Minyak Mentah Tembus USD 100/Barel, Airlangga Jamin Masuk Perkiraan APBN

Wait 5 sec.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOHarga minyak mentah global kembali menembus USD 100 per barel karena belum kunjung ada titik temu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran atas perang di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz.Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kondisi harga minyak mentah saat ini masih masuk dalam perkiraan APBN 2026, kendati sudah jauh di atas asumsi makro yang ditetapkan.Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD 70 per barel. Sama halnya dengan nilai tukar Rupiah yang asumsinya Rp 16.500 per dolar AS.Hingga Selasa (29/9), patokan harga minyak mentah global, Brent, untuk kontrak November sudah mencapai USD 106 per barel. Sementara nilai tukar Rupiah juga kembali tembus Rp 18.000 per dolar AS."Kalau kita lihat di tahun ini, harga masih sekitar USD 90 dan ini masih masuk ke dalam perkiraan dari APBN," tegas Airlangga saat ditemui di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (29/9).Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung merespons harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi dengan rencana optimalisasi sumber dalam negeri. Pemerintah akan mempercepat eksplorasi dan eksploitasi pada tahun mendatang.Sementara untuk harga BBM subsidi atau Pertalite, Yuliot memastikan tidak akan ada kenaikan hingga akhir tahun, selaras dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya.Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock"Sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan [harga subsidi] ini tidak ada kenaikan. Tapi kalau yang ini non-subsidi ini akan menyesuaikan dengan harga pasar. Jadi ini yang kita lihat rata-rata dalam 1 bulan kira-kira berapa penyesuaian kira-kira berapa," kata Yuliot usai tabur bunga di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9).Sebelumnya, dikutip dari Bloomberg, sejumlah pejabat Iran secara pribadi menyatakan pesimistis kesepakatan mengakhiri perang dengan AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal untuk memulihkan lalu lintas penuh melalui jalur air tersebut dalam tujuh hari.Di sisi lain, Arab Saudi telah memulihkan sekitar setengah aliran pipa lintas negara Timur-Barat, rute penting yang melewati selat tersebut, setelah serangan drone sempat menghentikan operasinya awal bulan ini. Aliran menuju Laut Merah lewat jalur itu kini telah mencapai setidaknya 3,5 juta barel per hari.