● Perempuan pesisir menjalankan fungsi rantai dingin melalui pengetahuan, mobilitas, dan jaringan pelanggan.● Infrastruktur pendingin belum menjangkau seluruh rantai distribusi perikanan skala kecil.● Kerja perempuan menopang distribusi pangan, tetapi masih kurang terlihat dan diakui.Setiap hari, Arsi mengendarai sepeda motor sejauh 20–30 kilometer untuk menjajakan ikan pindang dari rumah ke rumah. Ikan diambil dari pedagang langganannya di pasar, lalu ditaruh di keranjang dan ditutup plastik atau kain. Tanpa es.Pindang memang lebih awet karena sudah direbus. Namun, di bawah panas Madura, ikan tetap bisa cepat berubah. Arsi harus bergerak sebelum suhu semakin tinggi. Jika ikan masih tersisa ketika hari mulai terik, ia menurunkan harga agar dagangannya habis sebelum rusak.Di desa-desa pesisir Sumenep, Madura, perempuan seperti Arsi bukan sekadar pedagang. Mereka menjadi penghubung antara ikan dan rumah tangga yang membutuhkannya, bergerak dari desa ke desa membawa ikan tanpa es dan mesin pendingin.Meski bukan rantai dingin dalam arti teknis, mereka menjalankan sebagian fungsi yang biasanya dilakukan oleh rantai dingin (cold chain)—menjaga ikan tetap layak makan, memperpanjang umur simpannya, dan membawanya dari tempat ikan didaratkan ke dapur konsumen.Kecepatan bergerak, pengetahuan tentang kualitas ikan, dan jaringan pelanggan menjadi “peralatan” yang membuat ikan tetap bisa sampai ke meja makan. Sayangnya, peran mereka ini masih minim pengakuan.Ketika manusia menjadi infrastrukturDalam rantai nilai perikanan, laki-laki lebih sering terlibat dalam penangkapan, sementara perempuan banyak bekerja pada tahap setelah ikan didaratkan—mengolah, menjual, dan mendistribusikannya.Riset di Demak tahun 2021 menunjukkan pola serupa: perempuan lebih dominan dalam pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Studi lain juga menunjukkan kontribusi perempuan dalam rantai nilai perikanan kerap tidak terlihat atau dianggap hanya sebagai “bantuan” terhadap ekonomi keluarga.Di Sumenep, sebagian perempuan mengolah ikan sendiri dengan merebusnya menjadi pindang, menjemur, menggarami, atau mengasapnya. Semua dilakukan untuk memberi ikan waktu lebih panjang sebelum terjual.Antropolog Inggris, AbdouMaliq Simone, menggunakan istilah people as infrastructure untuk menggambarkan bagaimana manusia, melalui aktivitas dan jaringan hubungan mereka, dapat berfungsi layaknya infrastruktur yang menopang kehidupan ekonomi. Infrastruktur tidak selalu berupa jalan, gudang, atau mesin; relasi, pengetahuan, dan kerja sama antarmanusia pun bisa menjalankan fungsi itu.Konsep ini membantu menjelaskan apa yang terjadi di pesisir Sumenep: ketika fasilitas pendingin tidak tersedia, tubuh dan pengetahuan perempuan mengambil alih sebagian fungsinya.Rantai dingin yang tidak menjangkau semua orangIndonesia memang membutuhkan rantai dingin yang lebih baik. Susut hasil perikanan—yaitu ikan yang rusak atau terbuang setelah ditangkap—merupakan persoalan penting dalam perikanan skala kecil. Studi tahun 2025 di Jawa Timur menunjukkan bahwa suhu, pengalaman, jam kerja, bantuan pemerintah, dan sejumlah faktor lain berkaitan dengan susut pascapanen serta risiko keamanan ikan.Namun es tidak selalu menjadi jawaban. Penelitian lain di Jawa Timur, termasuk di Sampang, Madura, menemukan bahwa nelayan kerap memakai sedikit es atau tanpa es sama sekali, sementara sebagian pembeli justru menolak ikan yang dingin karena menganggapnya tidak segar atau tangkapan lama.Dengan kata lain, ketiadaan es dalam rantai informal ini bukan semata soal keterbatasan akses, tetapi juga soal bagaimana kesegaran dipahami dan dinilai di tingkat lokal.Meski pemerintah terus mengembangkan infrastruktur pendukung integrated cold storage seperti pabrik es dan gudang penyimpanan ikan melalui berbagai program, pembangunan fisik itu belum otomatis menjawab bagaimana ikan benar-benar bergerak di desa.Di Pantai Bintaro, Sumenep, misalnya, truk pedagang besar datang dengan drum-drum es untuk membawa ikan bermutu tinggi ke kota-kota di Pulau Jawa. Pada saat yang sama, perempuan penjual ikan berangkat ke wilayah jualannya dengan keranjang tanpa es. Es mengikuti ikan yang dibawa keluar desa, sementara perempuan membawa ikan menuju rumah tangga di dalam desa.Perbedaan ini penting karena sebagian besar usaha perikanan Indonesia berskala kecil dan tersebar. Studi FAO di kawasan Asia juga menunjukkan pola serupa: perempuan terkonsentrasi pada pengolahan dan pemasaran skala kecil untuk pasar domestik, sementara pedagang besar mengincar ekspor.Pekerjaan yang tidak terlihatMasalahnya bukan hanya tidak adanya fasilitas. Kerja perempuan juga sering tidak tercatat.Arsi mungkin tidak terdaftar sebagai pedagang. Perempuan lain mengolah ikan di dapur rumah, bukan di unit pengolahan bersertifikat. Sebagian bahkan tercatat hanya sebagai ibu rumah tangga.Padahal, pekerjaan mereka menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperluas akses pangan. Penelitian tahun 2025 tentang perempuan dalam perikanan skala kecil menunjukkan pekerjaan mereka sepanjang rantai nilai berkontribusi terhadap produktivitas dan pendapatan rumah tangga, tetapi masih sering tidak diakui dalam ekonomi formal dan kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.Aminah, misalnya, berjualan dengan berjalan kaki dari rumah ke rumah. Ia bahkan memasukkan rumah seorang pelanggan lansia yang tidak lagi mampu pergi ke pasar ke dalam rutenya.Pengetahuan seperti siapa yang kesulitan mengakses pasar, pelanggan mana yang membutuhkan ikan, dan jalan mana yang bisa dilewati adalah bagian dari sistem distribusi. Namun, pengetahuan itu sulit terlihat dalam statistik pembangunan.Karena itu, pertanyaannya bukan apakah Indonesia membutuhkan rantai dingin. Namun lebih ke apa risikonya membangun infrastruktur baru tanpa terlebih dahulu melihat infrastruktur yang sudah bekerja?Di Sumenep, sebagian fungsi itu selama ini dijalankan oleh perempuan. Mengakui mereka bukan berarti menggantikan kebutuhan akan cold chain. Justru sebaliknya, pengakuan itu dapat membantu pemerintah merancang dukungan yang sesuai dengan cara ikan dan pangan benar-benar bergerak di tingkat lokal—bukan sekadar menghadirkan solusi yang terlihat canggih dari atas.Sebab pada akhirnya, setiap ikan yang berhasil dijual Arsi dan Aminah bukan hanya barang dagangan. Itu adalah pangan yang berhasil sampai ke piring orang-orang yang membutuhkannya.Rizkyana Dipananda menerima dana dari NWO-WOTRO Science for Global Development melalui program Cooperation Indonesia – The Netherlands, untuk riset doktoralnya dalam proyek Innovative Knowledge About Networks – Fish For Food (IKAN-F3), nomor proyek W 07.50.1818.