Lembahan di selatan Gunung Bismo, lokasi Curug Telu dan Kali Preng/Dokumentasi WanadriMenemui kekasih survivor. Tim Wanadri mendapat petunjuk baru. Personel di lapangan menindaklanjuti.“Survivor atas nama Afin, punya keinginan main ke Curug Telu. Kami dalami informasi itu,” kata koordinator relawan Wanadri, Kusnandar Badawi (W 648 BARA), yang terlibat pencarian Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15) di Gunung Bismo, Wonosobo.Wanadri, kata dia, mengembangkan cara penggalian informasi dari orang-orang terdekat survivor dalam sebuah operasi search and rescue (SAR). “Kita pelajari perilaku, sifat, dan kebiasaan survivor,” ujarnya.Info yang terkumpul, lanjut dia, dianalisis sebagai acuan pergerakan tim di lapangan. Metode ini jitu. Setidaknya dalam dua misi SAR sebelumnya, berhasil memberi titik terang arah survivor hingga akhirnya ditemukan.Ketika Syafiq Ali (alm) hilang di Gunung Slamet, personel Wanadri mendatangi rekan seperjalanannya, Himawan, di rumahnya (Magelang). Terungkap detail posisi terakhir mereka sebelum terpisah.Kemudian saat SAR Mongkrang, personel Wanadri dengan telaten menghimpun keterangan dari ketiga kawan Yasid (alm), untuk melacak ke mana pendaki 26 tahun itu bergerak.Pola rekonstruksi cerita dari sumber terdekat survivor, ampuh memberi petunjuk kepada tim pemburu di lapangan. Termasuk penemuan jasad Arifin (Afin) dan Yufaidin (Idin) di dasar Curug Telu, Ahad (12/7/2026).Menariknya lagi, baik di Slamet, Mongkrang, dan Bismo, tim Wanadri selalu berhasil mendeteksi keberadaan survivor, setelah operasi SAR resmi ditutup. Pada kasus hilangnya Afin dan Idin sejak 30 Juni 2026, proses pencarian yang dikomando Basarnas berlangsung 2-11 Juli 2026. Sepuluh hari lamanya, jejak kedua remaja warga Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Wonosobo itu tak terendus.Namun, tim Wanadri yang sedari awal turut dalam aksi kemanusiaan tersebut, pantang pulang. “Kami tetap koordinasi dengan Basarnas. Area Curug Telu masih clear, jadi kami jajaki. Alhamdulillah ketemu,” kata Badawi.Penulis sempat penasaran, ke mana tim Wanadri mengulik informasi, terkait raibnya Afin dan Idin. Sebab kabar terakhir amat minim. Keduanya tak pamit kepada keluarga. Tapi ada warga yang melihat sohib sekampung itu menuju Gunung Bismo. Saya tak menyangka Wanadri mengejar pacar Afin, dan mendapat info berharga: Afin punya rencana ke Curug Telu.Menyatukan tekad dalam operasi SAR Gunung Bismo/Dokumentasi WanadriFlying Camp di Batas Kebun dan HutanLangit selalu cerah. Tidak turun hujan. Hanya saja udara menggigit. Badawi mendengar kawasan lainnya sekitar Bismo, yang masuk dataran tinggi Dieng, suhu minus lima derajat celcius. Sementara di tempatnya membuka flying camp (1.800 mdpl), suhu sepuluh derajat celcius.“Kondisi barudak Wanadri sehat, logistik aman. Penduduk penuh perhatian mengirim ransum dari dapur umum di balai desa. Termasuk tembakau,” tuturnya senang.Pada H+1 penutupan operasi SAR, personel Wanadri bergerak dari titik flying camp ke dasar Kali Preng. Posisi flying camp di ujung jalur batas kebun dan hutan yang ditandai patok Perhutani. Jalan tanah ini biasa dipakai petani mengangkut sayur-mayur.Badawi menjelaskan mereka menggelar “kemah bergerak” di situ, karena bisa diakses motor. Kalau ada hal mendesak, bisa minta bantuan kendaraan segera. Sinyal ponsel dan jaringan pesawat radio (handy talkie) bagus pula.“Saya siaga relay radio, menerima laporan dari tim pencari, dan mengabarkan kepada Basarnas andai ada temuan,” kata anggota Wanadri angkatan Bayu Rawa (1990).Penyusuran Kali PrengGiat SAR Afin dan Idin diikuti anggota muda Wanadri yang baru lulus pendidikan dasar akhir tahun 2025, angkatan Badai Kabut. Salah satunya, Fajar Alfarizi.Ketika dihubungi Kamis (16/7/2026), lajang 20 tahun itu tengah berada di sekretariat Wanadri Perwakilan Jakarta (WPJ), GOR Soemantri Brodjonegoro, Jaksel. Dia baru selesai membuat laporan operasi SAR yang dilakoni bersama saudara Badai Kabut lainnya. Saat di lapangan, mereka beruntung dibersamai seniornya angkatan Topan Rawa (1989), Yemo Lengkong Wakulu (W 638 TORA).“Kami bergerak pukul tujuh. Sengaja lebih pagi, mau memastikan area Kali Preng belum disapu relawan lain. Kami selidiki adakah tanda bekas pencarian sebelumnya. Ternyata clear, kami lanjut ke hulu,” tutur Fajar.Dari flying camp di dekat gubuk Pak Sutar, Fajar dan tujuh rekan Wanadri lainnya mengikuti jalan setapak sejauh 250 meter untuk mencapai dasar kali. Vegetasi sekitarnya pakis andam dan belukar. “Pas mau masuk sungai, baru banyak pepohonan,” ucapnya.Mereka melangkah dengan mantap. Melintasi Curug Tarung yang sedang kering. Lanjut merayapi medan terjal berbatu. Jam makan siang pun tiba. Jarak yang ditempuh sudah setengah kilometer dari titik awal penyusuran.Tiap personel mengeluarkan bekal masing-masing: nasi lauk ayam dan tahu/tempe. Tambahan empat bungkus mi instan yang dimasak memakai air dari aliran sungai. “Tidak lupa menyeduh kopi,” kata Fajar yang juga atlet dayung.Badawi mengatur pergerakan tim hari itu cukup sampai pukul tiga sore. Apa pun hasilnya, wajib balik ke flying camp. “Target kami tidak lagi koordinat di peta, tapi waktu. Perjalanannya jauh, jangan kemalaman saat kembali,” tegasnya.“Botol Kosong” DitemukanPukul satu siang, mereka meneruskan pelacakan. Seratus meter dari lokasi istirahat, ada lorong sungai yang di atasnya bertengger batu sebesar gajah. Terjepit sisi-sisi tebing. Air deras mengalir, walau debitnya kecil. Ini area Curug Telu. Tim Wanadri scrambling melewatinya.Jalur kian menyempit. Rimbun belukar. Sepuluh meter berikutnya, Fajar di posisi terdepan bersama seorang rekan mencium bau menyengat. Keduanya sempat berpikir bangkai ikan. Berusaha mengacuhkan dan terus naik. Sampai di sebuah undakan, mereka terkejut! Dua jasad manusia tergeletak.“Satu tertelungkup, lainnya tersandar ke tebing. Kulit kaki keduanya mengelupas,” tutur Fajar.Celah sempit dan batu besar di atasnya/Dokumentasi WanadriPetugas radio cepat mengabari Badawi. “Botol kosong” – sandi khas Wanadri untuk menyebut survivor wafat – ditemukan pukul 13.45 WIB. “Jangan jauh dari titik penemuan!” perintah Badawi, yang lekas mengontak Basarnas.Survivor tertelungkup teridentifikasi sebagai Idin. Tas sekolah masih tersandang di punggungnya. Sementara Afin mengenakan kaus biru. Keduanya bercelana pendek. “Topi dan sandal mereka ada di situ,” ujar Badawi lantas menyimpulkan kejadian ini murni insiden (jatuh), bukan orang tersasar di gunung. “Kalau pendaki nyasar, biasa ada ceceran barang yang dibawanya.”Di atas titik penemuan survivor, terang Fajar, terlihat bekas perosokan yang membuat belukar tercabut dan berserak di sekitar jenazah. Jarak dari atas curug ke bawah sekitar 25 meter. “Keduanya berusaha menggenggam tanaman liar di permukaan tebing, berharap selamat. Tapi pastinya meluncur cepat dari atas,” analisis Fajar.Tim Silandak MendekatJelang penemuan survivor, tim dari Silandak (base camp pendakian Gunung Bismo sisi selatan) terlihat mendekat dari jalur di tengah hutan. Badawi mengarahkannya ke Curug Telu. Ternyata melewati setapak bekas pembuat arang.“Jalurnya lama tidak diakses. Tertutupi semak. Tiba di curug (sisi atas), mereka menemukan uang kertas lima ribu, yang sepertinya milik survivor. Pas saya dapat info uang itu, eh, tim Wanadri ngabarin survivor terlacak pula. Jadi kaya bersamaan,” ceritanya.Yang menakutkan personel Wanadri, tim Silandak nekad melompati tebing Curug Telu. Selain membahayakan keselamatan mereka, juga membuat longsoran tanah dan batu.“Saya dikontek, diingatkan supaya jangan ada yang turun dari atas. Bisa mencelakai tim di bawah,” cerocos Badawi. “Pakis andam di tepian curug sampai botak, habis. Merosot ke bawah!”Alur Sungai Preng (tanda panah di foto) dilihat dari Desa Krinjing/Dokumentasi WanadriMeninggalkan Titik PenemuanBasarnas dan warga tiba di lokasi jasad Afin dan Idin menjelang magrib. Tim Wanadri dan Silandak sabar menanti bantuan evakuasi. Kedua jenazah dimasukan dalam kantong mayat berwarna kuning dan oranye. Relawan menggotongnya dengan batang kayu yang terikat webing.“Harusnya pakai tandu basket, tapi yang datang kantong jenazah. Ya sudah, daripada menunggu lama lagi,” sahut Badawi.Semua relawan, lanjut dia, meninggalkan titik penemuan survivor pukul setengah enam sore. Bergerak ke hilir, dan tertahan lama di area Curug Tarung akibat medan curam. “Dua jam tim menembus Curug Tarung,” katanya.Pukul 22.00, mereka akhirnya tiba di kampung wisata Sembrani, Desa Krinjing. Telah menunggu ambulans dan tenaga medis. Terkonfirmasi kedua survivor ada yang mengalami patah kaki, tangan, serta luka kepala terbuka.Bersama warga Desa Krinjing setelah proses evakuasi beres/Dokumentasi WanadriBadawi mengungkapkan kawasan selatan Gunung Bismo berhutan lebat. Banyak lembahan dan patahan yang berbahaya. “Belantara selatan Bismo merupakan ‘paru-paru’ Jawa Tengah. Ini sumber oksigen berharga. Jangan sampai dirusak,” tegas lelaki yang senang bertopi koboi itu.Dia mengoreksi pula, jika dalam operasi SAR Afin dan Idin, tidak tepat memakai istilah penyisiran. “Yang betul pelacakan, detection!” ujarnya menyinggung pemberitaan media massa. Karena, tim melacak: mengikuti jalan setapak dan aliran sungai. Sedangkan penyisiran – open maupun close grid – tiap regu berbanjar, bergerak bersama menyapu area sasaran.Pada misi SAR kali ini, Wanadri membawa 13 personel. Berbekal dua rol tali kermantel statis sepanjang 150 meter, dan empat lembar peta rupabumi Indonesia skala 1:25.000 keluaran Badan Informasi Geospasial (BIG). “Peta kami sambung manual, demi melihat topografi utuh pegunungan Bismo,” jelasnya.Pendakian Gunung Bismo (2.365 mdpl) biasa dilakukan dari jalur Sikunang (utara) atau Silandak dan Deroduwur (selatan). Badawi menyebutkan ada pula setapak di Desa Krinjing untuk ke puncak Bismo. Tapi warga tidak membukanya sebagai jalur pendakian.Mendiang Afin dan Idin kerap nanjak ke Bismo lewat setapak di desa mereka. Keduanya bersahabat sampai napas penghabisan, direngkuh belantara gunung yang dicintainya.