Ilustrasi IFG Life. Foto: Melly Meiliani/kumparanPerusahaan pelat merah sektor asuransi dan penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) melakukan penyederhanaan 12 entitas. Hal ini merupakan bagian dari program streamlining yang telah memangkas sekitar 250 entitas BUMN dengan efisiensi biaya mencapai Rp 50 triliun.Kepala BP BUMN yang juga menjabat sebagai COO Danantara, Dony Oskaria, mengatakan perbaikan kualitas pengelolaan investasi menjadi hal yang penting dalam upaya transformasi IFG, bukan hanya soal penyederhanaan struktur perusahaan.Menurut dia, biang kerok dari berbagai persoalan di industri asuransi adalah penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), yang meningkatkan eksposur risiko perusahaan. Hal ini diutarakan Dony saat melakukan pertemuan dengan jajaran Direksi IFG untuk membahas percepatan program tersebut, perkembangan transformasi holding, penguatan tata kelola hingga efisiensi perusahaan asuransi BUMN pada Rabu (22/7).“Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Selama ini banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Inilah yang menyebabkan kita terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ujar Dony dalam keterangannya, Kamis (23/7).COO Danantara yang juga Kepala BP BUMN Dony Oskaria memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi (rakor) terkait kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTODony juga menyoroti ketidakseimbangan portofolio investasi yang dinilai harus segera dibenahi. Menurut dia, pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi dengan kinerja aset investasi, utamanya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan jika tidak segera ditangani.“Sekarang kita menyadari ada ketidakseimbangan dalam portofolio kita. Saya khawatir gap-nya justru semakin besar karena liabilities terus meningkat, sementara ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Ini harus diselesaikan dengan cepat,” jelas Dony.Dalam program ini, IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, juta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat. Tujuannya agar bisa meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN dan mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.