Ilustrasi pasangan membaca buku. Foto: Mongta Studio/ShutterstockBagi sebagian besar pasangan, masa awal menjalani hubungan asmara terasa layaknya berada di awan. Hari-hari rasanya ringan, menyenangkan, dan penuh cinta. Periode ini sering kali dikenal sebagai fase bulan madu atau honeymoon phase. Namun sayangnya, fase ini tidak berlangsung selamanya.Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Gita Aulia Nurani, M.Psi, Ph.D, Psikolog, honeymoon phase adalah fase yang menggambarkan periode awal hubungan saat pasangan saling merasakan ketertarikan yang sangat kuat. Antusiasme dalam hubungan sangat tinggi dan emosi positif mendominasi hubungan.“Pada fase ini, pasangan cenderung lebih fokus pada kelebihan satu sama lain dan merasa hubungan yang dijalani sangat menyenangkan,” jelas Gita kepada kumparanWOMAN.Menurut Gita, honeymoon phase terjadi karena di masa awal hubungan percintaan, kita cenderung melihat pasangan lewat “kacamata positif”. Proses idealisasi ini membuat otak lebih mudah memperhatikan sifat-sifat pasangan yang menyenangkan. Sementara itu, kekurangan pasangan justru terabaikan dan dianggap tak terlalu penting.Ilustrasi pasangan bahagia. Foto: ShutterstockSelain itu, citra yang kita bentuk di awal hubungan juga menjadi faktor terciptanya honeymoon phase. Biasanya, baik pasangan maupun diri sendiri akan menampilkan versi terbaik dalam diri untuk memberikan kesan positif terhadap satu sama lain.“Sehingga, interaksi yang terjadi lebih banyak diwarnai pengalaman yang menyenangkan. Akibatnya, muncul persepsi bahwa hubungan berjalan dengan sangat sempurna,” jelas Gita.Sementara itu, dilansir Cleveland Clinic, ketika jatuh cinta, tubuh kita dipenuhi oleh hormon dopamin. Reaksi kimiawi itulah yang membuat kita merasa bahagia, penuh semangat, dan bagai dimabuk cinta.“Ada reaksi kimiawi yang terjadi dalam otak kita, layaknya sistem imbalan. Ini sama seperti hormon bahagia yang kita alami saat kita berolahraga. Tubuh kita secara fisik merespons kehadiran orang tersebut dan membuat kita seakan kehilangan akal, karena kita sangat senang berada di dekat mereka,” ucap psikolog asal Amerika Serikat, Chivonna Childs, PhD.Akankah Fase Bulan Madu Berakhir?Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: shisu_ka/ShutterstockDilansir Brides, fase bulan madu atau honeymoon phase biasanya berlangsung selama enam bulan hingga dua tahun. Meski begitu, tidak ada waktu pasti kapan fase ini akan berakhir.Gita menerangkan, berakhirnya fase ini adalah bagian normal dalam perkembangan hubungan. Seiring berjalannya waktu, otak mulai beradaptasi dengan hal-hal yang sebelumnya terasa baru dan sangat menarik. Euforia yang awalnya dirasakan saat fase bulan madu akhirnya menurun, karena sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.Tak jarang, usai melewati honeymoon phase, hubungan rasanya tidak semesra sebelumnya. Bahkan selepas fase ini, pasangan mungkin akan lebih sering ribut dan menghadapi berbagai permasalahan.“Pasangan mulai menghadapi situasi kehidupan yang lebih nyata, seperti perbedaan kebiasaan, cara berkomunikasi, pengelolaan keuangan, pembagian waktu, hingga cara menyelesaikan konflik. Pada tahap inilah, karakter asli masing-masing mulai terlihat lebih jelas,” papar GIta.Di fase pasca-honeymoon phase, hubungan berubah dari ketertarikan yang didominasi emosi, menjadi hubungan yang membutuhkan komitmen dan kemampuan menyelesaikan masalah bersama.Bagaimana Cara Agar Hubungan Tetap Harmonis?Ilustrasi pasangan mendengarkan musik bersama. Foto: ShutterstockKarena sudah tak lagi didominasi perasaan, hubungan asmara akan mampu bertahan harmonis jika kamu dan pasangan saling berkomitmen. Menurut Gita, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, Ladies.1. Bangun komunikasi terbuka.2. Menyampaikan kebutuhan, keinginan, dan kekecewaan dengan jelas tanpa saling menyalahkan.3. Terima kekurangan pasangan dan sebaliknya.4. Selalu menciptakan pengalaman positif bersama lewat menjalani berbagai aktivitas baru dan menghabiskan waktu berkualitas bersama.5. Selalu mengapresiasi pasangan, bahkan soal hal-hal kecil, supaya menjaga kedekatan emosional.6. Kelola konflik secara sehat dan percaya bahwa perbedaan pendapat bukan tanda hubungan gagal.