berkas pembelaan resmi yang diajukan ke pengadilan, FIFA menegaskan bahwa seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada pemimpin mereka tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Mereka secara resmi meminta pengadilan di Florida untuk menolak mentah-mentah tuntutan pengungkapan dokumen yang diajukan oleh UEFA.Fédération Internationale de Football Association menyatakan pembelaan mereka dengan tegas di pengadilan. “Tanpa dasar apa pun, UEFA berasumsi bahwa Tuan Infantino berusaha mengambil keuntungan pribadi dari proposal FFE,” tulis perwakilan hukum FIFA. Mereka menambahkan, “Tuduhan UEFA bahwa Tuan Infantino melanggar hukum atau prinsip etis apa pun secara kategoris sama sekali tidak terbukti.”Pihak FIFA bahkan melangkah lebih jauh dengan melabeli manuver hukum UEFA sebagai bentuk iktikad buruk yang sengaja dirancang untuk melakukan pelecehan reputasi. Mereka merujuk pada putusan-putusan pengadilan sebelumnya di distrik lain yang selalu menolak permohonan penemuan dokumen yang dianggap terlalu luas dan tidak spesifik seperti ini.Tekanan Internal Menjelang Pemilihan PresidenPerseteruan ini juga memicu reaksi keras di dalam lingkaran internal kepemimpinan FIFA sendiri. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sekaligus Wakil Presiden FIFA, Debbie Hewitt, secara terbuka mendesak Infantino untuk merilis seluruh dokumen rahasia FFE guna memastikan transparansi. Hewitt juga menuntut diadakannya tinjauan independen yang menyeluruh terhadap proyek kontroversial tersebut guna memulihkan kepercayaan publik.Beberapa sumber internal menyatakan bahwa jika badan pengatur sepak bola dunia tersebut memang tidak memiliki rahasia kotor, mereka seharusnya bersedia mempercepat proses hukum dengan membuka akses dokumen. Penolakan ini justru memperkuat posisi oposisi yang saat ini didominasi oleh tiga konfederasi besar yang menuntut pengunduran diri Infantino.Konflik politik ini dipastikan akan memanaskan tensi menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Para penentang Infantino memiliki batas waktu hingga 18 November untuk mengajukan nama calon alternatif yang kredibel guna menantang dominasi sang petahana.