Sudah tahu keliru, tapi tetap diulang: Alasan di balik kesalahan berpikir kita

Wait 5 sec.

(Vitaly Gariev/Pexels), CC BY• Bias kognitif merupakan strategi otak menghemat energi tubuh.• Penggunaan jalan pintas mental berisiko memicu kesalahan penilaian sistematis.• Arus informasi digital menuntut masyarakat lebih berpikir kritis.Pernah membeli barang hanya karena sedang flash sale, lalu beberapa hari kemudian menyadari bahwa kamu sebenarnya tidak membutuhkannya? Atau merasa suatu penyakit sangat mengkhawatirkan setelah linimasa media sosial dipenuhi berita tentang penyakit tersebut? Pengalaman seperti ini sangat umum. Kita sering menyebutnya sebagai “kesalahan berpikir”. Namun, mengapa pola yang sama terus berulang, bahkan ketika kita sudah mengetahui adanya berbagai bias kognitif?Selama beberapa dekade, psikologi menjelaskan fenomena ini melalui konsep bias kognitif (cognitive bias), yaitu kecenderungan kita untuk membuat penilaian yang menyimpang secara sistematis. Bias ini bukan berarti manusia tidak cerdas. Sebaliknya, bias muncul karena otak harus mengambil keputusan dalam kondisi yang penuh keterbatasan.Pandangan tersebut kini mendapat tambahan perspektif. Bias kognitif mungkin tidak hanya berkaitan dengan cara kita berpikir, tetapi juga dengan cara otak mengelola energi.Perspektif ini tidak menggantikan teori sebelumnya, tetapi menawarkan penjelasan biologis mengenai mengapa kita begitu sering mengandalkan jalan pintas mental.Mengapa otak memilih jalan pintas?Gagasan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan abad ke-20. Hal ini ditandai dengan lahirnya konsep bounded rationality, yaitu bahwa kemampuan manusia selalu dibatasi oleh informasi yang tersedia, waktu, dan kapasitas berpikir. Karena keterbatasan tersebut, manusia lebih sering mencari keputusan yang “cukup baik” daripada keputusan yang benar-benar optimal. Untuk mengatasi keterbatasan itu, otak menggunakan metode heuristik, yaitu aturan praktis yang membantu kita mengambil keputusan dengan cepat.Bayangkan jika setiap kali memilih tempat makan kita harus membandingkan seluruh pilihan yang tersedia, membaca semua ulasan, menghitung harga, mempertimbangkan jarak, lalu memperkirakan kualitas makanannya. Aktivitas sederhana akan berubah menjadi proses yang sangat melelahkan.Dalam banyak situasi, cara berpikir heuristik membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih efisien.Jalan pintas menjadi biasMetode heuristik terbukti memiliki kelemahan, yakni otak yang cepat memutuskan justru bisa menghasilkan kesalahan yang muncul secara sistematis. Baca juga: Apakah rasional untuk mempercayai intuisi kita? Seorang ahli saraf menjelaskan Salah satu contohnya adalah availability heuristic. Maksudnya, kita cenderung menganggap suatu peristiwa lebih sering terjadi apabila contohnya mudah diingat. Sebagai contoh, setelah beberapa hari melihat berita tentang kecelakaan pesawat, banyak orang merasa terbang menjadi jauh lebih berbahaya. Padahal, data statistik tidak menunjukkan perubahan risiko yang berarti.Contoh lain adalah confirmation bias. Kita lebih mudah menerima informasi yang mendukung keyakinan kita ketimbang yang bertentangan. Akibatnya, kita merasa semakin meyakini pendapat kita benar. Padahal, kita mungkin hanya melihat sebagian kecil dari keseluruhan bukti.Kecenderungan tersebut muncul ketika kita mengandalkan proses berpikir yang cepat, otomatis, dan intuitifSebaliknya, proses berpikir yang lebih lambat dan analitis tidak selalu digunakan karena membutuhkan perhatian dan usaha yang lebih besar. Namun, heuristik tidak selalu identik dengan kesalahan.Dalam kehidupan nyata, kita hampir tidak pernah memiliki informasi yang lengkap atau waktu yang tidak terbatas. Dalam kondisi seperti itu, aturan sederhana sering kali menjadi strategi yang efisien. Artinya, kualitas suatu heuristik bergantung pada kesesuaiannya dengan lingkungan tempat heuristik tersebut digunakan (ecological rationality).Dengan kata lain, heuristik bukan musuh berpikir rasional. Dalam banyak keadaan, ia justru merupakan solusi yang adaptif.Perspektif baru: Berpikir membutuhkan energiLalu, mengapa otak begitu sering memilih menggunakan heuristik?Jawabannya mungkin berkaitan dengan ‘ongkos energi’ yang kita habiskan.Walaupun beratnya hanya sekitar 2% dari berat tubuh, otak mengonsumsi sekitar 20% energi saat beristirahat. Proses berpikir yang melibatkan perhatian, perencanaan, dan penalaran membutuhkan energi lebih besar dibandingkan proses ‘otomatis’ seperti heuristik.Dalam kerangka ini, heuristik dapat dipahami sebagai salah satu cara otak menghemat sumber daya. Bayangkan baterai telepon genggam. Membuka kalkulator hampir tidak menghabiskan daya, sedangkan mengedit video membuat baterai cepat habis. Otak kemungkinan bekerja dengan prinsip serupa. Jika suatu keputusan dapat kita buat menggunakan strategi yang selama ini cukup berhasil, otak cenderung memilih cara tersebut daripada terus-menerus menggunakan penalaran yang lebih menghabiskan energi. Baca juga: Bagaimana berita palsu masuk ke dalam pikiran kita dan apa yang dapat kita lakukan untuk melawannya? Perspektif ini juga membantu menjelaskan mengapa mengubah keyakinan sering kali terasa sulit. Menerima informasi baru bukan hanya soal mengetahui fakta. Sebab, otak juga harus menyusun kembali cara memahami informasi yang selama ini dianggap benar. Proses tersebut membutuhkan usaha kognitif yang lebih besar.Tentu saja, biaya energi bukan satu-satunya penjelasan. Emosi, pengalaman, motivasi, dan lingkungan sosial juga memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Di era medsos, intuisi saja tidak cukupPerspektif ini kini makin relevan di era media sosial.Kebanyakan informasi yang kita terima merupakan rekomendasi algoritma yang dirancang untuk menarik perhatian. Konten yang mengejutkan, emosional, atau sesuai dengan keyakinan kita lebih mudah muncul di timeline dibandingkan informasi yang lebih beragam. Akibatnya, metode heuristik yang sebelumnya cukup andal justru menjadi bumerang karena dapat menghasilkan penilaian yang kurang tepat.Oleh karena itu, di tengah air bah informasi dan jebakan algoritma saat ini, kita perlu mengimbangi metode heuristik (yang berkaitan dengan intuisi) dengan kebiasaan berpikir kritis. Intuisi merupakan alat penting dan sering kali membantu kita mengambil keputusan dengan cepat. Tantangannya adalah mengenali kapan intuisi masih memadai, dan kapan kita perlu berhenti sejenak untuk memeriksa kembali informasi, mencari sudut pandang lain, dan mempertimbangkan bukti secara lebih hati-hati.Memahami hal ini dapat membantu kita melihat bias kognitif dengan cara yang lebih utuh, sekaligus lebih realistis. Baca juga: Riset: Tingkat literasi sains individu tidak menentukan keyakinan mereka terhadap sains Lury Sofyan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.