Naik Angkot dan Belajar Mendengar Suara yang Mulai Samar

Wait 5 sec.

Dok: AIAkhir pekan lalu saya kembali melakukan satu kebiasaan yang sesekali saya lakukan ketika ada film menarik di bioskop: naik angkot menuju sebuah mal. Mungkin ketika tulisan ini terbit, pembaca sudah bisa menebak film apa yang saya tonton. Namun, sebagus apa pun film itu, justru bukan cerita di layar lebar yang paling lama tinggal dalam ingatan saya. Yang membekas adalah perjalanan menuju bioskop—sebuah perjalanan yang mempertemukan saya dengan seorang sopir angkot dan percakapan yang tampaknya sederhana, tetapi menyimpan banyak lapisan makna.Saya berdiri di tepi jalan sebelum masuk waktu Zuhur. Rencananya saya akan salat di musala mal sebelum menonton. Tak lama kemudian sebuah angkot berhenti di depan saya. Saya memilih duduk di kursi depan. Penumpang di belakang hanya satu atau dua orang, saya tak terlalu memperhatikan. Sopir sering memandang ke pinggir jalan, berharap ada tangan yang melambai meminta tumpangan.Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa di tengah derasnya arus transportasi berbasis aplikasi, angkot di kota saya ternyata belum benar-benar hilang. Ia masih bertahan, meski dengan napas yang mungkin tidak lagi sepanjang dulu. Bagi sebagian warga, angkot tetap menjadi pilihan karena ongkosnya lebih murah. Bahkan, ada kebiasaan menarik yang masih dipertahankan: selama tujuan penumpang tidak terlalu jauh dari rute utama, sopir bersedia mengantar hingga ke lokasi. Dalam batas tertentu, angkot menjadi lebih lentur, nyaris menyerupai taksi.Namun fleksibilitas itu rupanya tidak cukup untuk mengembalikan penumpang.Sebelum sampai di pasar besar itu, saya mendengar sopir itu menggerutu pelan, "Mana ini orang-orang?" Kalimat itu tidak terdengar seperti amarah. Lebih tepat jika disebut sebagai keluhan yang lahir dari kecemasan. Ada perbedaan tipis antara orang yang marah karena kesal dan orang yang mengeluh karena sedang khawatir. Saya menangkap yang kedua.Di pasar besar kami berhenti cukup lama. Hanya satu orang yang naik.Perjalanan kembali berlanjut.Di tengah jalan, angkot tiba-tiba berbelok ke rute yang tidak biasa. Saya sempat khawatir salah kendaraan. Setelah saya bertanya apakah angkot ini tetap melewati mal tujuan saya, sopir hanya mengangguk singkat. Rupanya ia sedang mengantar seorang penumpang hingga ke dekat lokasi tujuan.Baru setelah penumpang itu turun, percakapan kami dimulai."Dari kampus ke kota lama cuma tiga orang," katanya. "Baliknya juga tiga orang."Ia lalu menambahkan kalimat yang mungkin sudah sering kita dengar."Sejak ada transportasi online, penumpang sepi."Saya hanya mengangguk.Sebenarnya, bahkan sebelum ia mengatakannya, saya sudah merasakan kesepian itu. Angkot yang lebih banyak membawa kursi kosong daripada manusia selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Di satu sisi saya menikmati perjalanan yang lapang. Di sisi lain, saya sadar bahwa setiap kursi kosong berarti penghasilan yang tidak jadi diperoleh seseorang.Ketika Kemajuan Mengubah Wajah KehidupanKita hidup pada zaman ketika efisiensi menjadi ukuran hampir segala hal. Transportasi online menawarkan kepastian tarif, kemudahan pemesanan, waktu tunggu yang singkat, dan kenyamanan yang sulit disaingi angkot. Sulit menyalahkan masyarakat yang memilih layanan tersebut. Dalam logika konsumen, pilihan itu rasional.Namun kemajuan teknologi hampir tidak pernah datang tanpa biaya sosial.Ekonom Joseph Schumpeter menyebut fenomena ini sebagai creative destruction—proses ketika inovasi menciptakan kemajuan sekaligus menghancurkan bentuk-bentuk ekonomi lama. Teknologi melahirkan peluang baru, tetapi pada saat yang sama menggeser pekerjaan, kebiasaan, bahkan identitas sebagian orang.Di kota-kota besar, fenomena itu mungkin tampak sebagai angka dalam laporan ekonomi. Tetapi di dalam angkot, ia memiliki wajah yang jauh lebih manusiawi: seorang sopir yang berkali-kali melongok ke jalan berharap ada satu penumpang lagi.Barangkali inilah sisi perubahan yang sering luput dari perhatian kita. Kita begitu sibuk menikmati manfaat inovasi hingga lupa bahwa setiap kemudahan selalu memiliki konsekuensi bagi orang lain.Bukan berarti kita harus menolak teknologi. Sama sekali bukan. Kehadiran transportasi daring telah membantu jutaan orang memperoleh akses mobilitas yang lebih baik dan bahkan membuka lapangan kerja baru. Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada kemampuan kita membaca dampak sosial yang ditinggalkannya.Kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat kita tiba di tujuan, tetapi juga dari seberapa sedikit orang yang tertinggal di sepanjang perjalanan.Percakapan yang Membuka Jendela KehidupanKetika angkot berhenti di depan kawasan tugu itu, seorang penumpang kembali naik. Saya sempat merasa lega, meskipun saya sendiri tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap bertambahnya penumpang. Barangkali rasa lega itu muncul karena saya mulai ikut menghitung rezeki sopir tersebut.Suasana kemudian berubah lebih cair.Sopir bercerita tentang rombongan yang baru saja ia antar dari sebuah acara kerukunan daerah. Menurut cerita yang ia dengar, acara berlangsung cukup lama, tetapi konsumsi belum juga dibagikan sehingga sebagian peserta memilih pulang.Tak lama kemudian ia bertanya kepada penumpang yang baru naik."Sudah makan?"Jawabannya sederhana."Yang makan cuma yang bawa makanan."Saya tentu tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya. Bisa jadi panitia memang belum sampai pada jadwal makan. Bisa jadi hanya terjadi kesalahpahaman. Saya tidak berada di lokasi dan tidak memiliki alasan untuk menghakimi siapa pun.Namun percakapan singkat itu membuat saya berpikir tentang sesuatu yang lebih luas. Sering kali kita menganggap persoalan-persoalan kecil sebagai hal yang remeh. Padahal bagi sebagian orang, makan siang gratis dalam sebuah acara bukan sekadar konsumsi. Ia adalah bagian dari pengeluaran harian yang bisa dihemat.Di sinilah empati sering kali lahir—bukan dari pidato-pidato besar, melainkan dari percakapan yang tampaknya sepele.Sosiolog Amerika, Richard Sennett, pernah menulis bahwa masyarakat modern perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan kehidupan orang lain. Kita semakin sering hidup berdampingan, tetapi semakin jarang saling memahami. Kita melihat orang, tetapi tidak benar-benar mendengar ceritanya.Barangkali itulah yang saya rasakan di dalam angkot hari itu.Sopir itu terus mengulang cerita yang sama. Mungkin ia sedang berkelakar. Mungkin sedang menyindir. Atau mungkin ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Kadang-kadang manusia tidak mencari solusi. Mereka hanya ingin kegelisahannya memiliki saksi.Mendengar Sebelum MemutuskanPerjalanan menuju mal hari itu memang terasa lebih lama daripada biasanya. Anehnya, saya tidak merasa dirugikan.Justru di dalam keterlambatan itu saya memperoleh sesuatu yang tidak mungkin saya dapatkan jika memesan kendaraan secara daring dan sibuk menatap layar ponsel sepanjang perjalanan.Saya mendapatkan kesempatan untuk mendengar.Mendengar bagaimana seseorang memaknai pekerjaannya.Mendengar bagaimana perubahan ekonomi dirasakan dari balik kemudi angkot.Mendengar bagaimana harapan seseorang kadang sesederhana ada satu penumpang lagi yang naik di tikungan berikutnya.Pengalaman itu mengingatkan saya pada konsep slow observation yang mulai banyak dibicarakan dalam kajian psikologi dan humaniora. Di tengah budaya yang serba cepat, manusia justru kehilangan kemampuan mengamati secara perlahan. Kita bergerak semakin cepat, tetapi semakin sedikit memahami dunia yang kita lewati.Mungkin karena itulah perjalanan dengan angkot terasa berbeda. Ritmenya memaksa kita memperhatikan. Ada jeda. Ada waktu untuk melihat wajah orang lain. Ada ruang untuk mendengar cerita yang tidak pernah muncul di media sosial.Padahal, kehidupan sering kali memperlihatkan dirinya justru dalam jeda-jeda semacam itu.Belajar Melihat dari Kursi Depan AngkotSaya akhirnya tiba di mal tujuan. Film yang saya tonton mungkin akan saya lupakan beberapa bulan lagi. Namun percakapan di dalam angkot itu kemungkinan akan bertahan lebih lama.Saya pulang dengan satu kesadaran sederhana: memahami kehidupan masyarakat tidak selalu membutuhkan survei besar, laporan statistik, atau seminar kebijakan publik. Semua itu penting. Tetapi ada pengetahuan yang tidak pernah bisa ditangkap oleh angka.Pengetahuan itu hanya muncul ketika kita bersedia duduk, mendengar, dan memberi ruang bagi pengalaman orang lain untuk berbicara.Karena itu saya membayangkan, alangkah baiknya jika para pengambil kebijakan, pejabat publik, bahkan siapa pun yang ingin memahami masyarakat, sesekali meninggalkan ruang rapat dan melakukan perjalanan seperti ini. Bukan untuk pencitraan, bukan pula untuk menghasilkan konten media sosial, melainkan untuk mengalami sendiri denyut kehidupan yang sehari-hari dijalani rakyat.Sebab kebutuhan masyarakat tidak selalu terdengar dari podium atau ruang konferensi. Ia sering kali berbisik dari kursi depan sebuah angkot yang melaju pelan, berhenti berkali-kali, dan berharap ada satu penumpang lagi yang naik.Mungkin di situlah demokrasi menemukan makna yang paling sederhana: ketika kita tidak hanya berbicara atas nama rakyat, tetapi terlebih dahulu bersedia mendengarkan suara mereka. Bahkan ketika suara itu datang dari keluhan seorang sopir angkot yang sedang berjuang mempertahankan pekerjaannya di tengah zaman yang terus berubah.