Demokrasi Tidak Menuntut Kita Selalu Sepakat

Wait 5 sec.

Ilustrasi voting. Foto: Monkey Business Images/ShutterstockMemilih Diam di Tengah KebisinganSudah cukup lama saya tidak menulis tentang isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Padahal, hampir setiap hari ada saja peristiwa yang mengundang perdebatan: sebuah kebijakan pemerintah, putusan hukum, kasus korupsi, hingga program-program nasional yang memecah opini publik. Media dipenuhi analisis. Podcast menghadirkan para pakar. Media sosial berubah menjadi arena silang pendapat yang nyaris tak pernah sepi.Saya mengikuti semuanya. Membaca, mendengar, lalu berhenti di sana.Bukan karena saya kehilangan kepedulian. Justru sebaliknya, mungkin karena saya terlalu peduli sehingga merasa perlu menjaga jarak dari hiruk-pikuk yang sering kali lebih dipenuhi emosi daripada upaya memahami persoalan.Ada kalanya saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya juga harus ikut menulis? Apakah setiap isu yang sedang ramai memang harus segera diberi komentar? Ataukah ada nilai dari memilih diam sejenak, membiarkan pikiran bekerja lebih lambat daripada jempol?Saya tidak benar-benar memiliki jawaban yang pasti.Yang saya rasakan hanyalah satu hal: semakin ramai sebuah isu dibicarakan, semakin sulit menemukan ruang untuk berpikir jernih. Opini bergerak begitu cepat, sering kali lebih cepat daripada fakta. Orang terdorong mengambil posisi sebelum sempat memahami duduk persoalan. Kita seperti hidup dalam zaman ketika kecepatan berpendapat lebih dihargai daripada ketelitian berpikir.Barangkali karena itulah saya memilih tidak selalu ikut menambah kebisingan.Bukan karena saya merasa pendapat saya tidak penting, melainkan karena saya sadar bahwa sebuah opini, sehebat apa pun, tidak selalu memiliki daya untuk mengubah keputusan yang sudah diambil melalui proses politik dan pemerintahan. Di sisi lain, mereka yang berada di dalam pemerintahan tentu juga tidak sedang bekerja tanpa keyakinan. Mereka memiliki cara pandang, pertimbangan, serta mandat yang menurut mereka sah untuk dijalankan.Di titik itulah saya mulai melihat demokrasi dari sudut yang sedikit berbeda.Ketika Perbedaan Tidak Harus Berakhir dengan PembatalanSaya sering merasa bahwa kita memahami demokrasi secara terlalu sederhana. Seolah-olah demokrasi adalah mekanisme agar suara yang paling keras memenangkan segala sesuatu. Padahal, demokrasi modern justru dibangun di atas dua prinsip yang berjalan berdampingan: adanya ruang untuk mengkritik sekaligus adanya legitimasi bagi pemerintah yang memperoleh mandat rakyat untuk menjalankan kebijakannya.Pemikir politik seperti Joseph Schumpeter bahkan melihat demokrasi bukan sebagai sistem yang selalu menghasilkan keputusan terbaik, melainkan sebagai mekanisme yang sah untuk memilih siapa yang berhak mengambil keputusan. Setelah mandat diberikan melalui pemilu, pemerintah memiliki ruang untuk menjalankan program yang dijanjikannya kepada publik. Di situlah letak makna representasi politik.Karena itu, saya cenderung berpikir bahwa tidak setiap penolakan harus berakhir dengan tuntutan agar sebuah program dihentikan.Kritik tentu penting. Bahkan sangat penting. Tanpa kritik, kekuasaan mudah kehilangan arah. Namun kritik yang sehat tidak selalu bertujuan membatalkan. Kadang ia justru bertujuan memperbaiki.Perbedaan pendapat seharusnya menjadi mekanisme pengawasan, bukan sekadar perlombaan untuk saling mengalahkan.Dalam praktiknya, memang akan selalu ada pihak yang merasa program pemerintah keliru. Mereka mungkin menawarkan alternatif yang menurut mereka lebih efektif, lebih adil, atau lebih berpihak kepada masyarakat. Semua itu sah. Bahkan diperlukan.Namun keberadaan alternatif tidak otomatis membuat kebijakan yang sedang dijalankan menjadi tidak sah. Jika demikian logikanya, maka hampir tidak ada kebijakan publik yang akan pernah selesai dijalankan. Setiap program akan berhenti di tengah jalan hanya karena muncul usulan baru yang dianggap lebih baik.Padahal pemerintahan membutuhkan sesuatu yang sering kali kurang mendapat perhatian dalam demokrasi kita: konsistensi.Program dan Penyimpangan Bukanlah Hal yang SamaBelakangan ini, berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang kembali memenuhi pemberitaan. Setiap kali itu terjadi, saya melihat kecenderungan yang menarik. Tidak sedikit orang kemudian menyimpulkan bahwa program yang melatarbelakangi penyimpangan tersebut pasti merupakan program yang buruk.Saya tidak sepenuhnya sependapat.Korupsi adalah kejahatan. Penyalahgunaan wewenang adalah pelanggaran hukum. Keduanya harus ditindak tanpa kompromi. Namun menurut saya, ada perbedaan yang perlu dijaga secara jernih: membedakan antara kegagalan tata kelola dengan kegagalan tujuan sebuah kebijakan.Program publik pada dasarnya hanyalah instrumen. Yang menentukan apakah ia menghasilkan manfaat atau kerusakan adalah cara manusia mengelolanya.Saya membayangkannya seperti sebuah jembatan. Jika suatu hari terjadi kecelakaan di atas jembatan itu karena ada pengemudi yang melanggar aturan, tentu kita tidak serta-merta merobohkan jembatannya. Yang kita evaluasi adalah sistem keselamatan, kualitas pengawasan, penegakan aturan, hingga perilaku para pengguna jalan.Begitu pula kebijakan publik.Jika terjadi penyimpangan, yang harus diperbaiki pertama-tama adalah tata kelolanya: transparansi anggaran, mekanisme pengawasan, sistem akuntabilitas, serta integritas para pelaksana. Programnya sendiri tetap harus dinilai berdasarkan tujuan dan manfaat yang hendak dicapai, bukan semata-mata karena ada oknum yang menyalahgunakannya.Pandangan seperti ini sebenarnya sejalan dengan prinsip good governance yang dikembangkan Bank Dunia maupun OECD. Kualitas pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh baik atau buruknya sebuah kebijakan, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan tersebut diawasi, dipertanggungjawabkan, dan dikoreksi ketika terjadi penyimpangan.Dengan kata lain, kegagalan implementasi tidak selalu identik dengan kegagalan gagasan.Ilustrasi dibuat dengan AIDemokrasi Membutuhkan KesabaranAda satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan demokrasi, yaitu waktu.Demokrasi bukan sekadar ruang untuk berbeda pendapat, tetapi juga mekanisme yang memberi kesempatan kepada sebuah gagasan untuk diuji oleh kenyataan.Program pemerintah tidak cukup dinilai dari persepsi awal, melainkan juga dari hasil yang benar-benar muncul beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, kritik publik juga tidak boleh berhenti sebagai ekspresi emosi sesaat. Kritik harus tetap hidup sebagai alat kontrol selama kebijakan itu berjalan.Artinya, demokrasi sesungguhnya meminta kesabaran dari kedua belah pihak.Pemerintah perlu sabar menerima kritik yang terus mengalir. Sementara masyarakat juga perlu sabar memberi ruang agar sebuah kebijakan memiliki kesempatan menunjukkan hasilnya sebelum diputuskan gagal.Sayangnya, ekosistem media sosial bekerja dengan logika yang berbeda.Algoritma digital lebih menyukai kemarahan daripada argumentasi. Psikolog sosial Jonathan Haidt menyebut media sosial sebagai mesin yang memperkuat emosi moral (moral outrage). Konten yang memancing kemarahan lebih cepat menyebar dibandingkan penjelasan yang bernuansa. Akibatnya, ruang publik menjadi semakin bising, sementara ruang refleksi semakin sempit.Tidak mengherankan jika sebagian diskusi berubah menjadi pertarungan identitas. Orang tidak lagi sibuk mencari kebenaran, melainkan sibuk memastikan kelompoknya terlihat paling benar.Padahal demokrasi tidak pernah dimaksudkan sebagai perlombaan untuk memenangkan kemarahan.Belajar Menerima bahwa Kita Bisa Berada di Pihak yang BerbedaSemakin bertambah usia, saya justru semakin berhati-hati dalam menilai sebuah kebijakan. Saya menyadari bahwa hampir tidak ada persoalan publik yang sesederhana hitam dan putih.Sering kali pemerintah menghadapi pilihan yang sama-sama tidak ideal. Apa pun keputusan yang diambil, akan selalu ada kelompok yang merasa dirugikan.Dalam situasi seperti itu, saya belajar menerima bahwa perbedaan pandangan bukanlah ancaman bagi demokrasi. Justru ia adalah napas demokrasi itu sendiri.Yang berbahaya bukanlah ketika kita berbeda pendapat.Yang berbahaya adalah ketika kita mulai menganggap bahwa setiap orang yang berbeda pasti sedang berada di pihak yang salah.Demokrasi membutuhkan warga negara yang kritis, tetapi juga rendah hati. Rendah hati untuk mengakui bahwa mungkin saja informasi yang kita miliki belum lengkap. Bahwa mungkin ada pertimbangan lain yang tidak kita lihat. Bahwa kebijakan publik sering kali merupakan hasil dari kompromi yang jauh lebih rumit daripada yang tampak di layar ponsel kita.Kesadaran semacam itu tidak membuat kritik menjadi tumpul. Justru membuat kritik menjadi lebih berkualitas.Menjaga Akal Sehat DemokrasiMungkin karena itulah saya tidak lagi merasa harus ikut mengomentari setiap isu yang sedang menjadi perbincangan nasional.Diam, bagi saya, bukan bentuk ketidakpedulian. Kadang diam adalah cara memberi kesempatan kepada akal sehat untuk bekerja sebelum emosi mengambil alih.Saya tetap percaya bahwa kritik adalah vitamin bagi demokrasi. Tanpa kritik, kekuasaan mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan. Namun saya juga percaya bahwa legitimasi hasil demokrasi harus dihormati. Pemerintah yang memperoleh mandat berhak menjalankan programnya, sementara masyarakat berhak mengawasi pelaksanaannya.Keduanya bukan hubungan yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.Barangkali kedewasaan demokrasi tidak diukur dari seberapa sering kita memenangkan perdebatan, tetapi dari seberapa mampu kita menjaga ruang agar perbedaan tetap berlangsung tanpa kehilangan rasa hormat kepada proses yang telah disepakati bersama.Pada akhirnya, demokrasi bukanlah sistem yang menjamin semua orang akan puas terhadap setiap keputusan. Demokrasi hanya menjamin bahwa setiap orang memiliki hak untuk bersuara, setiap kekuasaan dapat diawasi, dan setiap kebijakan dapat dievaluasi. Selebihnya, waktu akan menjadi penguji yang paling jujur.Mungkin karena itu pula saya memilih tidak tergesa-gesa ikut bersuara setiap kali sebuah isu menjadi gelombang besar. Saya lebih tertarik menjaga agar setiap pendapat yang saya tulis lahir dari kejernihan berpikir, bukan dari dorongan untuk sekadar menjadi bagian dari keramaian.Sebab pada akhirnya, demokrasi bukan hanya membutuhkan orang-orang yang berani berbicara. Demokrasi juga membutuhkan orang-orang yang bersedia berpikir lebih lama sebelum memutuskan apa yang layak untuk diucapkan. Di tengah zaman yang memuja respons secepat kilat, barangkali kemampuan untuk menunda penilaian adalah salah satu bentuk tanggung jawab warga negara yang paling jarang kita rawat.