Kabar Tewasnya Rendi Asal Natuna usai Gabung Tentara Rusia

Wait 5 sec.

Rendi Apriyanto, warga Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Foto: Dok. IstimewaBeredar kabar seorang warga Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, bernama Rendi Apriyanto (30), bergabung dengan tentara Rusia. Ia dilaporkan tewas saat perang dengan Ukraina.Lurah Ranai Darat, A. Era Juin Marisa, membenarkan bahwa Rendi merupakan warga di wilayahnya. Namun, pihak kelurahan mengaku belum mengetahui secara pasti mengenai keberangkatan Rendy ke Rusia maupun aktivitasnya selama berada di negara tersebut.“Betul, dia warga kami,” kata Era saat dikonfirmasi, Rabu (30/9).Menurut Era, keberangkatan Rendi tidak pernah dilaporkan kepada pihak kelurahan. Karena itu, kelurahan tidak memiliki informasi mengenai kapan Rendy meninggalkan Natuna, tujuan keberangkatannya, maupun alasan kepergiannya ke Rusia.“Kelurahan tidak ada bikin surat izin melepas ke sana [Rusia],” kata dia.Era menyarankan agar informasi mengenai keberadaan dan aktivitas Rendi dikonfirmasi langsung kepada pihak keluarga, terutama orang tuanya.“Cerita lebih pasnya mungkin bisa langsung ke pihak orang tuanya,” kata dia.Keluarga: Pamitnya Kerja ke FilipinaIlustrasi pekerja migran. Foto: Hafiz Johari/ShutterstockSejak awal keluarga tak tahu Rendi berangkat dan bergabung dengan tentara Rusia. Menurut keluarga, Rendi meninggalkan Natuna sejak 2022. Namun, setelah ia berada di Rusia, keluarga tidak mengetahui perusahaan maupun pihak yang membawanya ke negara tersebut.Hal itu diungkapkan Starky, Ketua RT 03/RW 01 Kelurahan Ranai Darat, setelah bertemu keluarga Rendi.“Awalnya dia meninggalkan Ranai, tujuannya ke Tanjungpinang, untuk mencari kerja. Infonya begitu,” kata Starky melalui sambungan telepon.Setelah beberapa waktu di Tanjungpinang, Rendi kemudian berpindah ke Batam dan Jakarta. Menurut Starky, pada periode tersebut keluarga masih mengetahui keberadaan dan pekerjaan Rendi.Rendi kemudian disebut memperoleh pekerjaan di Filipina. Kepada keluarganya, ia diketahui bekerja di bidang yang berkaitan dengan jaringan listrik atau internet.“Orang tuanya tahu kerjanya di Filipina, di jaringan listrik atau internet,” ujar Starky.Namun, perjalanan Rendi kemudian berlanjut ke Rusia.Menurut Starky, sekitar Februari 2026 keluarga mendapat informasi bahwa Rendi telah berada di Rusia. Informasi yang diterima keluarga menyebut Rendi berada di sana untuk bekerja.Starky menyebut keluarga tidak mengetahui perusahaan yang mempekerjakan Rendi di Rusia.“Orang tuanya pun tidak tahu. Rendi pun tidak pernah bercerita dia bekerja di perusahaan mana. Tahunya dia hanya berada di negara itu,” katanya.Starky juga mengatakan pihaknya di Ranai Darat tidak mengetahui secara pasti bagaimana Rendi bisa berangkat ke Rusia.Informasi mengenai perjalanan Rendi disebut baru diketahui lebih jauh setelah pihak keluarga memperoleh cerita dari rekan-rekan Rendi.Berangkat Bersama RombonganIlustrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan berangkat ke Malaysia melalui pintu resmi, pelabuhan Tunon Taka, Nunukan. Foto: BP2MI-HO/ANTARAMenurut Starky, ada informasi bahwa Rendi bersama sejumlah warga Indonesia lainnya melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia.Namun, Starky belum dapat memastikan informasi mengenai jalur keberangkatan maupun pihak yang merekrut Rendi.Karena pihak yang membawa Rendi ke Rusia belum jelas, muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya praktik perekrutan bermasalah, termasuk dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).Namun, Starky menegaskan hal tersebut belum dapat dipastikan.“Takutnya ada yang merekrut. Tapi sampai sekarang kita belum bisa memastikan,” ujarnya.Respons Keluarga soal Rendi Terima Rp 600 JutaSejumlah tentara Rusia berbaris dalam parade peringatan kemenangan Perang Dunia Kedua di Moskow, Rusia, Jumat (9/5/2025). Foto: Host agency RIA Novosti/Handout via REUTERSBeredar kabar nilai kontrak kerja Rendi bergabung sebagai tentara Rusia mencapai sekitar Rp 600 juta. Namun, pihak keluarga disebut tidak pernah menerima uang sebesar itu.Starky mengatakan informasi mengenai kontrak Rp 600 juta tersebut diperoleh dari cerita yang beredar terkait keberangkatan Rendi ke Rusia.Namun, ia menegaskan angka tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.“Yang Rp 600 juta itu kita masih rancu dengan keterangan itu. Orang tuanya pun tidak pernah menerima uang sebanyak itu,” kata Starky.Menurut Starky, uang yang pernah diterima keluarga berasal dari beberapa kali transfer yang dilakukan Rendi. Transfer tersebut disebut dilakukan melalui layanan pengiriman uang.Nominal yang diterima keluarga disebut jauh lebih kecil dibandingkan angka Rp 600 juta. Starky menyebut pernah ada transfer sekitar Rp 50 juta dan Rp 20 juta, selain beberapa transfer lainnya.Namun, ia belum dapat memastikan jumlah keseluruhan uang yang pernah dikirim Rendi kepada orang tuanya.“Yang pernah masuk itu Rp 50 juta, Rp 20 juta atau berapa, hanya beberapa kali,” ujarnya.Menurut Starky, uang tersebut bahkan pernah dipesankan Rendi agar digunakan untuk keperluan ibadah kedua orang tuanya.Rendi disebut memiliki niat menggunakan hasil kerjanya untuk membantu keluarga dan membiayai umrah kedua orang tuanya. Karena itu, keluarga disebut telah mendaftarkan diri untuk mengikuti umrah.Sementara itu, mekanisme pembayaran kontrak senilai Rp 600 juta tersebut masih belum diketahui.Starky mengatakan belum jelas apakah angka tersebut merupakan nilai keseluruhan kontrak selama masa kerja atau uang yang seharusnya dibayarkan langsung setelah kontrak ditandatangani.“Apakah setelah kontrak selesai baru dibayarkan Rp 600 juta atau waktu teken kontrak langsung dibayar Rp 600 juta, itu yang belum kita tahu,” katanya.Bupati: Masih Simpang SiurBupati Natuna Cen Sui Lan saat ditemui di Gedung Wanita Kabupaten Natuna, Kepri, Rabu (30/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanPemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna masih memastikan kabar terkait Rendi dan menyiapkan langkah pemulangan jenazah jika informasinya benar.Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan, pihaknya telah meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) berkoordinasi dengan keluarga Rendi."Dari pemerintah kabupaten sudah menegaskan Kesbangpol untuk berkoordinasi dengan keluarga. Informasi yang kita dapatkan masih simpang siur," kata Cen di Kantor Bupati Natuna."Tentunya kita mengharapkan kalau memang sudah meninggal, apa solusinya supaya bisa segera dibawa kembali. Tetapi kita tetap harus berkoordinasi dengan pusat, karena saya kan tidak mungkin bekerja sendiri," sambungnya.Cen mengaku belum mengetahui bagaimana Rendi bisa berangkat ke Rusia dan apa aktivitasnya di sana. Ada informasi Rendi sempat berada di Filipina sebelum pergi ke Rusia, tetapi Pemkab belum bisa memastikannya."Keberangkatan almarhum juga tidak kita ketahui. Ada informasi beliau sudah pernah ke Filipina, kemudian ke Rusia," ujarnya.Cen juga menyebut, ada informasi Rendi tidak bergabung sebagai tentara, melainkan hanya bertugas mengantar logistik."Dan beliau, sebenarnya kita juga enggak tahu apa motifnya, apakah benar menjadi tentara di sana atau menjadi. Ada informasi beliau hanya mengantar sebagai logistik," katanya.Pemkab Natuna akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk mencari penyelesaian. Cen menegaskan, WNI tidak boleh menjadi tentara di negara lain."Apa pun itu tidak boleh warga negara Indonesia menjadi tentara di luar negeri," tegasnya.Ketua MPR: Jangan Tergiur Tawaran Jadi Tentara BayaranKetua MPR Ahmad Muzani dan Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat ditemui usai Kunjungan Kerja Delegasi Pimpinan MPR ke Daerah Perbatasan Kab Natuna, Prov Kepulauan Riau, Rabu (30/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanDalam kesempatan yang sama dengan Cen, Ketua MPR Ahmad Muzani mengimbau masyarakat agar tidak tergiur tawaran pekerjaan yang berkaitan dengan tentara bayaran di negara lain.Menurut Muzani, semua pihak bertugas menjaga kedaulatan negara dan memastikan WNI tetap setia kepada NKRI."Saya kira tugas kita semua, tugas kami adalah menjaga kedaulatan negara termasuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk tetap loyal dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Muzani.Ia menegaskan tawaran menjadi tentara bayaran tidak dibenarkan. Namun, pemerintah perlu menyediakan lapangan kerja dan kehidupan yang layak agar kasus serupa tidak terulang."Iming-iming ataupun tawaran-tawaran terhadap pekerjaan lain apalagi yang berkonotasi kepada tentara bayaran, saya kira sesuatu yang jelas tidak dibenarkan. Tetapi di sisi lain kita juga harus menyediakan lapangan pekerjaan dan kelayakan hidup yang lebih baik supaya hal seperti itu tidak terulang," ujarnya.