Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Hatice Bakcepinar/ShutterstockBank-bank sentral utama dunia bersiap menghadapi potensi lonjakan inflasi seiring harga minyak yang kembali mendekati level USD 100 per barel. Perhatian pasar kini tertuju pada rangkaian keputusan suku bunga dari negara-negara Kelompok Tujuh (G7) yang akan diumumkan pekan ini.Mengutip Bloomberg, Federal Reserve (The Fed) akan lebih dulu mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, kemudian disusul Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ). Meski ketiganya diperkirakan belum mengubah kebijakan, investor akan mencermati sinyal yang diberikan terkait risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.Ekspektasi pasar juga semakin menguat setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memberi sinyal masih membuka peluang menaikkan suku bunga. Pelaku pasar kini memperkirakan sejumlah bank sentral dapat mulai mengetatkan kebijakan lagi pada September, meski pandangan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan proyeksi para ekonom.Harga minyak yang sempat kembali menembus USD 100 per barel, level yang terakhir terlihat sekitar dua bulan lalu, menjadi salah satu ancaman utama bagi prospek inflasi global. Di saat yang sama, investor juga menyoroti kenaikan harga energi lain seperti gas, besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), hingga kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Kekhawatiran pasar turut tercermin di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara G7 terus meningkat. Bahkan, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun pada Jumat berada sedikit di bawah posisi tertingginya sejak 2007.Petugas penukaran uang menghitung uang dolar AS di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFPSelain keputusan bank sentral G7, lebih dari selusin bank sentral lain di berbagai negara juga dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya pekan depan. Pasar juga akan mencermati sejumlah data penting, mulai dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi kawasan euro, inflasi Tokyo, hingga kinerja ekspor Korea Selatan.Sorotan terbesar tetap mengarah ke keputusan The Fed pada 29 Juli. Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga menurun setelah inflasi konsumen (CPI) AS pada Juni tercatat lebih rendah dari ekspektasi. Namun, kembali memanasnya konflik di Timur Tengah mengubah sentimen karena mendorong kenaikan harga minyak.Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa sejumlah pejabat The Fed, seperti Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, akan mendorong kenaikan suku bunga. Di sisi lain, muncul pula spekulasi bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh dapat mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga.Bloomberg Economics memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini dengan nada yang cenderung hawkish.Federal Reserve. Foto: Shutterstock“Kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga dengan nada hawkish. Warsh kemungkinan akan menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga pada September. Namun, data CPI yang lemah diperkirakan cukup untuk mencegah kenaikan suku bunga bulan ini,” tulis ekonom Bloomberg Economics Anna Wong, Andrew Sacher, dan Eliza Winger.Sehari setelah keputusan suku bunga, pemerintah AS dijadwalkan merilis data terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi, indikator inflasi pilihan The Fed, dan belanja konsumen. Produk domestik bruto (PDB) AS diperkirakan tumbuh 2,1 persen secara tahunan pada kuartal II, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.Sementara itu, kawasan Asia-Pasifik juga memasuki pekan yang padat. Bank sentral Singapura dan Pakistan akan mengumumkan kebijakan suku bunga masing-masing, sedangkan Jepang akan merilis data produksi industri, penjualan ritel, pengangguran, dan inflasi Tokyo. Data inflasi ibu kota Jepang tersebut dipandang sebagai petunjuk penting sebelum Bank of Japan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari yang sama. Taiwan juga dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal II pada Jumat.