Kontingen Papua Tengah Naik Kapal 6 Hari demi MilkLife Archery Challenge

Wait 5 sec.

Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanTekad dan semangat luar biasa datang dari kontingen panahan Papua Tengah. Mereka rela tidur di lantai kapal beralas tikar dan menempuh perjalanan laut selama hampir sepekan. Hal itu dilakukan demi berlaga di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.Jumlah atlet yang tergabung di kontingen Papua Tengah ada 22 atlet. Namun, atlet yang ikut berangkat naik kapal hanya 13 atlet. Sisanya berangkat menggunakan pesawat.Pelatih Kontingen Papua Tengah, Rizal Hakim, mengatakan bahwa skuadnya berangkat dari Kabupaten Nabire, Papua Tengah; pada 9 Juli 2026. Mereka tiba di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah; pada 15 Juli 2026."Kami berangkat naik kapal dari Nabire. Kemudian dari Nabire menuju ke Wasior-Manokwari-Sorong-Makassar dan Surabaya. Di kapal selama lima hari. Kemudian lanjut dari Surabaya ke Kudus menggunakan jalur darat. Total perjalanan dari Nabire ke Kudus satu minggu," katanya kepada kumparan, Rabu (22/7).Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanRizal menuturkan, anak asuhnya rela menempuh perjalanan sepekan via laut dan darat lantaran berkeinginan untuk tampil di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Mereka ingin mendapatkan pengalaman perdana tampil di Kejurnas."Modal kami semangat untuk berlaga di Kejurnas. Tekad dan semangat anak-anak luar biasa," sambungnya.Bahkan, saat sudah berada di atas kapal mereka tak mendapatkan kasur. Hal itu karena kapal sudah penuh dengan penumpang."Kami naik kapal bayar tiket kebagian jatah no seat karena saat itu kondisi kapal sudah penuh. Jadi, anak-anak tidur di lantai memakai tikar seadanya," terangnya.Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanTak hanya tidur di lantai kapal, mereka juga berhadapan dengan cuaca yang tidak bersahabat. Bahkan beberapa atlet sempat mengalami flu. Persediaan obat-obatan juga dibawa untuk berjaga-jaga.Soal biaya, mereka berangkat dengan uang pribadi. Tak ayal orang tua atlet harus merogoh kocek dalam-dalam demi bisa tiba di Kabupaten Kudus."Biaya satu anak, untuk akomodasi kapal saja pulang pergi itu Rp 2,5 juta. Kalau ditambah biaya makan dan jajan untuk satu anak saja total bisa sampai Rp 10 jutaan," ujarnya.Awalnya, lanjut Rizal, orang tua atlet sempat ragu untuk berangkat ke Kabupaten Kudus. Namun, demi mengantarkan anak meraih prestasi pada akhirnya mereka berangkat.Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Kontingen Papua Tengah"Sewa rumah, akomodasi, konsumsi semua biaya sendiri," ucap Rizal.Rizal memiliki cara tersendiri untuk memacu semangat anak asuhnya. Yakni dengan cara menunjukkan bahwa atlet yang berangkat merupakan atlet terpilih."Saya tekankan ke mereka bahwa mereka merupakan atlet terbaik yang berangkat membawa nama Papua Tengah dan keluarga," jelasnya.Selama berada di kapal, para atlet tetap bersemangat untuk berlatih. Mereka berlatih menarik busur demi menjaga kelenturan otot. Hal inilah yang membuatnya bangga dan terharu pada anak asuhnya.Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Kontingen Papua TengahSesampainya di Kudus kondisi atlet tak sepenuhnya sehat. Beberapa atlet masih sakit batuk dan flu. Namun, setelah tiba di Kota Kretek mereka tetap bersemangat untuk berlatih di lapangan SMA N 2 Bae, Kabupaten Kudus."Mereka antusias untuk tampil. Di ajang Kejurnas ini kami tidak memasang target tinggi. Minimal bisa delapan besar dan hal terpenting anak-anak bisa tampil happy," imbuhnya.Zulkifli, yang juga sebagai pelatih Papua Tengah mengutarakan anak didiknya memang tidur di lantai beralaskan tikar. Satu hal yang selalu ditekankan olehnya yakni harus mandiri dan tidak boleh manja."Tidak semua apa yang diinginkan harus terpenuhi. Misalnya tidak kebagian kamar ya tidur seadanya. Hal ini bagian dari membentuk mental. Saya melihat mental anak-anak sudah siap di Kejurnas ini," ucapnya.Kontingen Papua Tengah yang berjuang di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026. Foto: Kontingen Papua TengahSenada, ia tak membebani atletnya untuk meraih medali di Kejurnas Junior ini. Ia mendorong atletnya untuk tampil lepas mencari pengalaman."Kalau bisa meraih podium alhamdulillah. Hal terpenting mereka mendapatkan pengalaman di Kejurnas," imbuhnya.Reporter: Vega M. Ula