Sejumlah anak mengamati lembaran rol film yang telah dicuci di dalam kamar gelap saat lokakarya fotografi analog yang digelar di Turki pada 14 Juni 2026. Yasin Akgul/AFP via Getty ImagesFotografi analog kini bangkit lagi, dipicu oleh tren tak terduga yang digerakkan oleh Gen Z.Teknik fotografi yang mengandalkan lembaran film dan proses kimia tersebut sempat dinyatakan hampir punah. Praktik kuno tersebut terpinggirkan, hanya bertahan di lingkup komunitas tertentu serta kalangan seniman profesional.Kamera digital mendominasi hampir seluruh lini produksi fotografi. Raksasa industri film sekelas Polaroid dan Kodak menyusut drastis dari masa keemasannya, hanya menjadi bayang-bayang dari kejayaan masa lalu. Kamar gelap, tempat siswa belajar mencuci dan mencetak film secara manual, turut gulung tikar di berbagai sekolah menengah dan kampus, digantikan oleh laboratorium digital. Bagi sebagian besar orang, romansa fotografi analog praktis hanya tersalurkan lewat filter Instagram. Namun, dalam lima tahun terakhir, generasi muda justru kian terpikat pada cara lama dalam berfotografi ini.Pada tahun 2025, sebanyak 35% dari 42 juta pengguna aktif kamera film di seluruh dunia dilaporkan berada dalam rentang usia 18 hingga 30 tahun. Setahun sebelumnya, volume pencarian daring terkait fotografi analog juga melonjak hingga 41%.Tren positif ini diperkuat oleh penjualan kamera sekali pakai yang terus merangkak naik sejak 2023. Jurnal fotografi terkemuka, PetaPixel, bahkan menyebut tahun 2024 sebagai “tahun terbaik bagi industri film dalam beberapa dekade terakhir”. Lonjakan permintaan ini pun direspons agresif oleh sejumlah produsen besar dengan merilis kamera baru serta memproduksi kembali model-model klasik legendaris. Berdasarkan survei fotografi film Ilford Photo tahun 2024, dominasi pasar ini kian nyata setelah lebih dari 30% responden tercatat berasal dari kelompok usia 25 hingga 34 tahun.Di kampus tempat saya mengajar, mahasiswa seni dan desain yang beralih ke fotografi analog juga semakin banyak, membuat saya menyimpulkan bahwa fenomena ini bukan sebatas tren yang berakar pada nostalgia masa lalu. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai bentuk penolakan generasi muda terhadap belenggu algoritma, upaya membebaskan diri dari keterasingan media sosial (medsos), serta reaksi atas masa kecil mereka yang habis tersita di platform Zoom dan TikTok.Ini adalah sebuah langkah untuk mendefinisikan kembali masa depan seni, hubungan sosial, serta cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata.Mendamba ‘ruang ketiga’Dalam pekerjaan saya sebagai sejarawan fotografi sekaligus dosen di University of Southern California, Amerika Serikat (AS), saya kerap bertanya kepada para mahasiswa tentang cara mereka memotret—apakah mereka menggunakan kamera digital, ponsel pintar, atau perangkat analog.Tahun ini, untuk pertama kalinya, beberapa mahasiswa menceritakan cetakan foto yang mereka buat dan album fisik yang mereka susun bersama teman serta keluarga. Mereka juga bercerita tentang kebiasaan baru mereka yang mulai berkirim kartu pos, menulis surat, dan menempelkan lembaran foto di dinding kamar. Penyerang New York Knicks, OG Anunoby, mengambil foto dengan kamera film sekali pakai saat pawai kemenangan tim pada 18 Juni 2026, setelah berhasil menjuarai Final NBA. Craig T. Fruchtman/Getty Images Sebagian besar istilah yang melekat pada masa awal medsos tampaknya sengaja mengadopsi interaksi fisik ke dalam dunia virtual—seperti “posting” (menempel) di “wall” (dinding), “poking” (mencolek), “tagging” (menandai), “bookmarking” (menandai halaman), belum lagi kata “friending” (berteman).Ini merupakan strategi retoris dari perusahaan medsos, yang kemungkinan dirancang agar pengguna merasa berada di ruang interaksi sosial yang sudah familier. Padahal, model bisnis utama platform-platform ini jauh lebih bergantung pada optimalisasi keterikatan (engagement) dan pendapatan iklan) ketimbang merawat hubungan yang autentik.Semua orang tahu apa yang terjadi setelahnya: semakin terhubung anak muda di dunia maya, semakin terisolasi dan terasing mereka. Terlebih, kebijakan karantina wilayah saat COVID-19 mendorong kehidupan sosial lebih jauh ke ranah digital. Para peneliti pun baru mulai menyadari buruknya dampak kombinasi durasi layar dan isolasi sosial pada kesehatan mental remaja. Pada tahun 2023, sebanyak 51% remaja di AS dilaporkan menghabiskan setidaknya empat jam sehari di medsos.Saya melihat daya tarik fotografi analog ini sebagai sebuah respons atas hidup yang habis tersedot layar, jalan menuju interaksi komunitas, serta kerinduan akan “ruang ketiga”.Istilah yang dicetuskan oleh sosiolog Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place ini mendefinisikan ruang ketiga sebagai tempat terpisah dari rumah dan lingkungan kerja. Ruang ini menawarkan jeda di antara rutinitas, sekaligus menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk saling bertukar ide dan kreativitas. Wujudnya bisa berupa kafe lokal, kelompok menulis, permainan mingguan, atau unit kegiatan mahasiswa—ruang apa pun yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial dan pertumbuhan personal.Ruang-ruang ini juga ampuh memerangi kesepian dengan cara menarik orang keluar dari isolasi pikiran mereka untuk masuk ke dalam komunitas. Oldenburg turut menyebut tempat ini sebagai surga sosialisasi—wadah berkumpul di mana seseorang bisa bergabung dalam atmosfer yang “demokratis dan meriah.”Komunitas analog di dunia nyataPada April 2026, AnalogCon perdana digelar di Los Angeles, AS. Diselenggarakan oleh Los Angeles Center of Photography—tempat saya bekerja sebagai direktur eksekutif sekaligus kepala kurator. Acara ini menjadi festival bagi segala hal yang berkaitan dengan fotografi analog. Festival tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang ketiga bagi para pencinta fotografi, tetapi juga membuktikan bahwa fotografi analog—sebagai sebuah praktik, ritual, dan komunitas—tengah berkembang pesat.Sejumlah vendor, pemimpin industri, seniman, dan pengajar turut berpartisipasi dalam acara dua hari yang diisi dengan pameran, diskusi panel, demonstrasi, serta tur fotografi terpandu di sekitar kawasan Little Tokyo. Antusiasme dan dahaga akan acara serupa terasa sangat nyata.Fotografi kini bergabung dalam tren global yang lebih luas, yakni ketertarikan generasi muda terhadap objek budaya dan media fisik. Meskipun platform streaming musik menyumbang 82% dari total pendapatan industri musik, penjualan piringan hitam (vinil) di AS pada 2025 terus melonjak selama lebih dari satu dekade, hingga menembus angka 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 18,06 miliar). Sejumlah pembeli mengamati deretan kamera film lawas di sebuah stan di Brick Lane, kawasan East End, London, pada 14 Juni 2026. Richard Baker/In Pictures via Getty Images Hampir 60% dari Gen Z kini terpikat membeli vinil. Kaset VHS dan pemutar VCR juga mengalami kebangkitan kembali, ditandai dengan kehadiran toko-toko yang menawarkan penyewaan kaset VHS, DVD, hingga Blu-ray, seperti Be Kind Video dan Videotheque di California, AS.Toko rilisan fisik dan tempat penyewaan video telah menjelma menjadi ruang ketiga dengan daya tariknya sendiri. Ada perbedaan besar antara memilih film yang akan ditonton secara streaming dari atas tempat tidur, dengan beranjak keluar rumah, mendatangi toko, lalu mengobrol tentang film bersama penjaga toko dan sesama pencinta sinema.Bayangkan bunyi khas kaset pita saat wadahnya dibuka dan ditutup, atau desain grafis yang mencolok pada sampul DVD atau VHS. Bayangkan pula proses memutar balik pita atau mixtape untuk gebetan baru. Ini semua adalah objek yang menghadirkan rasa memiliki—simbol dari momen budaya, ritual, dan estetika tertentu—yang kini mulai dirasakan untuk pertama kalinya oleh banyak anak muda.Bayangkan juga saat kamu memasukkan gulungan rol film ke dalam kamera dengan hati-hati. Bagaimana kamu memilih sudut bidik secara cermat sebelum menekan tombol, karena jumlah bingkai yang terbatas. Lalu, bayangkan sensasinya saat mendapati foto-foto tersebut akhirnya tercetak di atas lembaran kertas.Bagi saya, fenomena ini lebih dari sekadar tren. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya digital yang dirancang untuk memupuk rasa iri serta membanjiri kita dengan kemarahan, cercaan, dan penghinaan.Alih-alih tenggelam di dalamnya, semakin banyak generasi muda yang memilih keluar dari belenggu algoritma medsos demi menikmati hidup secara lebih terencana, personal, dan nyata, dengan bermodalkan gulungan rol film.Rotem Rozental tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.