Review The Odyssey: Christopher Nolan dan Jalan Pulangnya

Wait 5 sec.

Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesPerjalanan pulang dan upaya memutar balik jarum jam jadi semacam napas di hampir tiap film Christopher Nolan. Jika dalam Interstellar kita menyaksikan para astronaut kehilangan 23 tahun di ruang angkasa, maka di The Odyssey, Nolan membawa saya pada sebuah pengembaraan yang lebih purba.Hampir sama lamanya dengan kepulangan Odysseus ke Ithaca. Satu dekade membubarkan Troya, dan satu dekade lagi bertaruh nyawa untuk sekadar pulang ke rumahnya.Bagi saya, The Odyssey bukan sekadar film fantasi-epic-historically, ini adalah sebuah mahakarya non-linear yang membawa DNA Nolan ke titik paling matang.Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesAlur CeritaSecara naratif, film ini adalah pendamping, atau mungkin sekuel dari sisi spiritual, bagi Oppenheimer. Saya melihat Odysseus (Matt Damon) sebagai raja yang dihantui rasa bersalah.Ia adalah otak di balik jatuhnya Troya, tetapi kecerdikannya justru menjadi kutukan yang memicu amarah para dewa. Satu-satunya penebusan yang dilakukan oleh Odysseus adalah pulang, meski ribuan malapetaka siap melahapnya.Dalam menerjemahkan premis sederhana ini, visual yang ditawarkan Nolan benar-benar gila in a good way. Menjadi film pertama yang direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX, Nolan mengubah mitos kuno menjadi epik yang terasa membumi.Salah satu momen paling bertenaga adalah sequence Kuda Troya, ide yang kabarnya telah tersimpan di kepala Nolan selama dua dekade.Dari pemandangan kuda kayu yang karam di pasir hingga api yang melahap kota, bagi saya, setiap bingkai film ini terasa seperti lukisan yang berdenyut.Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesPerjalanan yang MencekamAlur film ini membawa kita singgah dari satu keajaiban ke kengerian lainnya. Nolan mengeksplorasi citraan yang nyaris menyentuh ranah horor.Saya sangat terpukau pada momen-momen paling surealis, seperti tangan raksasa yang muncul dari bayang, hingga pertemuan Odysseus dengan arwah pasukannya yang bangkit dari tanah hitam Hades.Menariknya, Nolan tak ingin memotret para dewa seperti raksasa di atas awan, melainkan dalam ukuran manusia yang fana. Kemarahan Zeus dan Poseidon hanya terasa lewat elemen alam yang mengamuk.Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesAnsambel Cast yang StunningKeputusan Nolan memilih pemain dari spektrum yang luas memberikan sentuhan modern pada kisah ini. Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy memberikan aura magis, sementara Zendaya sebagai Athena tampil berbahaya, sejenis mimpi buruk sekaligus teman perjalanan yang aman.Jangan lupakan Charlize Theron yang memerankan Calypso. Dia luar biasa, dewi yang sebenarnya hanya ingin teman bicara. Kehadirannya mirip dengan Samantha Morton sebagai Circe, memberikan performa horor yang murni. Sejenis sequence penuh amarah dan kesedihan.Kehadiran Elliot Page sebagai prajurit yang gugur dan John Leguizamo sebagai Eumaeus yang setia juga menegaskan bahwa kisah ini milik umat manusia, bukan sekadar sejarah atau angan-angan. Mereka menghidupkan karakter ini dengan emosi yang sangat relevan bagi penonton masa kini.Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesKerikil di Balik KemegahanNamun, tidak ada perjalanan yang mulus. Saya merasa di beberapa titik, alurnya terasa sedikit clunky. Nuansa "Nolan" yang terlalu kental terkadang membuat kesegaran ceritanya sedikit luntur.Argumen ini mengingatkan saya pada karya Nolan lainnya, tentang pria yang mencoba pulang menemui keluarganya melalui lapisan ilusi yang membingungkan. Film itu bernama Inception.Salah satu cuplikan dari Film 'The Odyssey' yang tayang pada Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Universal PicturesJalan Pulang Paling IndahDurasi tiga jam berlalu tanpa satu pun menit yang terasa sia-sia. Nolan berhasil menyeimbangkan maskulinitas Odysseus dan membuat kisah ribuan tahun ini tetap relevan di layar masa kini.Bagi saya, Odysseus dalam versi Nolan adalah blueprint pria sejati yang harus dipelajari. Ia membuktikan bahwa menjadi pemimpin bukan soal siapa yang paling tajam pedangnya, melainkan siapa yang paling cerdik otaknya.Odysseus adalah arsitek kemenangan. Ia memiliki self-awareness tinggi. Ia tahu kapan harus bernegosiasi, kapan harus mengakui batas diri.Di atas segalanya, Odysseus mengajarkan kita tentang arah pulang. Di tengah godaan kekuasaan dan kecantikan dewi selama 20 tahun, hatinya tertinggal pada satu titik, yaitu Penelope dan rumahnya di Ithaca.Menaklukkan dunia mungkin sulit, tapi tetap setia saat dunia berada dalam genggaman adalah kasta tertinggi dari seorang pria. Nolan telah sampai di rumahnya, dan kita, penonton, beruntung bisa ikut bertamu.