Petani memanen padi secara gotong royong sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.Foto: Redicul Pict/UnsplashPertengahan Juli 2026, pemerintah kembali mengingatkan potensi dampak El Nino "Godzilla". Fenomena ini diprediksi lebih kuat dari 2015 dan 2019, dengan ancaman gagal panen, kekeringan, dan kenaikan harga pangan.Langkah antisipasi lewat cadangan pangan dan infrastruktur pertanian memang penting. Tapi menghadapi El Nino tidak cukup dengan itu saja.Ada satu hal yang sering kita lupakan: karakter bangsa.Ketergantungan Impor: PR Besar KitaData BPS menunjukkan ketergantungan kita pada impor pangan masih tinggi. Pada 2025, Indonesia mengimpor beras 3,6 juta ton, gula 5,1 juta ton, dan jagung 1,3 juta ton. Untuk kedelai, impor kita bahkan mencapai 2,4 juta ton, karena 70% kebutuhan nasional masih dipenuhi dari luar. Artinya, saat El Nino datang dan produksi dalam negeri turun, harga pangan global naik, kita jadi paling rentan. Pada Juni 2026 harga cabai, telur, minyak goreng, dan daging ayam sudah mulai merangkak naik. Jika krisis ini tidak dihadapi bersama, dampaknya akan berantai ke inflasi dan daya beli masyarakat paling bawah.Inilah bahayanya jika ketahanan pangan hanya diukur dari angka, bukan dari karakter.El Nino: Ujian Solidaritas BangsaEl Nino bukan hanya soal cuaca. Ia adalah ujian. Ujian apakah kita akan panik, menimbun, dan saling menyalahkan? Atau kita akan bersatu, berbagi, dan gotong royong?Norman Borlaug, peraih Nobel Perdamaian dan "Bapak Revolusi Hijau", pernah mengingatkan: "Food is the moral right of all who are born into this world." Artinya: Pangan adalah hak moral bagi semua yang lahir ke dunia ini. Jika pangan adalah hak moral, maka memastikan pangan tersedia adalah tanggung jawab moral kita bersama. Bukan hanya pemerintah, bukan hanya petani.3 Karakter yang Kita ButuhkanNilai-nilai Pancasila harus hidup saat krisis datang. Ada 3 karakter utama.Pertama, hemat dan tidak serakah. Saat harga naik, godaan menimbun besar. Tapi orang berkarakter tahu: menimbun 10 karung beras berarti tetangga bisa tidak kebagian 1 karung pun. Hemat air, hemat listrik, hemat pangan adalah bentuk keadilan sosial.Kedua, peduli dan berbagi. Di banyak desa, saat kemarau panjang tiba, warga bergiliran menyedot air dari sumur yang masih ada. Yang punya lahan luas rela berbagi ke petani kecil. Itu gotong royong. Itu sila ke-2 dan ke-5 Pancasila yang dipraktikkan.Ketiga, bertanggung jawab dan inovatif. Petani tidak menunggu hujan. Mereka berinovasi dengan tumpang sari, sumur resapan, dan tanaman tahan kering. Pemerintah daerah mengaktifkan lumbung pangan desa. Itu tanggung jawab.Pendidikan karakter kebangsaan di sekolah perlu mengarahkan anak pada hal-hal seperti ini. Salah satu contoh praktiknya adalah dengan mengajak siswa berdiskusi: “Jika di lingkungan kita ada yang terdampak kekeringan, apa yang bisa kita lakukan bersama?” Dari situ tumbuh empati dan kreativitas.Kuat Karena KarakterInfrastruktur, teknologi, dan cadangan pangan adalah fondasi. Tapi fondasi tanpa karakter akan rapuh. El Nino "Godzilla" adalah pengingat. Bahwa mengurangi ketergantungan impor tidak hanya soal menambah produksi. Ia juga soal mental: mau berbagi atau menimbun, mau gotong royong atau egois, mau tanggung jawab atau menyalahkan.Indonesia Emas 2045 butuh lumbung pangan yang kuat. Dan lumbung pangan paling kuat adalah karakter gotong royong rakyatnya.Mari kita mulai dari rumah. Hemat air. Jangan boros makan. Bantu tetangga yang kesulitan. Karena saat El Nino datang, yang menyelamatkan kita bukan hanya hujan. Tapi hati kita yang mau peduli satu sama lain.