● Antibodi hantavirus ditemukan pada sejumlah peternak satwa liar di Vietnam.● Ini menandakan mereka pernah tertular hantavirus sebelumnya.● Buruknya manajemen pengendalian penyakit di peternakan dapat berkontribusi terhadap infeksi, tapi sumbernya belum jelas.Peternakan satwa liar lazim ditemukan di Vietnam. Praktik ini meliputi pembiakan maupun perdagangan satwa liar untuk dipelihara, dikonsumsi, dijadikan obat tradisional, ataupun pajangan.Hingga tahun 2021, Vietnam memiliki sekitar 6.744 peternakan yang menampung 1,8 juta satwa liar dari 371 spesies.Meski peternakan satwa liar menghidupi banyak warga, praktik ini rentan membuat manusia dan satwa liar berinteraksi sangat dekat. Kondisi ini menciptakan celah bagi penyebaran penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia), termasuk hantavirus.Penyebaran hantavirus sempat menghebohkan dunia pada Mei lalu. Varian hantavirus Andes (yang bisa menular antarmanusia) menginfeksi 13 orang dan menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius.Penelitian kami tahun 2025 di Vietnam menemukan bukti adanya paparan hantavirus dan patogen zoonosis lain di kalangan peternak kelelawar, tikus bambu, musang, dan babi hutan.Temuan ini perlu menjadi alarm bagi negara lain di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) yang memiliki pasar satwa liar di sejumlah daerah.Bagaimana hantavirus menular di peternakan?Studi kami melibatkan 210 peternak satwa liar di Provinsi Lao Cai dan Dong Nai di Vietnam. Sebanyak 8,7% peternak terbukti memiliki antibodi (zat kekebalan) hantavirus—yang menandakan mereka pernah terpapar virus tersebut sebelumnya. Sebagian kecil peternak satwa liar (1,9%) bahkan mengalami infeksi yang diduga terjadi tak jauh dari waktu pengambilan sampel selama Agustus 2023 hingga Maret 2024.Hasil penelitian menunjukkan bahwa para peternak yang hanya fokus mengurus peternakan satwa liar saja berisiko jauh lebih besar terpapar hantavirus. Meskipun mereka tidak ikut berburu, berdagang, menyembelih, mengolah, ataupun mengonsumsi hewan tersebut.Kami menduga tingginya risiko penularan hantavirus disebabkan oleh buruknya biosekuriti (manajemen pengendalian penyakit) di peternakan. Misalnya, kontak terlalu lama dengan hewan dan kandang yang terkontaminasi tanpa alat pelindung diri (APD). Kendati demikian, sumber penularannya belum jelas. Baca juga: Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya Penularan hantavirus juga bisa terjadi karena kontak dengan hewan pengerat liar lain di luar peternakan. Interaksi jarak dekat dan sering antara manusia-satwa liar berpotensi memicu penularan virus dari hewan ke manusia (zoonotic spillover). Dalam kasus hantavirus, penularan ke manusia utamanya terjadi ketika kita menghirup partikel udara yang mengandung urine, kotoran, ataupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Paparan lingkungan peternakan yang kotor juga meningkatkan risiko infeksi secara drastis.Hal ini menurut para penyelidik di kasus MV Hondius, juga menjadi penyebab penyebaran virus di kapal pesiar tersebut. Diduga, penumpang terpapar lingkungan yang tercemar hantavirus saat bertamasya di kawasan Amerika Selatan—yang menjadi daerah endemis varian Andes. Jenis hantavirus belum diketahuiSebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Kecuali, varian Andes yang tergolong sebagai hantavirus penyerang paru dan bisa menyebabkan 12-60% orang terinfeksi meninggal dunia.Di Asia sendiri, jenis hantavirus yang lazim ditemukan adalah Seoul dan Hantaan. Keduanya termasuk jenis hantavirus pemicu demam berdarah dengan sindrom ginjal—yang berpotensi menyebabkan 10-15% orang terinfeksi meninggal dunia.Penyebaran hantavirus di Asia Tenggara sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, misalnya, sudah ada 23 kasus positif yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia dari 250 suspek hantavirus dalam tiga tahun terakhir. Baca juga: Hantavirus sangat mematikan: Mengapa virus ini bisa menyebar di kapal pesiar? Sayangnya, kami tidak mampu melacak lebih jauh jenis hantavirus yang menginfeksi peternak di Vietnam. Penelitian kami hanya menggunakan alat pemeriksaan antibodi berupa tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). Kami juga belum bisa memastikan jenis hewan pengerat yang menjadi inang penyebaran hantavirus. Pengujian pada sampel usap (swab) dari peternak, tikus bambu, kelelawar, dan musang tidak menunjukkan bukti molekuler adanya infeksi virus terkait. Untuk mengetahui jenis virus dan hewang inangnya, kita memerlukan pemeriksaan lab berupa RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) dan tes sekuensing (untuk mengetahui urutan genetik DNA virus).Dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki Vietnam, kami masih belum mendapatkan gambaran utuh dari penyebaran hantavirus di kalangan peternak. Tidak tertutup kemungkinan, ada varian hantavirus baru yang beredar tanpa terdeteksi.Apa yang harus dilakukan?Mencegah penularan virus dari hewan ke manusia jauh lebih efektif ketimbang merespons saat wabah sudah menyebar. Karena itu, perlindungan bagi para peternak satwa liar harus dimulai dari hal-hal mendasar dengan memperketat biosekuriti dan menerapkan praktik kebersihan yang lebih baik. Misalnya, konsisten pakai alat pelindung diri saat menangani hewan atau membersihkan kandang.Pendekatan One Health juga sangat krusial. Kolaborasi lintas disiplin (antara pakar kesehatan masyarakat, petugas kesehatan hewan, ahli satwa liar, pengelola kehutanan, tokoh masyarakat, dan peternak) ini dibutuhkan untuk merancang langkah pencegahan yang praktis, sesuai dengan budaya setempat, dan lebih mudah diterima masyarakat.Meski Vietnam memiliki kerangka hukum dan kebijakan yang mengatur peternakan satwa liar, pelaksanaannya di lapangan masih perlu diperkuat. Salah satu kelemahan terbesar yang kami temukan adalah terbatasnya kapasitas pengawasan kesehatan satwa liar dan kurangnya koordinasi antara sektor kehutanan dan kesehatan hewan. Karena itu, penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, memperbaiki pemantauan penyakit satwa liar, serta meningkatkan kapasitas pekerja yang berinteraksi dengan hewan dan lingkungan. Aspek ini sangat penting untuk mendukung deteksi dini, pencegahan, dan pengendalian penyakit zoonosis baru—tidak hanya di Vietnam, tetapi juga negara lain yang masyarakatnya hidup berdampingan dengan satwa liar, termasuk Indonesia.Pemerintah juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko penyakit zoonosis di kalangan peternak dan masyarakat luas lewat media sosial. Komunikasi yang efektif dapat bantu menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi tindakan nyata yang mampu mengurangi risiko dan mendukung praktik peternakan lebih aman.Sederet upaya ini sangat penting untuk mencegah wabah di masa mendatang, serta memperkuat keamanan kesehatan global yang kini saling terhubung satu sama lain.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.