BorneoFlash.com, SAMARINDA – Ketua DPRD Kota Samarinda Helmi Abdullah menilai lulusan sekolah maupun perguruan tinggi perlu memiliki keterampilan tambahan agar mampu bersaing di tengah ketatnya pasar kerja. Menurutnya, ijazah saja tidak lagi menjadi jaminan seseorang dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan.Pernyataan tersebut disampaikan Helmi menyikapi masih adanya tantangan ketenagakerjaan di Kota Samarinda meskipun angka pengangguran menunjukkan tren penurunan.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Samarinda pada 2025 tercatat sekitar 25 ribu orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,31 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,75 persen.Meski demikian, Helmi menilai persoalan ketenagakerjaan masih perlu menjadi perhatian serius karena setiap tahun ribuan lulusan SMA, SMK hingga perguruan tinggi memasuki pasar kerja dengan harapan memperoleh pekerjaan.“Kita masih menghadapi persoalan pengangguran. Sementara setiap tahun ada ribuan lulusan baru dari SMA, perguruan tinggi, bahkan jenjang pascasarjana yang masuk ke dunia kerja dan berharap mendapatkan pekerjaan,” ujarnya, pada Sabtu (25/7/2026).Menurut Helmi, pertumbuhan jumlah pencari kerja belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Kondisi tersebut membuat persaingan semakin ketat dan menuntut para pencari kerja memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri.Ia menegaskan bahwa perusahaan saat ini tidak hanya mempertimbangkan latar belakang pendidikan calon pekerja, tetapi juga melihat kompetensi dan keterampilan yang dimiliki.“Untuk masuk ke dunia kerja sekarang tidak semudah dulu. Karena itu, modal ijazah saja tidak cukup. Harus ada kemampuan lain yang menjadi nilai tambah,” katanya.Politisi Partai Gerindra tersebut mendorong generasi muda untuk mulai mengembangkan setidaknya satu keterampilan yang dapat menunjang peluang kerja. Keterampilan itu bisa berupa kemampuan teknis maupun keahlian lain yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri.“Kami berharap generasi muda memiliki minimal satu keahlian yang bisa menjadi pendukung. Ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu, mereka memiliki peluang lebih besar dan tidak tersisih dalam proses seleksi,” tuturnya.Selain itu, Helmi menilai keberadaan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) maupun lembaga pelatihan lainnya perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program pelatihan yang sesuai kebutuhan industri diyakini dapat membantu masyarakat memperoleh pekerjaan lebih cepat.Ia juga menekankan bahwa keterampilan tidak hanya berguna untuk mencari pekerjaan, tetapi dapat menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin membangun usaha secara mandiri.“Dengan keterampilan yang dimiliki, seseorang tidak hanya berpeluang menjadi pekerja, tetapi juga bisa membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja baru,” jelasnya.Di tingkat provinsi, data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Kalimantan Timur pada Februari 2026 berada di angka 5,27 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama, terutama di daerah perkotaan seperti Samarinda yang menjadi tujuan pencari kerja dari berbagai wilayah.Helmi berharap sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan lembaga pelatihan dapat terus diperkuat agar lulusan baru memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.“Harapan kami, lembaga-lembaga pelatihan seperti BLKI dapat terus membekali masyarakat dengan keterampilan yang relevan sehingga mempermudah mereka saat mencari pekerjaan maupun ketika ingin merintis usaha sendiri,” pungkasnya. (*/advdprdsamarinda)