Christopher Welsch Leveroni/PexelsMenonton film di bioskop bukan sekadar menyaksikan alur cerita di layar, melainkan sebuah pengalaman sensorik yang utuh, lengkap dengan layar raksasa dan porsi camilan yang melimpah. Film epik menuntut tampilan layar lebar nan panoramik, dentuman audio yang menggelegar, kotak permen berukuran ekstra besar, serta ember berondong jagung (popcorn) raksasa yang kelezatannya tak pernah sama saat dibuat di rumah.Namun, di balik popularitasnya, kisah popcorn dalam sejarah sinema cukup berliku. Awalnya, camilan ini pernah dicemooh sebagai gangguan murahan yang mengotori bioskop, hingga akhirnya disanjung sebagai juru selamat finansial yang menopang keberlangsungan industri film di masa-masa sulit.‘Popcorn’ sebagai cemilan sejak dulu kalaBerdasarkan bukti arkeologis di Peru sekitar 6.700 tahun lalu, popcorn merupakan salah satu makanan tertua yang masih kita nikmati sebagai camilan hingga hari ini.Bernabé Cobo, seorang misionaris Yesuit di Peru pada awal abad ke-17, mengamati penduduk lokal membuat popcorn dengan cara memanggangnya hingga meletup—lalu menyantapnya sebagai penganan manis yang disebut pisancalla.Pada 1612, para penjelajah Prancis di wilayah Great Lakes, Amerika Utara, menyaksikan suku Iroquois memanaskan biji jagung di dalam pot tanah liat yang diisi pasir panas hingga meletup, lalu mencampurkannya ke dalam sup.Para pemukim di benua Amerika kemudian mengadopsi kebiasaan ini, baik dengan menggunakan keranjang kawat tertutup di atas api unggun, maupun silinder logam tipis terpasang horizontal yang diputar memakai engkol tangan di depan perapian.Populer karena pasar malamPada 1885, Charles Cretors merancang mesin pembuat popcorn otomatis bertenaga uap di Chicago, yang memasak biji jagung menggunakan campuran minyak nabati dan lemak hewani.Ia memamerkan inovasinya tersebut dalam ajang World’s Fair di Chicago tahun 1893. Memasuki dekade 1900-an, Cretors beralih menggunakan tenaga listrik, yang mendorong pergeseran penggunaan mesin ini dari gerobak jalanan ke toko-toko komersial. Mesin popcorn bertenaga uap buatan C. Cretors & Company, difoto sekitar tahun 1905. Wikimedia Commons Popcorn dan kacang sudah lebih dulu populer di arena pasar malam ketika bioskop mulai masuk dalam jajaran hiburan rakyat yang membuat kudapan tersebut turut mengiringi penonton hingga ke dalam ruang pemutaran.Sinema terus berkembang dari sekadar atraksi pasar malam menjadi sebuah destinasi tersendiri pada 1896. Nickelodeon (disebut demikian karena tiket masuknya seharga satu nickel, dan odeon berarti teater dalam bahasa Yunani), atau ‘penny gaffs’ di Inggris, menghadirkan tempat menonton bioskop yang terjangkau.Memasuki dekade 1920-an, para pemilik teater berupaya mengubah citra bioskop menjadi ruang yang lebih anggun layaknya ‘istana’ yang berkarpet dan berinterior mewah seperti tempat hiburan kelas atas.Penonton yang mengunyah popcorn atau kacang dinilai tak sejalan dengan suasana elegan dari ruang-ruang berarsitektur megah tersebut. Malahan, renyahnya suara kunyahan penonton dianggap mengganggu jalannya pemutaran film bisu.Kemewahan yang terjangkauPada 1927, film bersuara pertama, The Jazz Singer, resmi diputar di New York. Kehadiran talkies (film bersuara) kembali menggairahkan industri bioskop, dan suara kunyahan popcorn pun tak lagi begitu mengusik karena tersamarkan oleh suara film.‘Depresi Besar’ (The Great Depression) pada tahun 1930-an membuat banyak barang mewah tak terjangkau bagi sebagian besar orang. Namun, harga tiket bioskop masih relatif terjangkau, dan sebungkus popcorn seharga US$5 sen sukses menarik minat penonton untuk berbondong-bondong ke teater. Awalnya, para pemilik bioskop menyewakan area lobi atau bagian luar gedung kepada para pedagang, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa margin keuntungan dari penjualan popcorn bisa mencapai lebih dari 70%. Popcorn kemudian menjadi alat untuk mendongkrak pendapatan bioskop.Selama Perang Dunia Kedua, pembatasan jatah gula menyebabkan berbagai jenis permen langka atau berharga mahal.Popcorn pun menjadi alternatif yang murah. Tak heran tingkat konsumsinya melonjak sebesar 300%.Cemilan pendamping ‘popcorn’Di berbagai belahan dunia, konsumsi popcorn di bioskop disajikan dalam variasi rasa manis hingga gurih yang kerap mengadaptasi kearifan lokal.Di India, racikan bumbu masala yang kaya rempah menjadi favorit penonton. Sementara di Jepang, popcorn kerap diberi sentuhan rumput laut kaya rasa umami, sedangkan varian karamel mendominasi pasar bioskop di Cina.Meski popcorn jelas menjadi aktor utama, es krim adalah penganan pendamping setia yang melengkapi sajian di bioskop.Pada dekade 1930-an di bioskop-bioskop Australia, gelaran “ice cream matinees” membagikan “wadah” es krim gratis kepada setiap anak yang datang. Selain es krim cup tersebut, Eskimo pies—potongan es krim berlapis cokelat—menjadi kudapan populer yang dijajakan dengan nampan oleh petugas pemandu sembari menyusuri lorong-lorong teater saat jam istirahat. Petugas pemandu Greater Union Theatres, Sydney, difoto pada tahun 1946. Mitchell Library, State Library of New South Wales Es krim cone bersalut cokelat keras mulai debut di Australia pada dekade 1940-an, tetapi baru merambah ke bioskop pada awal 1980-an.Hingga kini, choc top tetap menjadi sajian wajib bagi para pengunjung bioskop di Australia dan Aotearoa Selandia Baru, meski keberadaannya hampir tak dikenal di luar wilayah Australasia.Namun, beberapa sajian lokal tidak sekadar berupa variasi dari makanan favorit yang sudah akrab di lidah.Licorice asin khas Belanda menawarkan perpaduan rasa manis dan gurih yang tak semua orang bisa nikmati. Sementara semut sangrai di Kolombia merupakan hidangan lezat kelas atas saat menonton bioskop.Hormigas culonas (yang secara harfiah diterjemahkan sebagai semut berbokong besar) adalah spesies semut pemotong daun, atta laevigata. Di wilayah Santander, Kolombia, semut ini tergolong hidangan mewah—semacam kaviar khas Kolombia. Kaki dan sayap ratu semut dibuang terlebih dahulu sebelum bagian tubuhnya disangrai hingga menghasilkan penganan tinggi protein bertekstur renyah, menghadirkan sensasi petualangan pada camilan yang tak kalah seru dari film di layar.Namun, baik popcorn maupun semut sangrai, makanan yang kita santap di dalam kegelapan bioskop telah menjadi elemen esensial bagi banyak orang saat menonton film.Aroma lelehan mentega dan renyahnya choc top merupakan pengalaman sensorik yang—sebagaimana layar raksasa bioskop—tak pernah bisa digantikan saat menonton di rumah.Garritt C. Van Dyk menerima dana dari Getty Research Institute.