Bukan Sekadar Angka, 524 Kasus HIV di Kukar Jadi Alarm untuk Perkuat Pencegahan

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, KUKAR – Sebanyak 524 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) hingga Juni 2026.Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 451 kasus.Namun, bagi Ketua DPRD Kukar, Yani, persoalan HIV tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kasus yang terus bertambah.Menurutnya, angka tersebut harus menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat perlu diperkuat. Penanganan HIV juga tidak bisa hanya menunggu seseorang terinfeksi untuk kemudian mendapatkan pengobatan.“Persoalan HIV ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Semua stakeholder harus mengambil peran, terutama Dinas Kesehatan bersama rumah sakit yang harus terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat agar penularan dapat dicegah,” ungkapnya, Rabu (22/7/2026). Yani menilai, edukasi mengenai HIV perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi sesekali.Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang benar mengenai cara penularan, pencegahan, serta pentingnya melakukan pemeriksaan. Edukasi tersebut, kata dia, juga perlu menyasar generasi muda.“Kita tentu sangat prihatin dengan kondisi ini. Karena itu kami berharap seluruh pihak, terutama instansi yang menangani persoalan ini, terus meningkatkan pembinaan, sosialisasi, dan pendidikan kepada masyarakat mengenai bahaya HIV serta bagaimana cara mencegah penularannya,” jelasnya.Menurut Yani, penanganan HIV juga tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Pemerintah daerah, rumah sakit, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), hingga DPRD dinilai memiliki peran dalam memperkuat edukasi kepada masyarakat.Selain mencegah penularan, pemahaman yang benar mengenai HIV juga dinilai penting untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV.Sebab, stigma dan ketakutan terhadap penilaian lingkungan dapat membuat seseorang enggan melakukan pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan.“524 kasus ini tentu menjadi perhatian kita. Jangan sampai masyarakat baru peduli setelah ada yang terinfeksi. Pencegahan harus dilakukan sejak awal,” ujarnya.Yani berharap upaya penanganan HIV di Kukar ke depan tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga memperkuat pencegahan dan edukasi.Dengan begitu, masyarakat diharapkan lebih terbuka untuk mendapatkan informasi dan melakukan pemeriksaan tanpa dibayangi rasa takut maupun stigma.