Kebiasaan Mengabaikan Bullying yang Bisa Memicu Korban Nekat Membalas Dendam

Wait 5 sec.

Ilustrasi bullying. Foto: La Fabbrica Dei Sogni/UnsplashMungkin banyak orang tua yang sering kali menganggap remeh ejekan atau candaan fisik antarsiswa di sekolah. Padahal, tindakan yang sering dilabeli sebagai “Namanya juga anak-anak, udah biasa mereka kaya begitu” itu bisa jadi merupakan awal dari tindakan perundungan (bullying) yang berdampak buruk bagi mental korban.Namun, tidak semua anak memiliki kekuatan mental yang sama dalam menghadapi tekanan. Ketika anak terus-menerus ditekan tanpa mendapatkan perlindungan atau tempat untuk mengadu, ia akan merasa berjuang sendirian di dunia ini. Rasa kecewa yang terus menumpuk tanpa solusi ini lama-lama bisa membawa anak sampai pada batas akhir kesabarannya.Hal ini diperkuat oleh data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), di mana 46,1 % kekerasan anak justru terjadi di lingkungan rumah dan sekolah. Salah satu contoh nyatanya adalah kasus viral seorang siswa di Padang yang nekat meledakkan petasan karena dendam di-bully. Kasus nyata ini membuktikan temuan riset Turner (2024) yang menjelaskan bahwa korban perundungan (bullying) yang merasa diabaikan oleh guru atau orang tua lama-lama bisa nekat menyerang balik demi melindungi diri mereka sendiri.Sebaliknya, ketika orang-orang di sekitar tidak peka, korban akan cenderung memilih untuk memendam perasaannya sendiri hingga akhirnya meledak dalam bentuk tindakan nekat. Nah, berikut adalah beberapa alasan mengapa korban bullying bisa nekat membalas dendam yang perlu disadari oleh lingkungan sekitar:Kehilangan Kesabaran karena Terus DipojokkanSaat anak kehilangan kesabaran karena terus dipojokkan oleh teman-temannya, mereka pasti merasa stres karena tidak punya kekuatan untuk membela diri. Rasa sakit hati yang terus dipendam ini lama-lama akan berubah jadi amarah yang besar. Ketika anak sudah tidak kuat lagi menahan beban itu, amarahnya akan pecah dalam bentuk tindakan nekat menyerang balik sang pelaku demi menghentikan semuanya.Meminta Anak untuk Selalu MengalahIlustrasi anak tertekan. Foto: Lucas Metz/UnsplashSering kali, tindakan meminta anak untuk selalu mengalah dengan kalimat “Udah kamu ngalah aja ya” atau “Jangan dimasukkin ke dalam hati” oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Nasihat untuk selalu sabar ini bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru membuat anak merasa sendirian dan tidak ada yang membela. Karena merasa aturan atau pihak sekolah tidak bisa melindungi mereka, anak-anak ini akhirnya nekat mengambil jalan pintas dengan mencari keadilan sendiri lewat cara yang ekstrem.Menganggap Sepele Aduan AnakSebenarnya, banyak korban bullying yang sudah mencoba mengadu, namun lingkungan sekitar justru menganggap sepele aduan anak tersebut ke guru atau orang tua mereka. Sayangnya, laporan jujur dari anak ini sering kali hanya dianggap sebagai masalah sepele, kenakalan biasa, atau angin lalu. Ketika anak merasa tempat teraman mereka untuk mengadu sudah tertutup, mereka tidak melihat ada pilihan lain selain menyelesaikan masalah itu sendiri dengan kekerasan fisik demi melindungi harga diri mereka.Teror Digital yang Mengikuti Sampai ke RumahIlustrasi teror digital. Foto: Tra Tran/UnsplashZaman sekarang, dampak buruk bullying bisa berupa teror digital yang mengikuti sampai ke rumah dan tidak langsung selesai begitu bel pulang sekolah berbunyi. Adanya grup WhatsApp kelas atau media sosial membuat aksi bullying ini terus berjalan selama 24 jam penuh. Bayangkan, siang hari mereka disindir secara fisik di sekolah, malamnya akun media sosial mereka masih diteror dengan komentar jahat. Tekanan bertubi-tubi tanpa henti inilah yang membuat anak stres berat, hingga mereka nekat melakukan tindakan ekstrem biar teror tersebut bisa berhenti.Nilai Sekolah yang Mendadak AnjlokDampak lain yang jarang disadari orang tua adalah melihat nilai sekolah yang mendadak anjlok akibat lingkungan belajar anak menjadi sangat tidak aman. Bayangkan kalau setiap hari pikiran anak hanya dipenuhi rasa takut ketemu si pelaku bullying, fokus belajar mereka pasti bakal hilang total. Efeknya, nilai tugas atau ujian yang tadinya bagus bisa langsung menurun drastis. Anak juga jadi sering bolos dan bengong di kelas. Kalau sudah begini, jangan langsung cap anak kita malas. Bisa jadi, pikiran mereka sudah terlalu lelah karena setiap hari harus menahan rasa cemas dan stres sendirian di sekolah.Peran Orang Tua dan Sekolah dalam MencegahnyaPentingnya kolaborasi antara peran orang tua dan sekolah dalam mencegahnya menjadi kunci utama agar kasus bullying tidak berakhir fatal. Sebagai orang tua, kita tidak boleh cuek dan menganggap sekolah anak selalu aman-aman saja. Kalau anak mulai menunjukkan perubahan sikap, seperti malas berangkat sekolah, mendadak jadi pendiam, atau gampang marah, segera ajak mereka ngobrol santai dari hati ke hati. Kuncinya, dengarkan dulu semua curhatan mereka sampai tuntas tanpa perlu langsung menceramahi atau menyalahkan anak.Di sisi lain, pihak sekolah juga harus membangun sistem pengaduan yang aman dan responsif. Guru wajib tegas dalam menindak setiap aksi ejekan antarsiswa, sehingga korban merasa dilindungi oleh hukum sekolah dan tidak perlu nekat mencari keadilan sendiri dengan kekerasan.Pada akhirnya, mendengarkan cerita anak dengan tulus adalah langkah awal terbaik untuk meredam segala rasa sakit hati mereka. Kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, tetapi cukup tunjukkan bahwa rumah adalah tempat berlindung paling aman tanpa menghakimi. Mari pelan-pelan kita rangkul anak kita, agar mereka tahu bahwa seberat apa pun masalah di sekolah, mereka selalu punya tempat pulang yang penuh kasih sayang.