Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFPBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2026 mencetak rekor tertinggi sebesar 131,11. Angka tersebut naik 1,49 persen dibandingkan NTP pada Agustus 2026 yang sebesar 129,19.Penyebab kenaikan NTP adalah kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,93 persen dan lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,44 persen.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan sejumlah komoditas seperti gabah, karet, cabai rawit, dan kelapa sawit menjadi pendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani pada September 2026.“Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani yaitu gabah, karet, cabai rawit, dan juga kelapa sawit,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Kamis (1/10).Jika dilihat berdasarkan subsektor, seluruh subsektor utama pertanian mengalami kenaikan NTP pada September 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang mencapai 4,04 persen.Ateng menjelaskan, kenaikan NTP hortikultura didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 4,34 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani hortikultura hanya naik 0,30 persen.“Untuk subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu hortikultura. Subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP sebesar 4,04 persen, terutama didorong oleh kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani hortikultura yaitu naik 4,34 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar oleh petani hortikultura mengalami kenaikan hanya sebesar 0,30 persen,” terang Ateng.Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani hortikultura yaitu cabai rawit, cabai merah, dan tomat.“Komoditas yang dominan untuk mempengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima yaitu cabai rawit, cabai merah, dan juga tomat. Secara umum seluruh subsektor utama pertanian mengalami kenaikan NTP,” ujar Ateng.Berdasarkan data BPS, NTP subsektor tanaman pangan pada September 2026 tercatat 119,24. Kemudian NTP tanaman hortikultura sebesar 129,50, tanaman perkebunan rakyat 171,67, dan peternakan 102,91.Secara kumulatif Januari-September 2026, NTP nasional tercatat 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kenaikan kumulatif terbesar terjadi pada subsektor tanaman hortikultura sebesar 6,60 persen.Kenaikan NTP menunjukkan harga yang diterima petani dari hasil produksinya meningkat lebih tinggi dibandingkan harga yang harus dibayar petani untuk kebutuhan produksi dan konsumsi rumah tangga. Indikator ini digunakan untuk melihat perkembangan daya beli petani.Sebelumnya, pada Agustus 2026 BPS mencatat NTP nasional sebesar 129,19 atau naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026. Dengan kenaikan pada September, NTP nasional kembali menguat sekaligus mencapai level tertingginya.