Pasar Saham China Kehilangan USD 2,4 T Sejak Mei 2026, Ini Penyebabnya

Wait 5 sec.

Ilustrasi saham turun. Foto: Golden Dayz/ShutterstockPasar saham China mencatat triliunan dolar AS telah hilang dari mereka dalam beberapa bulan terakhir. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) seiring persaingan antara China dengan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyebabnya.Dikutip dari The Guardian pada Kamis (29/10), nilai yang hilang dari pasar saham China mencapai USD 2,4 triliun sejak Mei 2026. Indeks STAR 50, yang menjadi indeks perusahaan teknologi dan inovasi di Bursa Efek Shanghai anjlok 40 persen sejak Juni. Indeks lain yang mencakup perusahaan-perusahaan besar juga turun sekitar 20 persen dalam periode yang sama.Menurut Goldman Sachs, saham-saham AI menyumbang lebih dari 40 persen dari total nilai pasar saham di China dan Hong Kong. Dengan begitu, penurunan nilai saham di sektor tersebut memang menimbulkan dampak berantai terhadap keseluruhan pasar domestik.Meski Pemerintah China telah berupaya keras mendorong industri teknologi China khususnya sektor yang memanfaatkan AI, perekonomian domestik belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menopang pasar saham.Selama ini, Pemerintah China telah menggelontorkan investasi besar ke sektor AI termasuk melalui dana investasi AI yang didukung negara senilai 60 miliar yuan. Dana tersebut mulai disalurkan pembiayaan kepada pengembang AI domestik pada bulan ini.Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/ShutterstockNamun, konsumen China masih enggan membelanjakan uang mereka di berbagai sektor ekonomi, termasuk teknologi. Kondisi ini membuat banyak perusahaan teknologi kesulitan mencetak keuntungan.Minimnya keuntungan itu menjadi salah satu penyebab aksi jual saham. Di samping itu, faktor lainnya adalah ancaman negara-negara Barat terutama AS yang berpotensi memperluas larangan terhadap teknologi asal China.“Margin keuntungan tahun ini tidak sebaik yang diharapkan. AS juga menaikkan suku bunga. Sementara itu, permintaan domestik China sangat lemah,” kata Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group.Wang juga mengatakan terdapat kecemasan yang meluas di kalangan perusahaan teknologi mengenai apakah model bisnis yang didukung negara dapat berjalan, di tengah lemahnya permintaan konsumen.Dari sisi aturan, saat ini AS telah melarang robot humanoid asal China dengan alasan risiko keamanan nasional. Di samping itu, AS juga diperkirakan sedang mempertimbangkan larangan penggunaan komponen China di pusat data. China juga bergantung pada ekspor. Sehingga, pembatasan di AS berdampak terhadap perusahaan-perusahaan domestik China yang kesulitan menjual produk mereka dalam jumlah memadai di pasar dalam negeri.Di tengah persaingan dengan AS untuk unggul dalam pengembangan AI, China memang semakin mengandalkan robotika atau embodied AI sebagai kunci penerapan teknologi tersebut secara luas di masyarakat. Robotika juga dipandang sebagai solusi untuk mengatasi persoalan demografi China, seperti populasi yang menua dan menyusutnya jumlah tenaga kerja.Namun, permintaan terhadap robotika saat ini lebih banyak berasal dari lembaga pemerintah dan institusi penelitian, bukan konsumen sehari-hari. Produk-produk tersebut masih terlalu mahal dan belum cukup praktis untuk digunakan di rumah. Robot humanoid dan anjing robot misalnya. Jenis itu memang populer di industri hiburan, tetapi belum memberikan manfaat praktis untuk penggunaan rumah tangga.Belum Ada Perusahaan AI Besar China yang Bakal IPO dalam Waktu DekatPada Senin lalu, perusahaan AI asal AS, Anthropic yang mengembangkan chatbot Claude, mengajukan dokumen persiapan untuk penawaran umum perdana saham (IPO). IPO tersebut berpotensi menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah pasar saham. Perusahaan itu diperkirakan dapat menghimpun dana hingga USD 100 miliar.Di sisi lain, China belum memiliki perusahaan dengan rencana IPO sebesar itu dalam waktu dekat. Selain itu, belum ada stimulus yang diperkirakan akan diumumkan selama periode politik yang sensitif di China.