Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: KemendikbudristekTak bisa dipungkiri bahwa pendidikan adalah salah satu fondasi utama dalam meningkatkan kualitas hidup dan menentukan masa depan seseorang. Pendidikan disebut sebagai hal yang sangat penting karena tujuannya tak hanya untuk mencerdaskan seseorang lewat ilmu, namun juga dapat membangun karakter dan moral yang kuat. Dengan pendidikan, kita dapat membentuk pola pikir yang maju yang pastinya bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesia, hal ini dapat menciptakan generasi yang cerdas demi Indonesia emas yang dinantikan.Dengan demikian, pendidikan adalah bekal penting bagi masa depan seorang individu. Tak heran jika para orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak mereka hingga ke perguruan tinggi, dengan harapan pendidikan tersebut menjadi kunci untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan layak.Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, biaya pendidikan semakin meningkat dari tahun ke tahun dan menjadikan pendidikan sebagai hal yang sulit dijangkau semua kalangan. Tidak hanya rakyat miskin yang merasakan tantangan ini, namun keluarga kelas menengah juga berada dalam masalah yang sama.Keluarga kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang secara ekonomi berada di antara kalangan kelas atas dan kelas bawah, namun tidak termasuk ke salah satunya. Kelas menengah tidak bisa disebut miskin, namun juga tidak bisa disebut kaya. kelompok kelas menengah didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran atau pendapatan antara Rp2 juta hingga Rp10 juta per kapita setiap bulannya. Uniknya, kaum kelas menengah tak tergolong kurang mampu untuk mendapatkan bantuan pendidikan semacam beasiswa sekalipun gaji yang didapat per bulannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari yang paling sedikit memiliki tiga anggota keluarga.Kondisi ini tentu saja menempatkan kelas menengah dalam posisi yang membingungkan. Dengan jumlah yang bisa dibilang dominan, kaum menengah tak banyak mendapat atensi atau kebijakan yang menguntungkan. Dengan keadaan finansial yang seadanya, namun tak berhak mendapat akses seperti beasiswa pendidikan dan lain-lain. Belum lagi biaya pendidikan terlebih perguruan tinggi tak hanya mencakup uang kuliah, ada banyak kebutuhan pendukung seperti buku pelajaran, biaya tinggal maupun transportasi, serta beberapa perangkat alat teknologi penunjang seperti laptop yang harganya nyaris setengah atau bahkan lebih dari gaji kaum menengah itu sendiri.Belum lagi penunjang pendidikan tambahan seperti les, kursus, pelatihan, maupun program lainnya yang juga mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Walaupun bukan hal yang wajib, namun untuk kaum kelas menengah yang bersaing dalam mendapatkan beasiswa jalur prestasi, hal ini tentunya menambah beban ekonomi yang harus ditanggung.Hal ini tentu saja berdampak pada kualitas lembaga yang dipilih. Setiap orang tua tentunya ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak mereka. Namun, semakin baik kualitas pendidikan tersebut, semakin besar juga biaya yang harus dikeluarkan. Dampaknya, orang tua tersebut harus mempertimbangkan banyak hal untuk bisa menyekolahkan anak mereka.Namun berbeda dengan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, kaum kelas menengah mengalami keterbatasan akses terhadap bantuan pendidikan. Gaji yang didapat oleh kaum kelas menengah sering kali dianggap sanggup untuk mencukupi kebutuhan pendidikan, dan tidak masuk kriteria penerima yang berhak mendapat bantuan tersebut. Akibatnya, banyak keluarga yang mencari pendapatan tambahan demi memenuhi kebutuhan pendidikan sang anak. Lebih parahnya, tak jarang juga orang tua yang terpaksa mengambil pinjaman maupun cicilan demi memastikan sang anak harus berpendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah berada dalam situasi yang serba salah dan sering terabaikan dalam berbagai kebijakan terutama dalam pendidikan.Walaupun begitu, pendidikan masih menjadi prioritas bagi banyak kaum kelas menengah. Sekalipun harus menghadapi banyak kesulitan, mereka tetap berkomitmen bahwa pendidikan adalah fondasi bagi kesuksesan masa depan sekaligus faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Tentu saja upaya tersebut tidak seharusnya menjadi tanggung jawab keluarga saja, peran pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam kesejahteraan tiap rakyatnya.Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menciptakan kebijakan yang menguntungkan tiap kelas entah itu kelas atas, bawah, juga menengah. Apalagi dalam bidang pendidikan yang disebutkan dalam Undang-Undang Dasar bahwasanya pendidikan adalah hak setiap warga negara, maka pemerintah harus lebih bijak supaya pendidikan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Program bantuan yang mempertimbangkan kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh, tak hanya untuk masyarakat tidak mampu, dapat menjadi salah satu solusi untuk mensejahterakan tiap warga negara tanpa terkecuali.Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa tingginya biaya pendidikan dan terbatasnya akses bantuan pendidikan pada kaum kelas menengah bukanlah hal yang harus diabaikan begitu saja. Karena hal ini termasuk faktor dalam tujuan menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang khusus terhadap keluarga kelas menengah supaya tak terus berada dalam kondisi yang serba salah dan sulit. Dibutuhkan kebijakan yang lebih adil dan merata dalam mengakses pendidikan, sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat tanpa terpaku oleh latar belakang ekonomi.