Benarkah Kolom Opini Awalnya hanya untuk Kelompok Oposisi?

Wait 5 sec.

Ilustrasi oleh AI (Gemini)Cuplikan Sejarah Lahirnya Halaman Opini di The New York TimesKolom opini di koran-koran arus utama di Amerika Serikat (AS) mendapat tempat terpandang di mata khalayak. Dapat menulis di halaman itu merupakan sebuah hak istimewa (privilege) tersendiri. Di jagat persuratkabaran AS, halaman ini disebut juga Opposite Editorial Page atau Op-Ed Page.Apa maksudnya nama itu? Sebutan ini kerap diartikan secara salah kaprah hingga hari ini. Banyak orang mengira kata "Op" (Opposite) merujuk pada pengertian oposisi. Artinya, halaman itu diperuntukkan bagi kalangan oposisi, atau yang memiliki pandangan berlawanan (opposite) dengan surat kabar dimaksud. Ternyata tidak.Kata opposite dipakai dengan alasan yang simpel. letak halamannya secara fisik saling bersebelahan atau berhadapan (opposite) dengan halaman editorial. Penempatan berseberangan itu lah yang diterangkan oleh kata opposite.Ilustrasi koran The New York Times. Foto: Shutter Stock Menurut Michael Socolow dalam studinya yang berjudul "A Profitable Public Sphere: The Creation of The New York Times Op-Ed Page" (terbit di jurnal Communication and Journalism Faculty Scholarship pada tahun 2010) awalnya koran-koran di AS tidak memiliki kolom opini bagi penulis dari luar organisasi surat kabar. Tulisan-tulisan bergenre opini umumnya karya wartawannya sendiri. Bila pun ada tulisan dari pihak luar, formatnya disajikan secara sporadis sebagai komentar lepas atau surat pembaca.Tulisan opini yang paling berpengaruh dan memiliki tempat terhormat tentulah editorial atau tajuk rencana. Ia dibaca oleh para pengambil keputusan, mulai dari duta besar, anggota parlemen, hingga presiden.Editorial semakin penting karena sejarah persuratkabaran AS yang pada masa itu diramaikan oleh koran-koran kecil yang sektarian, partisan, dan bias secara politik. Koran-koran pada masa itu dipenuhi oleh opini subyektif dari pemilik atau kelompok penyokongnya. Oleh karena itu pandangan redaksi sebuah surat kabar yang disampaikan melalui editorial, dipakai oleh pembaca untuk melakukan penilaian terhadap surat kabar yang dibacanya.Dalam perjalanannya, surat kabar mulai merasakan adanya kebutuhan bagi perluasan ruang pembaca. Hal ini terutama untuk meraih kue iklan yang lebih besar.Namun, perluasan pembaca hanya bisa terjadi bila surat kabar tidak terlalu berpihak. Pembaca menginginkan laporan jurnalistik yang objektif. Oleh karena itu salah satu cara untuk memperluas pembaca ialah menyajikan berita yang objektif dan faktual dengan memisahkan secara tegas—bahkan melalui tata letaknya—antara ruang berita (news) dan ruang opini (opinion).Namun, akomodasi seperti ini ternyata dirasa tidak cukup. Memasuki awal abad ke-20, muncul tuntutan dan keinginan menyediakan tempat bagi opini yang berbeda di luar sikap resmi surat kabar. Para politisi, akademisi, dan pengambil kebijakan ingin menyuarakan pemikiran mereka secara mendalam, sama seperti halnya dewan redaksi menulis editorial. Mereka menuntut agar tulisan mereka ditempatkan sejajar dan setara dengan halaman editorial.Salah satu koran pertama yang bereksperimen menyajikan halaman opini di sebelah halaman editorial adalah Chicago Tribune pada 1912. Sementara itu, New York World di bawah editor Herbert Bayard Swope mulai menyajikan halaman serupa pada era 1920-an, meskipun ruang tersebut masih didominasi oleh kolumnis internal koran. Selanjutnya, The Washington Post secara terbuka menyebut halaman komentar di seberang editorial sebagai "halaman opini" pada 1930-an, diikuti oleh Los Angeles Times pada era 1950-an.Koran legendaris The New York Times (NYT) tak luput dari arus perkembangan ini. Lahirnya Op-Ed Page di koran ini penuh dengan intrik idealisme yang sangat menarik.Alkisah, John B. Oakes berteman dekat dengan Edward Barrett. Oakes adalah anggota dewan redaksi NYT dan redaktur rubrik editorial, sedangkan Barrett adalah mantan asisten Menteri Luar Negeri AS yang kemudian menjabat sebagai Dekan Sekolah Jurnalisme Columbia sembari aktif di bidang hubungan masyarakat (humas).Pada 1956, Oakes menerima surat dari Barrett yang sedang mewakili kliennya, Perusahaan Terusan Suez. Isi surat tersebut menyatakan keinginan untuk menerbitkan sebuah artikel yang merinci posisi dan argumen kliennya terkait perebutan terusan tersebut oleh Mesir. Barrett bahkan sudah menyusun artikel pendek yang siap cetak.Oakes sebenarnya sangat menyukai esai tersebut. Namun, ia terpaksa menolaknya dengan alasan yang jujur: NYT sama sekali "tidak memiliki tempat untuk karya dari pihak luar semacam itu." Kecewa dengan penolakan tersebut, Barrett beralih ke koran pesaing, New York Herald Tribune, yang tanpa ragu langsung memuatnya di halaman editorial mereka.Pengalaman pahit itulah yang di kemudian hari diakui Oakes sebagai percikan awal yang mendorongnya mengusulkan pembuatan halaman opini khusus di NYT. Ia secara serius menyampaikan gagasan ini kepada Pemimpin Umum NYT, Orvil Dreyfoos, pada era 1960-an dan kemudian kepada penerusnya, Arthur Sulzberger. Sayangnya, proposal Oakes berkali-kali membentur dinding penolakan manajemen.Penyebab penolakan ini adalah benturan antara idealisme ruang publik dan realitas bisnis komersial. Selama bertahun-tahun, halaman di sebelah editorial NYT telah ditempati oleh rubrik Obituari. Di era koran cetak berjaya, ruang Obituari berbayar (berita duka cita) adalah salah satu mesin uang dan penyumbang pendapatan iklan bagi manajemen surat kabar. Menggusur Obituari demi sebuah halaman opini gratis dari penulis luar dianggap sebagai keputusan bisnis yang tidak masuk akal oleh jajaran direksi saat itu.Penolakan berbasis profit ini tidak menyurutkan semangat Oakes. Ia justru menjalankan kampanye publik untuk menggolkan gagasannya dengan berbicara di berbagai universitas. Oakes melontarkan argumen bahwa sebuah surat kabar memerlukan kedalaman analitis dalam menjalankan perannya menafsirkan zaman kepada masyarakat umum. Tanggung jawab penafsiran ini, menurutnya, tidak boleh didominasi oleh satu suara otoritas tunggal dari redaksi koran saja. Ia menekankan bahwa keberagaman opini dari luar adalah sumber kehidupan sejati bagi sebuah sistem demokrasi.Untuk melunakkan resistensi manajemen, Oakes melakukan uji coba secara berkala melalui rubrik kolom Topics of the Times. Ruang ini sengaja disediakan bagi kontributor luar dengan memperkenalkan format esai klasik yang berbeda dari analisis berita standar. Esai-esai tersebut sengaja dikurasi untuk mengangkat tema-tema universal, humanistik, dan filosofis.Tulisan dengan nama penulis asli dari luar (byline) muncul pertama kali di rubrik uji coba ini pada 1965. Setahun kemudian, orang-orang terpandang di bidangnya mulai diundang untuk berkontribusi.Percobaan ini mendapat sambutan yang luar biasa hangat. Banyak kontributor merasa terhormat karena NYT memberikan jaminan bahwa tulisan yang tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan kebijakan editorial koran pun akan tetap diberi tempat yang adil.Melihat kesuksesan dan potensi besarnya, manajemen NYT akhirnya luluh. Tepat pada 21 September 1970, halaman Op-Ed NYT resmi diluncurkan untuk pertama kalinya. Demi menegaskan komitmen Oakes terhadap keberagaman suara, edisi perdana tersebut langsung memasang tulisan W.W. Rostow (mantan Penasihat Keamanan Nasional AS yang pro-kebijakan luar negeri Amerika) bersandingan secara kontras dengan esai karya Han Suyin (penulis kelahiran Tiongkok yang memberikan perspektif dari sudut pandang Beijing). Edisi ini menjadi tonggak sejarah yang langsung ditiru secara massal oleh berbagai surat kabar di seluruh dunia.Halaman Op-Ed dalam perjalanannya tidak luput dari kritik tajam mengenai bias seleksi penulis. Meskipun Oakes mengusung semangat keberagaman suara, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa halaman Op-Ed sering bertindak sebagai "penjaga gerbang" (gatekeeper) yang elitis.Selama beberapa dekade, halaman ini didominasi secara luar biasa oleh penulis kulit putih, laki-laki, dan mereka yang berasal dari lingkaran akademisi Ivy League atau lembaga pemikir (think tank) mapan di Washington. Suara-suara dari kelompok minoritas, perempuan, serta masyarakat kelas pekerja sering kali terpinggirkan karena standar kurasi yang cenderung mencari argumen yang "mengejutkan namun tetap berada dalam koridor elite."Memasuki era modern, ketika media beralih ke ranah digital dan mulai melibatkan teknologi algoritma kecerdasan buatan (AI) dalam menyaring tulisan, bias tradisional ini tidak serta-merta hilang. Ia justru bermutasi. Algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan keuntungan digital melahirkan engagement bias (bias keterikatan). Sistem otomatis ini cenderung memprioritaskan opini-opini yang kontroversial, tajam, dan memicu amarah publik (rage-bait) karena terbukti mendatangkan klik dan metrik keterikatan yang tinggi.Bukan hanya itu, algoritma yang melacak data kesuksesan masa lalu berisiko melanggengkan bias historis; sistem otomatis akan membaca bahwa profil penulis sukses masa lalu adalah kaum elite mapan, sehingga draf dari kelompok minoritas kerap mendapat skor kelayakan yang rendah. Akibatnya, esensi asli Op-Ed sebagai alun-alun publik yang sehat terancam bergeser menjadi "ruang gema" (echo chamber) yang terpolarisasi akibat algoritma rekomendasi yang hiper-personal, yang hanya menyodorkan opini yang sesuai dengan preferensi politik pembaca.Pada April 2021 setelah lebih dari setengah abad menjadi ruang debat publik paling bergengsi, halaman Op-Ed memasuki babak baru di era digital. NYT secara resmi memutuskan untuk memensiunkan istilah Op-Ed dan menggantinya dengan sebutan yang lebih lugas: Guest Essay (Esai Tamu).Keputusan ini diambil karena di era modern, mayoritas pembaca menikmati artikel secara digital melalui ponsel atau komputer, bukan lagi membuka lembaran fisik koran lembar lebar (broadsheet). Di ruang digital, istilah "halaman di sebelah editorial" kehilangan relevansi. Lebih lima tahun perubahan nama Op Ed menjadi esai tamu. Meski namanya telah berubah demi transparansi digital, spirit yang ditiupkan oleh John B. Oakes tetap sama: ruang publik yang sehat selalu membutuhkan ruang bagi suara-suara yang berbeda.