Rekayasa Desain Awal Proyek Abadi Masela Rampung Lebih Cepat dari Target

Wait 5 sec.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto menghadiri ruang rapat Komisi XII DPR, Rabu (12/11/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanKonsorsium proyek LNG Abadi Masela resmi merampungkan tahap rekayasa desain awal atau Front-End Engineering Design (FEED) tiga bulan lebih cepat dari target semula pada akhir 2026.Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan dengan selesainya tahap FEED pada Oktober 2026, target keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) diproyeksikan dapat diraih pada akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2027."Alhamdulillah selesai lebih cepat tiga bulan, Oktober rampung. Harapannya FID bisa segera tercapai akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2027," ujar Djoko dalam sambutannya, Selasa, (27/10).Pengerjaan FEED Blok Masela melibatkan konsorsium mitra teknis global dan nasional, di antaranya Saipem, Tripatra, McDermott, Technip, JGC, TEN, KBR Indonesia, PT Adhi Karya, Samsung E&A, dan Worley.Lingkup pekerjaan FEED mencakup empat komponen utama yaitu Subsea, Umbilical, Riser & Flowline (SURF), Gas Export Pipeline (GEP), Floating Production, Storage, and Offloading (FPSO), serta Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG).Djoko menambahkan, kualitas FEED diperkuat melalui proses Independent Design Review yang melibatkan lebih dari 200 profesor dan doktor dari Universitas Pattimura, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung.Proyek LNG Abadi Masela merupakan proyek gas terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar USD 22 miliar dan target kapasitas produksi 1.380 MMSCFD. Komersialisasi gas mencakup LNG sebesar 9,5 MTPA, gas pipa domestik 100 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari.Pemerintah juga telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) Blok Masela untuk alokasi domestik bersama PT PLN (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), serta alokasi ekspor LNG dengan BP Singapura dan Shell Singapura.Dari sisi target operasional, Djoko mengutip arahan Presiden agar proyek gas Abadi dapat mulai berproduksi paling lambat sebelum akhir 2030.Sementara itu, Direktur Utama Inpex Masela Kenji Hasegawa menyampaikan apresiasi kepada mitra konsorsium, Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petronas Masela. Setelah tahap FEED, proyek akan memasuki fase Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) menuju FID."Inpex berkomitmen bekerja sama secara erat dengan pemerintah, mitra usaha patungan, dan kontraktor untuk mengembangkan proyek ini secara aman dan bertanggung jawab," tutur Kenji.