Kebutuhan Kedelai RI Capai 2,6 Juta Ton, Produksi Baru Penuhi 8,14 Persen

Wait 5 sec.

Pengrajin tahu menggiling kacang kedelai saat proses produksi di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanProduksi kedelai nasional masih menunjukkan fluktuasi pada periode 2021 hingga 2026. Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, mengatakan produksi kedelai tercatat mencapai 78.693 ton pada 2025, sementara luas panen turun 11,68 persen menjadi sekitar 137 ribu hektare.“Di 2026 saat ini berproses hingga Mei 2026 kemarin datanya. Ini kita bisa lihat bahwa dari produksinya baru sekitar 7.691 (ton),” kata Widiastuti dalam Seminar “Tempe Goes to UNESCO” di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Senin (27/7).Widiastuti menjelaskan, rata-rata pertumbuhan produksi kedelai dalam beberapa tahun terakhir mencapai sekitar 11,4 persen. Selain itu, perkembangan luas tanam dan produksi kini tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.Ia melanjutkan, dari sisi kebutuhan produksi bersih kedelai dalam negeri dari 2021 hingga 2026 baru mencapai sekitar 190.223 ton atau sekitar 8,14 persen dari rata-rata total kebutuhan nasional yaitu 2.620.294 ton.Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan“Dan dari karena kekurangan tersebut ya, masih ada kekurangan tersebut makanya ada rata-rata impor nya sekitar 2 juta sekian ya. Dari rata-rata kebutuhan utama 2,6 juta (ton),” tutur Widiastuti.Dalam paparannya, sebagian besar kebutuhan kedelai nasional berasal dari sektor industri dan horeka, termasuk untuk bahan baku tahu, tempe, dan kecap, yang porsinya mencapai sekitar 95,68 persen dari total konsumsi.Widiastuti mengatakan, untuk mengejar swasembada, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah percepatan, mulai dari penyediaan lahan, benih unggul, pupuk dan pestisida, alat mesin pertanian, irigasi, penguatan SDM dan pendampingan, pembiayaan, hingga hilirisasi.“Kemudian kepastian pasar karena sebagai sisi penyerapan dan yang memanfaatkan dan perlindungan dari kedelai impor,” tutur Widiastuti.