Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Pembukaan FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparanMenko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Indonesia bisa menjadi pusat pengembangan data center, di saat permintaan global tengah masif.Airlangga mengatakan pembangunan jaringan transmisi listrik hijau sepanjang 47.758 kilometer hingga 10 tahun ke depan bisa mendukung pengembangan digitalisasi, terutama data center dan kecerdasan buatan."Data center ini adalah industri yang momentumnya 3-4 tahun ke depan. Seluruh negara sedang berlomba-lomba," ungkapnya saat Investor Trust Seminar Nasional Green Economy 2045, Selasa (29/9).Airlangga menjelaskan, kapasitas data center yang sudah terbangun di Indonesia sebesar 800 megawatt (MW) atau 0,8 GW. Dalam waktu dekat, kata dia, akan ada tambahan sekitar 1,5 GW.Beberapa proyek data center yang tengah dibangun yakni di Nongsa Digital Park Batam, menurut Airlangga, meskipun belum rampung dibangun, seluruh kapasitas yang tersedia sudah habis terpesan.Selain itu, ekspansi industri data center juga menyasar daerah lain, misalnya kawasan Karawang dan Bekasi yang digadang-gadang akan menjadi pusat pertumbuhan beberapa data center skala besar di Indonesia."Kali ini kita kapasitasnya sekitar 800 megawatt, dan ini dalam waktu dekat saya belum tahu yang dimonitor di BKPM berapa, tetapi diperkirakan setara dengan 1,5 gigawatt dalam waktu dekat," jelas Airlangga.Ekonomi hijau, menurut dia, juga menjadi salah satu prasyarat menopang infrastruktur ekonomi digital. Airlangga menuturkan, nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai USD 100 miliar, dan berpotensi meningkat seiring dengan rencana penandatanganan Digital Economy Framework Agreement saat ASEAN Summit di Filipina."Negara ASEAN yang business as usual ekonomi digitalnya USD 1 triliun, itu akan meningkat menjadi USD 2 triliun, artinya Indonesia bisa punya peluang USD 400 sampai 600 miliar sampai tahun 2030, dan untuk itu hampir seluruh energinya dipersyaratkan energi hijau," tandas Airlangga.Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, mengatakan bahwa Indonesia sangat cocok menjadi pusat data center karena sumber daya yang andal dan berkelanjutan.Sumber daya tersebut tidak hanya dari sisi ketersediaan listrik hijau, namun juga air. Air sangat penting untuk keberlangsungan operasional data center sebagai sistem pendinginan (cooling-down system)."Amerika menyetop, Singapura menyetop, karena mereka tidak mempunyai supply yang reliable. Kita membutuhkan reliability di dalam suplai data center. Beberapa negara mengatakan karena kebutuhan cooling system yang digunakan oleh data center menimbulkan water balance-nya terpengaruh," ungkap Satya.Dengan demikian, sebuah negara tidak akan berani membangun data center jika tidak memiliki sumber daya air yang baik. Bagi Indonesia dengan sumber daya air tawar yang melimpah, seperti di waduk atau bendungan."Sementara kita menggunakan PLTS terapung. Dengan demikian paling cocok kira-kira apabila center-center pengembangannya ada di Indonesia," kata Satya.Satya menilai momentum permintaan data center yang sedang tinggi harus bisa dimanfaatkan Indonesia, ketika banyak negara masih maju mundur karena kekhawatiran kekeringan."Mumpung dunia sekarang itu maju-mundur, karena satu masalah water balance, mereka takut kekeringan karena airnya untuk cooling system data center tidak continuous supply. Kita bisa bilang dengan orang yang tadinya mengharapkan Singapura, kita bisa katakan coba ke Indonesia," tegasnya.