Presiden AS Donald Trump menghadiri Konvensi Nasional Partai Republik untuk Pemilu Paruh Waktu di Dallas, Texas, AS, Rabu (9/9/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERSPresiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menegaskan bahwa perang Iran bisa berakhir kapan pun ia menginginkannya. Ia juga bersikeras Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.“Seseorang bertanya kepada saya sebelumnya, ‘Kapan perang di Iran akan berakhir?’ Saya menjawab, ‘Kapan pun saya ingin perang itu berakhir,’” kata Trump dalam kampanye di Lubbock, Texas, dikutip dari CNBC, Kamis (29/10). Menurut dia, perang bisa berakhir sangat cepat, tetapi harus diakhiri “dengan benar”. Trump mengatakan segera memutuskan apakah membuat kesepakatan dengan Iran atau “menghancurkannya sampai tuntas”.Para pengendara mobil melintas di depan papan reklame besar yang menjanjikan pembalasan terhadap Presiden AS Donald Trump di sepanjang Jalan Jomhouri di pusat Teheran, Iran, Senin (27/7/2026). Foto: AFPPopularitas TertekanPernyataan itu muncul saat popularitas Trump mendekati rekor terendah akibat kenaikan biaya energi dan beban hidup, menjelang pemilu sela AS pada 3 November. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Senin (26/10) menunjukkan approval rating terhadap Trump berada di kisaran 32 persen.Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, mengatakan perang ini telah membebani keluarga Amerika rata-rata USD 2.000 atau sekitar Rp 36,4 juta (kurs Rp 18.183/dolar AS). Rinciannya, USD 1.100 dari kenaikan biaya energi, USD 540 dari biaya suku bunga yang naik, dan USD 360 dari peningkatan belanja militer.Asap membubung dari lokasi ledakan yang tidak diketahui dalam cuplikan video yang dirilis Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Rabu (15/7/2026). Foto: Komando Pusat AS/HO/REUTERSBiaya Perang Tembus USD 47 MiliarBerdasarkan perkiraan Komando Pusat AS pada 16 Oktober, seperti dilaporkan The Hill, biaya perang Iran telah membengkak menjadi USD 47 miliar atau sekitar Rp 854,6 triliun, sekitar USD 3 miliar lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.Sebagian besar di antaranya sekitar USD 29 miliar, berasal dari penggantian amunisi. Konflik ini disebut mengakibatkan “kekurangan” persediaan amunisi AS, meski pada 3 September Trump mengklaim AS memiliki amunisi “hampir tidak terbatas”.Angka itu belum termasuk kerusakan akibat serangan Iran. Laporan inspektur jenderal utama kepada Kongres memperkirakan kerusakan mencapai USD 184 juta atau sekitar Rp 3,35 triliun, mencakup fasilitas AS di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.Walau demikian, konflik belum menunjukkan tanda mereda. Awal bulan ini AS mengevakuasi diplomatnya dari Arab Saudi. The New York Times melaporkan militer AS dan Israel justru telah menyusun rencana terperinci untuk serangan singkat tetapi intensif terhadap Iran setelah pemilu sela.Sebuah reklame besar berbentuk penjara dengan seseorang yang menyerupai Donald Trump terlihat di Teheran, Iran, Rabu (21/10/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS