Harga Komoditas: Batu Bara-Nikel Melemah, Timah Naik Tipis

Wait 5 sec.

Ilustrasi tambang batu bara. Foto: ShutterstockHarga sejumlah komoditas mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Senin (27/7), kecuali timah yang cenderung stagnan, naik tipis 0,85 persen.Dikutip dari laman resmi Barchart, harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 mengalami penurunan 2,14 persen ke level USD 132.50 per ton.NikelHarga nikel juga terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Senin. Berdasarkan London Metal Exchange (LME), harga nikel turun 0,96 persen menjadi USD 17.213 per ton.TimahIlustrasi timah. Foto: PT Timah Harga timah pada periode perdagangan yang sama, berdasarkan data dari tradingeconomics, menunjukkan adanya kenaikan 0,85 persen. Dengan begitu, kini harga timah ada pada level USD 53.781 per ton.CPOHarga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) anjlok pada penutupan perdagangan Senin (27/7). Berdasarkan situs tradingeconomics, harga CPO turun 1,04 persen menjadi MYR 4.673 per ton.Harga minyak sawit berjangka Malaysia turun di bawah MYR 4.700 per ton, mematahkan kenaikan terbaru setelah mencapai level tertinggi sejak awal April. Pelemahan harga dipicu oleh aksi ambil untung (profit-taking) para pelaku pasar, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia, serta melemahnya harga minyak nabati pesaing yang diperdagangkan di bursa Dalian, China, dan Chicago, Amerika Serikat.Ilustrasi kelapa sawit. Foto: diegodmartins/Getty ImagesPenurunan tajam harga minyak mentah turut menekan pasar setelah muncul harapan tercapainya solusi diplomatik di Timur Tengah, yang diperkirakan akan memperlancar kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Meski demikian, penurunan harga tertahan oleh membaiknya permintaan ekspor. Lembaga survei kargo Intertek Testing Services (ITS) memperkirakan ekspor minyak sawit pada 1-25 Juli meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama pada Juni.Selain itu, kebijakan peningkatan mandatori campuran biodiesel di Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan mendorong konsumsi minyak sawit. Dari sisi permintaan global, impor minyak nabati India sebagai pembeli terbesar di dunia, diproyeksikan meningkat pada periode Juli hingga Oktober karena pasokan yang semakin ketat menjelang musim festival.Sementara itu, risiko cuaca juga masih menopang harga, setelah otoritas di Kuala Lumpur memperingatkan suhu yang diperkirakan mencapai rekor tertinggi berpotensi menekan produksi minyak sawit tahun depan.