• Ledakan ekonomi tambang nikel menjebak Halmahera Tengah dalam ketimpangan dan kerusakan alam.• Perikanan berpotensi memulihkan perekonomian warga dan memberdayakan perempuan.• Kearifan lokal ‘fagogoru’ menjadi fondasi untuk menggenjot potensi ekonomi lokal.Halmahera Tengah dahulu merupakan daerah dengan perekonomian berbasis warga yang memanfaatkan keanekaragaman hayati dan berkah alam yang berlimpah. Tapi kini tradisi tersebut mungkin akan tergantikan.Di tengah hutan dan rumah-rumah penduduk, bangunan-bangunan besar industri tambang nikel mengerogoti tanah pertanian dan perkebunan masyarakat setempat. Udara kotor dan air tak layak minum membuat tanah setempat sulit ditanami dan bercampur logam berat berkadar tinggi.Apakah masih ada harapan bagi warga Halmahera? Riset terbaru kami menguraikan jawabannya: Perikanan dari laut berpeluang menjadi sandaran ekonomi potensial bagi warga—meski peluangnya tak lagi lebar terbuka.Petaka enclave economy di HalmaheraStudi kami mendapati industri nikel memerangkap Halmahera dalam enclave economy (ekonomi kantong). Artinya, ada sumber perekonomian baru yang bertumbuh pesat, tetapi tidak sepenuhnya memberi manfaat warga sekitar. Pada saat yang bersamaan, sektor andalan penduduk setempat seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan, justru merosot signifikan hanya tersisa 2,1% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Halmahera Tengah tahun 2026 dari 25,46% sedekade sebelumnya. Gambar 1: Struktur Perekonomian Kabupaten Halmahera Tengah. Sumber: BPS/Diolah tim Article 33 Indonesia. (Author provided) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) boleh saja tumbuh ribuan persen. Tapi angka kemiskinan Halmahera Tengah tetap tinggi dan berada di atas rata-rata Provinsi Maluku Utara, yakni menyentuh 11,44% pada tahun 2023. Selain itu, sejak boom industri nikel domestik—khususnya semenjak Kawasan Industri Teluk Weda beroperasi, ketimpangan pendapatan justru kian melebar. Rasio Gini (ketimpangan) di Halmahera Tengah terus meningkat, yakni 0,270 sejak tahun 2021 menjadi 0,331 pada tahun 2025 (Gambar 2). Ekonomi Halmahera Tengah yang kini amat bergantung pada sektor pertambangan juga tercermin dari indeks Herfindahl-Hirschman (HHI) di Halmahera Tengah yang mencapai 9,044 (Tahun 2020). Skor tersebut menandai rentannya ketahanan ekonomi daerah ini yang akan gonjang apabila komoditas nikel dan produk turunannya jatuh di pasar dunia. Baca juga: Pasukan Cokaiba: Kisah warga Sagea mengubah simbol maulid jadi aksi menolak tambang Perikanan sebagai benteng terakhirKetika daratan yang dulunya digunakan untuk pertanian dan perkebunan mulai terkikis oleh industri nikel, Laut Halmahera Tengah adalah satu-satunya benteng terakhir untuk ekonomi warga yang tak bekerja di tambang.Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan utopis. Perikanan memang tak terpisahkan bagi penduduk Halmahera Tengah merujuk luas wilayah lautannya sebesar 73%. Mereka terbiasa bergotong royong untuk hidup dari laut berdasarkan nilai setempat bernama Fagogoru. Dalam bahasa Patani, fa berarti saling, sedangkan gogoru berarti kasih tulus tanpa pamrih. Hal ini tercermin pada penangkapan ikan berkelompok dan pengelolaan sumber daya laut secara kolektif.Apalagi Halmahera Tengah berada di perairan strategis: Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara (WPPN) 715 yang memiliki julukan Lumbung Ikan Nasional. Wilayah ini kaya akan tuna sirip kuning, cakalang, dan ikan pelagis bernilai jual tinggi lainnya.Tak perlu juga kita menengok pasar ekspor untuk mengembangkan perikanan warga. Keberadaan kawasan industri nikel dengan lebih dari 60 ribu tenaga kerja menciptakan kebutuhan protein yang masif dan stabil di daerah tersebut. Pekerja di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah. (IWIP) Permintaan ikan yang dari kawasan industri tersebut sangat tinggi. Sayang, saat ini mayoritas pasokannya (63,75%) masih didatangkan dari luar Maluku Utara karena hasil tangkapan dan rantai dingin lokal belum memadai.Selain perikanan tangkap, industri turunan lainnya seperti pengolahan menjadi abon juga menjanjikan—terutama untuk memberdayakan perempuan. Usaha rumahan ini banyak terdapat di pesisir Halmahera Tengah dan digerakkan oleh perempuan. Oleh karena itulah kami menganggap diversifikasi ke sektor perikanan menjadi agenda krusial untuk menjadi “sabuk pengaman”. Diversifikasi juga bertujuan untuk menghidupkan ekonomi berbasis warga Halmahera tengah sebelum cadangan nikel benar-benar habis.Tantangan berbagai sisiPemerintah setempat sebenarnya menyadari pentingnya mengembangkan sektor perikanan berbasiskan nilai Halmahera Tengah. Namun, niatan ini dihadapkan beragam tantangan. Baca juga: Nelayan kecil masih terpinggirkan, pengelolaan laut harus diperbaiki demi mendukung ekonomi biru Aral pertama datang dari tercemarnya pesisir pantai dan teluk yang menyusutkan populasi ikan. Studi menemukan ikan-ikan di perairan sekitar Teluk Weda memiliki konsentrasi logam berat yang tinggi sehingga tak aman dikonsumsi.Ramainya lalu lintas kapal pengangkut hasil pengolahan tambang juga memperparah situasi. Studi menemukan frekuensi lalu lintas kapal tongkang industri di Teluk Weda mencapai sekitar 718 kali trip per tahun.Akibatnya, warga tak lagi bisa menggunakan pajeko, perahu kayu tradisional Halmahera khas nelayan Teluk Weda, untuk melaut sedekat dulu. Nelayan harus melaut lebih dari 10 mil (sekitar 18 km) karena ikan-ikan dekat pesisir sudah langka. Dalam sebuah perbincangan di Desa Sagea, seorang nelayan mengaku area tangkapan ikannya sudah jadi jalur lalu lintas padat kapal tongkang hingga merusak rumpon (keramba bambu) miliknya. Tantangan lainnya datang dari aspek demografi. Jumlah penduduk Halmahera Tengah melonjak dari 56.802 jiwa pada 2020 menjadi 113.740 jiwa pada 2026, terutama karena pendatang. Ironisnya, Bank Indonesia mencatat sekitar 70% generasi muda lebih memilih bekerja di tambang daripada meneruskan usaha orang tua mereka. Rumah tangga nelayan produktif pun berpotensi menyusut karena mencari ikan semakin sulit. Baca juga: Dari potensi cuan hingga jam kerja fleksibel: 5 keuntungan menjadi nelayan Pelaut rindu melautDi balik tantangan ini, sebenarnya warga Halmahera Tengah pun rindu dengan aktivitas menebar jala. Lokakarya yang pernah kami helat pada Mei 2026 mencatatkan cerita yang jarang terekam: “sebagian nelayan sempat bekerja di perusahaan, lalu kembali melaut karena merasa lebih nyaman dan cocok dengan keahlian yang diwariskan nenek moyangnya”.Aspirasi ini bukanlah cerita kecil. Ia bisa menandai potensi perikanan di Halmahera masih ada di benak warga.Potensi tersebut bisa kita wujudkan, selama pemerintah dan semua pihak yang terkait bisa menjaga kelayakan ruang hidup warga dan mendahulukan keterlibatan mereka dalam pengelolaannya.Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab dan The Conversation Indonesia.Indah Cahyaning Sari tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.