Power Plant PT Vale Indonesia (INCO) di Sorowako. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanPT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan laba bersih tahun berjalan hingga 30 September 2026 mencapai USD 147 juta. Selama kuartal III 2026, laba bersih yang diraup perusahaan sebesar USD 43 juta.Kendati harga nikel lebih rendah pada kuartal III 2026, perusahaan berhasil membukukan EBITDA sebesar USD 101 juta, didukung oleh kinerja operasional yang kuat serta peningkatan volume produksi dan serta aktivitas penjualan bijih yang lebih tinggi.Hingga akhir September 2026, EBITDA tahun berjalan mencapai USD 297 juta, meningkat signifikan dibandingkan USD 166 juta pada sembilan bulan pertama tahun 2025."Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar USD 43 juta pada triwulan ini, sehingga laba bersih tahun berjalan mencapai USD 147 juta. Capaian tersebut hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan USD 52 juta yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu," kata manajemen Vale Indonesia dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/10).Selama periode tersebut, perseroan merealisasikan belanja modal sekitar USD 95 juta untuk mendukung keberlangsungan operasi, sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis. Per 30 September 2026, kas dan setara kas tercatat sebesar USD 247 juta, meningkat signifikan dari USD 111 juta pada akhir Juni 2026.Untuk mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan serta inisiatif pertumbuhan jangka panjang, Vale Indonesia melakukan penarikan dana sebesar USD 175 juta dari fasilitas pinjaman yang tersedia selama kuartal III 2026.Sebuah dump truck mengangkut material tambang di tambang nikel PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. . Foto: Shutter StockPenjualan Nikel NaikVale Indonesia membukukan pendapatan sebesar USD 353 juta pada kuartal III 2026, meningkat dari USD 290 juta pada kuartal sebelumnya. Secara year-to-date (ytd), pendapatan perseroan mencapai USD 896 juta, meningkat 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Kenaikan ini terutama didukung volume pengiriman nikel matte yang lebih tinggi, serta kontribusi yang terus bertumbuh dari penjualan bijih nikel di operasi Bahodopi dan Pomalaa.Produksi nikel matte perusahaan mencapai 18.341 metrik ton pada kuartal III 2026. Peningkatan ketersediaan peralatan dan operasi pabrik yang stabil mendukung kenaikan produksi dibandingkan kuartal sebelumnya.Penjualan bijih nikel turut memperluas sumber pendapatan perseroan. Pada periode tersebut, Blok Bahodopi mencatat penjualan sebesar 415.000 wet metric tons (wmt), dibandingkan 1.074.665 wmt pada kuartal II 2026, sehingga total penjualan hingga akhir September 2026 mencapai 2.375.759 wmt.Sementara itu, Blok Pomalaa membukukan penjualan sebesar 1.314.358 wmt pada kuartal III 2026, meningkat dari 495.601 wmt pada kuartal sebelumnya, sehingga total penjualan secara year-to-date mencapai 1.898.943 wmt. Secara keseluruhan, penjualan bijih nikel dari kedua blok tersebut mencapai sekitar 1,73 juta wmt pada kuartal III 2026.Adapun pengiriman nikel matte perusahaan meningkat menjadi 20.158 ton pada kuartal III 2026, naik dibandingkan 13.932 ton pada kuartal sebelumnya, sehingga membantu mengimbangi kondisi harga nikel yang masih menghadapi tantangan.Perusahaan mencatat rata-rata harga realisasi nikel matte sebesar USD 14.053 per ton, menurun cukup signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai USD 14.765 per ton.Ilustrasi Tambang Nikel Indonesia Foto: Masmikha/ShutterstockBiaya Energi NaikDari sisi biaya, biaya tunai penjualan (unit cash cost of sales) nikel matte meningkat secara moderat menjadi USD 10.404 per ton pada dibandingkan USD 10.005 per ton pada kuartal sebelumnya.Perusahaan juga menyebutkan, konsumsi energi meningkat pada kuartal III 2026 sejalan dengan tingginya aktivitas operasional di area penambangan dan pengolahan. Konsumsi MFO dan batu bara masing-masing meningkat sebesar 6 persen dan 12 persen, sementara kedua komoditas tersebut juga mengalami kenaikan harga rata-rata dibandingkan triwulan sebelumnya."Di sisi lain, biaya diesel relatif stabil sehingga membantu mengimbangi peningkatan tingkat konsumsi. Secara keseluruhan, kenaikan biaya energi pada periode ini mencerminkan intensitas aktivitas operasional yang lebih tinggi sepanjang triwulan serta pergerakan harga pasar yang lebih tinggi untuk komoditas energi utama," tutup manajemen.