Pedagang Mobil Listrik Bekas Kian Selektif, Incar Unit Usia Tak Lebih 3 Tahun

Wait 5 sec.

Wuling Binguo dan Air EV di Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanKondisi baterai menjadi salah satu pertimbangan pedagang saat membeli mobil listrik (EV) bekas. Untuk menekan risiko kerusakan komponen utama tersebut, sejumlah aspek perlu diperhatikan, termasuk usia kendaraan dan sisa masa garansi baterai.Felix, salah satu pedagang mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat, mengatakan kecenderungannya mengambil mobil listrik bekas merek tertentu yang usianya tidak lebih dari tiga tahun.“Saya biasanya ngambil umurnya maksimal tiga tahun dari sekarang. Garansi baterai kan kalau dibalik nama 8 tahun. Misalnya, konsumen beli tahun ketiga, berarti masih ada 5 tahun lagi, mereka nggak khawatir," ujar Felix saat ditemui kumparan, belum lama ini.SGMW Motor meresmikan fasilitas perakitan baterai mobil listrik di pabrik Wuling Motors Cikarang, Jawa Barat. Foto: Wuling MotorsMenurutnya, sisa garansi baterai menjadi salah satu pertimbangan penting dalam membeli unit EV bekas. Garansi yang masih berlaku dapat memberikan perlindungan tambahan bagi pemilik kendaraan apabila terjadi masalah pada baterai sesuai ketentuan garansi.Kondisi baterai juga kini menjadi perhatian utama konsumen saat mencari mobil setrum bekas. Felix mengatakan mayoritas konsumen masih memiliki kekhawatiran terhadap kesehatan baterai.Ia menjelaskan, kondisi battery health tidak bisa diketahui hanya melalui pemindaian menggunakan alat pemindai biasa. Felix selalu memeriksa unit EV bekas yang diboyongnya ke diler terkait untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal."Kalau mau jual battery health harus di atas 95 persen. Di bawah itu tetap kami terima, tapi ya penyesuaian harga lagi dilihat dari jumlah odometer dan kondisi fisik mobilnya juga. Cukup banyak konsumen yang kritis berapa kilometernya mobil listrik," lanjutnya.Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanDari segi penjualan, Felix bilang terjadi peningkatan permintaan EV bekas dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumen lebih banyak membeli EV sebagai mobil kedua. Ada pula konsumen yang sebelumnya sudah memiliki mobil setrum, tetapi ingin membeli EV lainnya. Ia menuturkan, salah satu faktornya adalah mobil listrik generasi awal masih belum dibekali kemampuan pengisian daya cepat (DC Fast Charging)."Mobil listrik sudah mulai diminati di pasar mobil bekas, terutama mobil-mobil perkotaan ya seperti Wuling Binguo dan Air ev. Dari tahun kemarin sudah mulai banyak, pokoknya imbas BBM naik orang-orang adaptasi ke EV, memang secara cost dia lebih murah juga ya," tandasnya.