● Mikroplastik ditemukan pada darah ibu hamil dan plasenta yang terhubung ke janin.● Paparannya berasal dari berbagai sumber, tetapi mayoritas diduga dari makanan dan minuman.● Dampaknya bisa menghambat perkembangan janin dan mengganggu kesehatan reproduksi ibu.Pernahkah terpikir olehmu, sepotong plastik berukuran sekecil debu dan tak terlihat mata telanjang bisa menembus tubuh manusia hingga ke rahim?Inilah temuan terbaru kami di Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian pada tahun 2024 (belum dipublikasikan), kami menemukan mikroplastik dalam tinja, darah ibu maupun plasenta alias organ yang menghubungkan ibu dan janin.Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Partikel ini sulit terurai dan bisa bertahan lama di lingkungan, mencemari udara, tanah, dan air. Lantas, bagaimana mikroplastik bisa sampai ke dalam tubuh ibu hamil dan seberapa berbahaya cemarannya? Bagaimana mikroplastik masuk ke plasenta?Penelitian kami dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar melibatkan 29 ibu hamil peserta penelitian, menemukan terdapat rata-rata 2,57 partikel mikroplastik pada setiap sampel tinja, dan 1,44 partikel mikroplastik pada sampel darah. Partikel ini ditemukan dalam bentuk line dan fragmen.Temuan kami sejalan dengan riset internasional di Jerman pada 2021 yang mendeteksi mikroplastik dalam plasenta dan mekonium (feses pertama bayi) pada persalinan normal.Sebelumnya, pada 2024 kami menemukan kandungan mikroplastik pada seluruh sampel feses 30 ibu hamil sehat di dua puskesmas di Makassar. Total, ada 359 partikel mikroplastik yang teridentifikasi. Kami juga menemukan bahwa sebagian mikroplastik yang sempat melewati saluran cerna ibu hamil turut keluar bersama feses. Namun, tidak menutup kemungkinan sebagian lainnya terserap ke dalam tubuh.Paparan mikroplastik pada ibu hamil bersifat kumulatif. Sumbernya bisa datang dari piring makan, gelas, produk kemasan yang dipakai setiap hari, hingga makanan dan minuman yang dikonsumsi.Berbagai riset terbaru menunjukkan bahwa makanan dan minuman merupakan perantara bagi sebagian besar partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh. Baca juga: Riset temukan mikroplastik dalam garam yang kita konsumsi Mikroplastik dalam jumlah cukup tinggi, misalnya, ditemukan pada garam tradisional dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan maupun 45 garam bermerek di Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Makanan laut seperti ikan di perairan sekitar Makassar juga terbukti tercemar mikroplastik.Sementara itu, penelitian di Bangladesh tahun 2025 menemukan kandungan mikroplastik dalam jumlah besar pada beras mentah maupun yang sudah dimasak menjadi nasi.Paparan mikroplastik juga bisa berasal dari air minum kemasan maupun air keran. Bahkan, kebiasaan menyeduh teh celup berbahan plastik dapat melepaskan miliaran partikel mikro dan nanoplastik ke dalam secangkir minuman. Baca juga: Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir? Mengapa mikroplastik berbahaya bagi ibu dan janin?Plasenta seharusnya menjadi penyaring yang melindungi janin dari zat berbahaya. Namun, bukti ilmiah menunjukkan mikroplastik mampu menembus pelindung ini. Sebuah tinjauan internasional terkini menegaskan bahwa mikroplastik dan nanoplastik yang memasuki plasenta dapat memicu kerusakan sel akibat stres oksidatif (jumlah radikal bebas lebih banyak daripada antioksidan dalam tubuh), peradangan, serta gangguan hormon pada janin. Akibatnya, perkembangan janin bisa terganggu dan risiko kelahiran prematur meningkat. Tingginya paparan mikroplastik dalam plasenta terkait pula dengan besarnya risiko terhambatnya pertumbuhan janin atau dikenal sebagai intrauterine growth restriction (IUGR).Adapun efek paparan jangka panjang mikroplastik pada ibu diduga berkontribusi terhadap gangguan kesehatan reproduksi. Akan tetapi, mekanisme pastinya masih terus diteliti oleh para ilmuwan di seluruh dunia.Apa yang bisa kita lakukan?Kita mungkin tidak bisa menghindari paparan mikroplastik sepenuhnya karena kontaminasi partikel ini dapat bersumber dari mana saja. Namun, ada langkah sederhana untuk mengurangi paparannya. Baca juga: Hobi ‘takeaway’ kopi? Awas gelas sekali pakai lepaskan ribuan partikel mikroplastik Mencuci beras sebelum dimasak, misalnya, bisa mengurangi paparan plastik sebanyak 20 — 40%. Cuci bersih juga buah, sayur, daging, dan ikan hingga berulang kali.Selain itu, hindari konsumsi makanan dan minuman panas dalam wadah plastik. Jika ingin mengonsumsi teh di cangkir, sebaiknya gunakan teh seduh kasar (teh awur). Batasi juga konsumsi makanan olahan dan kemasan sekali pakai. Perlu kebijakan lebih tegasLangkah perlindungan individu saja sebenarnya tidak cukup. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang lebih tegas untuk mengatasi persoalan dari hulu ke hilir. Misalnya, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat lokal dalam membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai di wilayah pesisir. Tujuannya agar sampah plastik tidak mencemari perairan dan terdegradasi menjadi mikroplastik yang bisa mengontaminasi sumber makanan laut.Perketat juga pengawasan mutu produk pangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bisa menerbitkan regulasi soal standar ambang batas aman cemaran mikroplastik pada bahan pangan. Lalu, mewajibkan uji laboratorium berkala pada produk berisiko tinggi, seperti air minum dalam kemasan, garam dapur, dan makanan laut olahan.Selain itu, integrasikan perlindungan warga dari paparan pencemar lingkungan ke dalam kebijakan kesehatan reproduksi di Indonesia. Contohnya, lewat edukasi soal bahaya dan cara mencegah paparan mikroplastik pada ibu dan janin di posyandu dan puskesmas.Hasnawati Amqam menerima dana dari Unhas.